Rasa Kekeluargaan yang Tinggi di RI Dorong Penyebaran Virus Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito. Foto: BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito. Foto: BNPB

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengakui bahwa salah satu faktor tingginya penyebaran virus corona di Indonesia karena aspek sosial budaya.

Artinya, aspek tersebut menjelaskan ciri khas yang dimiliki masyarakat Indonesia untuk saling berkunjung satu dengan lainnya.

Apalagi jika memiliki hubungan dekat baik keluarga atau kerabat dekat. Sementara, tentu saja hal itu berlawanan dengan upaya pencegahan penyebaran virus corona.

"Memang di Indonesia ini memiliki budaya yang beragam dan rasa kekeluargaan yang tinggi, dan itu ditunjukkan oleh data tersebut. Sehingga kondisi penularan salah satunya dikontribusikan dari aspek sosial budaya yang kita miliki," kata Wiku dalam konferensi persnya yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (18/8).

Bahkan, untuk di DKI Jakarta, Wiku juga merinci ada faktor lainnya yang menjadi klaster penyebaran seperti di perkantoran hingga rumah-rumah ibadah.

"Tapi perlu juga diketahui bahwa beberapa daerah tertentu seperti DKI Jakarta memiliki data tentang klaster yang ada, baik klaster terkait komunitas. Klaster perkantoran, pasar, dan rumah ibadah," ujarnya.

Petugas membawa peti jenazah pasien virus corona untuk dimakamkan di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Untuk itu, Wiku kembali mengingatkan agar tetap membatasi kegiatan di luar rumah. Apalagi, jika ada kegiatan yang berpotensi menimbulkan klaster penyebaran COVID-19. Dia lantas menekankan hal itu untuk semua daerah khususnya di DKI Jakarta.

"Dan tentunya ini jadi perhatian bagi semua pihak, terutama DKI Jakarta karena sudah tersedia data itu. Mohon batasi aktivitasnya yang menimbulkan klaster tersebut," jelasnya.

"Karena zonasi dan risiko yang tinggi di DKI adalah kontribusi dari perilaku warganya. Dengan perbaikan perilaku maka kondisinya lebih baik," pungkasnya.