Rekam Kasus Pembunuhan Kim Jong Nam: Sejauh Mana Terkuak?

Polis Diraja Malaysia bekerja sama dengan Interpol dan kepolisian negara-negara Asia untuk membongkar kasus pembunuhan Kim Jong Nam --itu jika terbongkar. Pernyataan itu disampaikan Wakil Inspektur Jenderal Polisi Malaysia, Tan Sri Noor Rashid Ibrahim, hari ini, Minggu (19/2), seperti dilansir Reuters.
Hingga kini, pembunuhan terhadap kakak tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tersebut masih berselimut tebal kabut misteri. Meski sedikit demi sedikit identitas para pelaku terkuak, itu hanya lapisan permukaan.
Mereka yang tertangkap, Siti Aisyah asal Indonesia dan Doan Thi Huong asal Vietnam, bahkan kemungkinan tak tahu banyak. Kedua perempuan itu diduga eksekutor yang direkrut tanpa diberi tahu diberi tahu tugas mereka bakal menyebabkan kematian.
Motif dan kelompok (atau jaringan mata-mata) di balik pembunuhan putra sulung Kim Jong Il itu sama sekali gelap --setidaknya bagi publik.
Jadi, sejauh ini, apa saja yang sudah kita ketahui tentang kasus pembunuhan Kim Jong Nam --yang masih jauh dari terungkap?
Empat lelaki Korea Utara yang disangka terlibat sudah kabur dari Malaysia

Mereka adalah Rhi Ji Hyon (33 tahun), Hong Song Hak (34 tahun), O Jong Gil (55 tahun), dan Ri Jae Nam (57 tahun).
Keempatnya terekam kamera CCTV sedang berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) 2 bersama Siti Aisyah dan Doan Thi Huong, sehari sebelum pembunuhan terjadi, Minggu (12/2), dan pada hari Kim Jong Nam terbunuh, Senin (13/2).
Enam orang itu, pada hari H pembunuhan, terpantau kamera CCTV sedang bercanda. Mereka bermain dengan alat semprotan dan saling semprot sambil berjalan di bandara.
Sesaat setelah Kim Jong Nam tewas, masih pada hari yang sama, 4 pria Korut itu kabur meninggalkan Malaysia.
Dari Malaysia, 4 lelaki Korut tersebut singgah di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Indonesia, untuk transit sebelum lanjut terbang ke Dubai dengan Emirates

Senin malam (13/2), petang setelah Kim Jong Nam terbunuh, 4 pria Korut yang kabur dari Malaysia transit di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Indonesia.
Mereka menumpang pesawat yang sama, Emirates, dari Cengkareng menuju Dubai, Uni Emirat Arab.
Namun sesungguhnya tujuan mereka bukan Dubai. Dari Dubai, mereka lanjut terbang ke Vladivostok, Rusia, sebelum akhirnya terbang lagi ke Pyongyang, Korea Utara.
Dengan kata lain, menurut laporan The Star, mereka mengambil jalur memutar menuju negara mereka, Korut, untuk mengecoh aparat.
Satu di antara mereka, O Jong Gil, sempat transit di Bandara Soekarno-Hatta sebulan sebelumnya, Kamis 19 Januari, sebelum Kim Jong Nam terbunuh. Ia terbang menuju Bangkok, Thailand, dengan Thai Airways.
Empat lelaki Korut itu memasuki Malaysia secara terpisah dalam rentang waktu sepekan sebelum Kim Jong Nam terbunuh
Hong Song Soc (34 tahun) tiba di Malaysia paling awal, 31 Januari 2017. Keesokannya, 1 Februari, menyusul Ri Jae Nam (57 tahun) tiba.
Tiga hari kemudian, 4 Februari, Rhi Ji Hyon (33 tahun) masuk Malaysia. Tiga hari lagi setelahnya, 7 Februari, giliran O Jong Gil (55 tahun) menjejakkan kaki di Malaysia.
Keempatnya masuk ke Malaysia dengan paspor biasa, bukan paspor diplomat.
Satu lelaki Korut yang ditangkap ialah ahli kimia asal Pyongyang di Malaysia

Ri Jong Chol, warga negara Korea Utara, ialah orang keempat yang ditangkap Polis Diraja Malaysia dalam kasus pembunuhan Kim Jong Nam, setelah sebelumnya Siti Aisyah, Doan Thi Huong, dan Muhammad Farid Jalaluddin --kekasih Siti Aisyah yang warga Malaysia-- telah lebih dulu ditangkap.
Jong Chol ditangkap Jumat malam (17/2) di sebuah kondominium di Jalan Kuchai Lama, Kuala Lumpur. Ia orang Korea Utara pertama yang ditangkap dalam kasus ini, namun bukan satu di antara 4 pria Korut yang terlihat di bandara bersama Siti Aisyah dan Thi Huong saat Kim Jong Nam terbunuh.
Ri Jong Chol adalah pria 46 tahun asal Pyongyang lulusan ilmu medis dan sains universitas di Korut yang kini bekerja di Malaysia. Ia lulus kuliah tahun 2000, kemudian 10 tahun kemudian, 2010-2011, terlibat riset di lembaga penelitian di Kolkata, India.
Menurut sumber Polis Diraja Malaysia kepada The Star, Jong Chol sempat kembali ke Pyongyang sebelum masuk ke Malaysia untuk bekerja di sebuah perusahaan teknologi.
Jong Chol disebut sebagai ahli kimia. Masih ditelusuri apakah keahliannya itu memiliki kaitan dengan dugaan terbunuhnya Kim Jong Nam oleh cairan racun risin yang disemprotkan oleh Siti Aisyah ke wajahnya atau tidak. (Baca: )
Siti Aisyah dan Doan Thi Huong mencuci tangan setelah menyemprot dan membekap Kim Jong Nam di bandara

Berdasarkan olah tempat kejadian perkara di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2, seperti dilansir China Press, Siti Aisyah (25 tahun) dan Doan Thi Huong (28 tahun) mencuci tangan dan wajah mereka usai menyemprotkan cairan yang diduga racun kepada Kim Jong Nam.
Sebelumnya, dikutip dari yidianzixun.com, Siti Aisyah dan Thi Huong mengaku tidak tahu perbuatan mereka menyebabkan kematian. Menurut mereka, mereka mengira sedang terlibat syuting video reality show lelucon pendek.
Siti Aisyah terakhir kali menyambangi keluarganya di Serang, Banten, Indonesia, bulan lalu, Januari. Sementara Thi Huong, sejak 10 tahun lalu meninggalkan rumahnya di Vietnam ketika ia masih berusia 18 tahun, jarang kembali ke rumah.
Siti Aisyah masuk ke Malaysia 11 hari sebelum Kim Jong Nam terbunuh

Berdasarkan rilis terbaru Polis Diraja Malaysia, Siti Aisyah tiba di Malaysia pada Kamis, 2 Februari 2017, atau 11 hari sebelum Kim Jong Nam terbunuh.
Ia masuk ke Malaysia via Batam. Pekerjaan Siti, menurut Wakil Inspektur Jenderal Polisi Malaysia Tan Sri Noor Rashid Ibrahim, ialah terapis spa.
Selain fakta bahwa Siti Aisyah menyemprotkan cairan ke wajah Jong Nam, Kepolisian Malaysia belum memastikan apa sesungguhnya peran Siti dalam kasus ini. (Baca > )
Informasi terus berkembang setiap saat dari hasil penyelidikan, dan karenanya, peran masing-masing orang yang terlibat masih terlalu dini untuk dipastikan.

Kim Jong Nam sendiri bukannya tak tahu jadi target pembunuhan. Menurut sumber media Inggris The Guardian, badan intelijen Korea Selatan dalam laporannya kepada parlemen mereka mengatakan, Jong Nam telah mengirim surat pengampunan nyawa kepada adiknya, penguasa Korea Utara Kim Jong Un.
Jong Nam saat itu terusir dari Korea Utara karena sikapnya yang kerap menentang keditatoran rezim Kim --keluarga besarnya. (Baca: )
“Kami tidak punya tempat pergi, tempat sembunyi. Kami sadar satu-satunya cara lolos adalah dengan bunuh diri,” kata Jong Nam dalam surat kepada Jong Un.

Anggota parlemen Korsel, Kim Byung Kee, memperoleh informasi intelijen bahwa Kim Jong Un telah mengeluarkan perintah agar sang kakak, Kim Jong Nam, dibunuh.
“Saya benci dia. Singkirkan dia.”
Pemerintah Korsel yakin betul rezim kediktatoran Korut berada di balik kasus pembunuhan yang terjadi di Malaysia tersebut.
“Kami yakin rezim Korea Utara di balik insiden itu, mengingat lima orang tersangka (pria) adalah warga Korea Utara,” kata Juru Bicara Kementerian Persatuan Korea, Jeong Joon Hee, seperti dilansir Reuters (Minggu 19/2).
Kasus yang menyebabkan ketegangan hubungan antara Malaysia dan Korea Utara ini belum membuat Malaysia menyerah. Mereka berniat memburu dan menangkap keempat tersangka warga Korut yang telah kabur --dan mungkin telah aman di negara asal mereka-- lewat bantuan Interpol. (Baca: )
Sementara diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal, mengingatkan agar pemerintah Indonesia tidak keliru bersikap. Ia menegaskan, Indonesia harus membantu investigasi soal konspirasi pembunuhan internasional atas Kim Jong Nam yang diduga melibatkan salah seorang warganya, Siti Aisyah.

