News
·
9 Desember 2018 17:30

Rekaman Wawancara AR Baswedan Akan Diabadikan Dalam Bentuk Digital

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Rekaman Wawancara AR Baswedan Akan Diabadikan Dalam Bentuk Digital (142220)
AR Baswedan. (Foto: Wikimedia Commons)
Abdurrahman Baswedan atau biasa disapa AR Baswedan, kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, tahun ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Rekaman-rekaman wawancara jurnalis tiga zaman tersebut, baik dengan narasumber dan juga obrolan santai bersama pejabat penting saat itu, rencananya akan diabadikan dalam bentuk digital.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut diungkapkan langsung Anies Baswedan di sela-sela Panel Forum Refleksi Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Minggu (9/12).
“Langkah berikutnya mengoleksi barang-barang peninggalan dari almarhum. Pertama yang diamanatkan adalah buku-bukunya ada 5.000 buah di rumah saya di Jakarta,” kata Anies.
Anies mengisahkan kakeknya itu selalu merekam pembicaraan dengan tokoh-tokoh penting pada saat itu. Rekaman itu tak hanya untuk keperluan wawancara narasumber, melainkan untuk koleksi pribadinya.
Menurut Anies, jumlah rekaman yang masih tersimpan dalam kaset itu sangat banyak. Dia berencana mengabadikan peninggalan kakeknya itu untuk bahan penelitian dan juga edukasi masyarakat.
“Kaset-kaset ratusan masih ada di sini, insyaaallah didigitalisasi karena semua percakapan (AR Baswedan) dengan siapa pun itu direkam jadi jumlahnya banyak sekali,” ujar Anies.
Rekaman Wawancara AR Baswedan Akan Diabadikan Dalam Bentuk Digital (142221)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat di wawancara mengenai pertandingan Persija melawan Mitra Kukar. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Mantan Rektor Universitas Paramadina itu juga menyebut kakeknya adalah seorang jurnalis tulen. "Beliau membahasakan dirinya dan selalu menyebut, 'Saya seorang wartawan,'" ujar dia
ADVERTISEMENT
Bahkan, kata Anies, kakeknya itu sering dicap sebagai wartawan tiga zaman. "Karena zaman Belanda, Jepang dan Republik (Indonesia)," ujar dia.
Di akhir hayatnya, AR Baswedan masih rutin mengirim tulisan ke sejumlah media di Indonesia. "Karena menulis kesehariannya, maka mengalir saja. Kalau ngetik tidak dilihat (mesin ketiknya) kalau sudah satu kalimat baru dilihat," ujar Anies mengenang.
Satu hal yang masih dikenang Anies hingga saat ini adalah mesin ketik peninggalan kakeknya masih tersimpan rapih di rumahnya. Mesin ketik itu berjenama Royal buatan tahun 1920.
Tahun 1932, AR Baswedan terdaftar menjadi anggota redaksi harian Tionghoa Melayu yang berada di Surabaya dengan nama Sin Tit Po. Karena tulisannya yang tajam, dia dipromosikan oleh pimpinannhya, Liem Koen Hian untuk menjadi redaktur.
ADVERTISEMENT
Karya jurnalistiknya tak diragukan lagi. Dia menduduki beberapa jabatan strategis di sejumlah media cetak saat itu. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Dia juga pernah mengemban sebagai anggota Badan Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). serta anggota parlemen dan dewan konstituante. Pada tahun 1946-1947, AR Baswedan menjadi Wakil Menteri Penerangan Indonesia ke-2.