Rencana 70 Perawat RS Mitra Keluarga Depok Dirumahkan, Kemenkes Nilai Berlebihan

Kementerian Kesehatan menilai tindakan Pemkot Depok agar 70 perawat RS Mitra Keluarga Depok dirumahkan terkesan berlebihan. Para perawat ini sebelumnya disebut melakukan kontak langsung dengan dua pasien virus corona (COVID-19) sebelum dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso.
"Saya pikir ini respons yang berlebihan, ya, karena kalau kita lihat dia dalam waktu dua hari, apakah harus dilayani oleh sampai 70 perawat?," kata Sekretaris Direktoral Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3).
Sejauh ini, Yuri menilai perlu ada pendekatan persuasif pada masyarakat. Menurut Yuri, warga seharusnya tak perlu panik dalam menangani penyebaran corona di Indonesia.
"Jadi sekarang ini yang akan kita coba untuk melakukan pendekatan dan menyampaikan secara persuasif, bahwa tidak perlu panik berlebihan," ujarnya.
"Jadi sekian banyak ingin diliburkan itu lebih diwarnai kepanikan," imbuhnya.
Sebelumnya, Wali Kota Depok Mohammad Idris menyampaikan sekitar 70 tenaga medis RS Mitra Keluarga Depok yang sempat berinteraksi dengan dua pasien positif virus corona akan dirumahkan. Berdasarkan keterangan yang diterima Idris, beberapa perawat mengeluhkan ikut menunjukkan gejala.
Sekretaris Daerah Kota Depok, Hardiono, mengungkapkan dirumahkannya perawat-perawat ini wajib dilakukan agar tidak ada penyebaran ke orang-orang di sekitar mereka.
"Itu kan penyakit menular, jadi kalau ditaruh di sini semua khawatir akan menjadi nosokomial infeksi. Jadi akan dia menular untuk pasien-pasien yang lain, oleh karenanya perlu diisolasi di rumah masing-masing," ujar Hardiono usai meninjau RS Mitra Keluarga, Jalan Margonda Raya, Depok, Senin (2/3).
Kedua warga Depok yang terinfeksi virus corona merupakan seorang ibu berinsial MD (64) dan anak perempuannya, NT (31). Ibu itu tertular dari anaknya yang bertemu langsung dengan warga Jepang pada 14 Februari di dua klub di Jakarta.
Mereka sempat berkunjung ke Paloma Bistro, Menteng, Jakarta Pusat, dan Amigos Bar & Cantina, Kemang, Jakarta Selatan. NT yang merupakann guru dansa diduga tertular dari WN Jepang itu saat sedang berdansa di klub.
