Retno: Negara ASEAN Punya Political Will Jadi Wilayah Bebas Senjata Nuklir
ยทwaktu baca 2 menit

Negara anggota ASEAN memiliki kemauan politik (political will) untuk mewujudkan kawasan Asia Tenggara terbebas dari penggunaan senjata nuklir. Hal ini ditegaskan kembali di tengah peningkatan ancaman nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kepada wartawan setelah memimpin diskusi bersama Commission of the Southeast Asia Nuclear-Weapon-Free Zone (SEANWFZ), di Hotel Shangri-La Jakarta Pusat, pada Selasa (11/7).
Forum SEANWFZ diselenggarakan sebagai bagian dari tiga agenda pertemuan besar hari pertama ASEAN Foreign Ministers Meeting (AMM) - Post Ministerial Conference (PMC) yang resmi dimulai hari ini.
"Setelah melakukan diskusi cukup panjang, terbuka pada akhirnya kita melihat adanya satu kesamaan bahwa ASEAN memiliki political will yang kuat untuk terus menjadikan Asia Tenggara kawasan yang bebas dari senjata nuklir," ungkap Retno.
Sebelumnya, saat menyampaikan sambutan dalam diskusi SEANWFZ menekankan bahwa ancaman nuklir tersebut sudah tiba di kawasan Asia Tenggara itu sendiri.
Meski hingga kini tidak ada negara di ASEAN yang memiliki senjata nuklir, tetapi kawasan ini tetap dibayangi oleh ancaman dari negara-negara tetangganya yang berkekuatan nuklir seperti India, China, dan Korea Utara.
Selain itu, Australia juga telah bergabung dengan aliansi keamanan AUKUS. Itu membuat Australia mendapat teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir.
Bersama para menteri luar negeri ASEAN lainnya, Retno menyerukan kepada negara bersenjata nuklir untuk menandatangani SEANWFZ Treaty yang sebelumnya sudah disepakati oleh anggota ASEAN pada 1995.
Namun, sudah 25 tahun berselang tidak ada satu pun dari negara bersenjata nuklir di sekitar kawasann Asia Tenggara yang berinisiatif untuk menandatangani SEANWFZ Treaty.
"Kita akan melanjutkan berkomunikasi satu sama lain antara lain juga untuk menegaskan para negosiator kita untuk kembali melihat karena ada beberapa kalimat dalam paragraf yang belum dapat disetujui," kata Retno.
"Tetapi, sekali lagi yang ingin saya tekankan adalah kita memiliki political will yang sangat kuat untuk melanjutkan dan memelihara bahwa Southeast Asia harus menjadi kawasan yang bebas nuklir," tutup dia.
