Rhenald Kasali Luncurkan Buku Disruption

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Rhenald Kasali menunjukkan buku barunya. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rhenald Kasali menunjukkan buku barunya. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)

Founder Rumah Perubahan sekaligus juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mewartakan fenomena 'Disruption' dalam sebuah buku sebagai upaya mendefinisikan perubahan. Ia menyebutnya revolusi, yang saat ini tengah terjadi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Perubahan itu, menurut Rhenald, dimotori oleh perkembangan teknologi informasi. Ia menyebutkan bahwa kini masyarakat berada dalam gelombang ketiga perubahan yang dipengaruhi terutama oleh teknologi informasi.

Mengutip Alvin Toffler dalam buku The Third Wave, Rhenald menyebutkan, gelombang pertama revolusi tersebut terjadi sekitar tahun 1990-an. Gelombang tersebut dikenal dengan istilah connectivity, dalam periode ini internet baru saja lahir.

Kemudian pada awal abad 21, masyarakat memasuki gelombang selanjutnya, yakni ketika masyarakat mulai berpikir untuk mengisi keterhubungan tersebut. Ditandai dengan munculnya berbagai media sosial. Akhirnya, gelombang ketiga yang sedang terjadi saat ini: disruption.

"Sekarang kita masuk gelombang ketiga. Itu memindahkan dunia yang sebenarnya ke dalam dunia yang tidak kelihatan," ucap Rhenald di Rumah Perubahan di Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, Minggu (19/2).

Buku baru Rhenald Kasali berjudul 'Disruption'. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Buku baru Rhenald Kasali berjudul 'Disruption'. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)

Dalam gelombang disruption ini, Rhenald menegaskan, masyarakat tengah menutup sebuah zaman. Bukan akhir zaman sebagaimana diramalkan oleh banyak orang, melainkan hanya mengakhiri sebuah zaman dan memulai zaman yang baru. Sebuah zaman yang menjadi tantangan besar bagi para perusahaan incumbent besar bereputasi yang selama ini berdiri kokoh.

Kompetitor yang ada saat ini adalah kompetitor yang tak kelihatan. Misalnya perusahaan-perusahaan taksi yang memiliki kompetitor taksi online yang tak memiliki gambaran fisik taksi sebagaimana lazimnya. Begitu juga dengan aplikasi online ojek yang mendistrupsi ojek konvensional.

Dalam risetnya, Rhenald mengatakan sempat memonitor aksi-aksi demonstrasi sopir taksi di Paris dan New York. "Saya memonitor itu, saya mengikuti perkembangan mereka," ucapnya.

"Jika usahawan, regulator dan politisi sering mengabaikan apalagi tidak paham perkembangan teknologi, maka dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan perekonomian Indonesia. Padahal, kini dunia tengah berada dalam era disrupsi," imbuh dia.

Dalam gelombang disrupsi ini, orang-orang yang terperangkap dalam tradisi akan merasa cemas dan gugup dalam menghadapi perkembangan dunia. Tradisi memang baik namun, kata Rhenald, tradisi juga perlu diperbaharui.

Melalui buku terbarunya yang berjudul "Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber", ia berupaya menyuguhkan sebuah cara pandang kepada para pembaca, tak terkecuali pemegang keputusan kebijakan, untuk memahami perubahan yang tengah terjadi. Sehingga dapat mengambil sikap yang relevan di hadapan perubahan tersebut.

Buku itu ditulis Rhenald sejak awal tahun 2016 dan selesai pada akhir tahun yang sama. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu terdiri dari 16 bab yang dibagi dalam 5 bagian setebal 497 halaman.

Acara peluncuran buku tersebut turut dihadiri pula oleh beberapa pejabat negara seperti Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Rhenald Kasali dan buku barunya. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rhenald Kasali dan buku barunya. (Foto: Wandha Hidayat/kumparan)