Riau, Negeri yang Bertarung Melawan Api

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

video youtube embed

Everything changed when the Fire Nation attacked.

Suatu pagi di awal Oktober 2015. Rere bangun dari tidur dan langsung menggosok hidungnya. Terasa perih hingga kerongkongan. Rasa nyeri itu tak juga hilang meski ia telah beberapa hari terserang influenza.

Kepala perempuan muda itu terasa pening, seakan asap pekat di luar rumah terhirup masuk dan menyelubungi saraf-saraf serebrumnya. Kapan pula asap itu akan pergi?

Ia menarik napas--berat. Sama sekali tak berniat membuka jendela--yang tak menjanjikan semburat mentari. Pagi, siang, sore, akan sama saja jika kabut asap itu belum juga lesap.

Masker kembali ia kenakan, sebelum membalas pesan-pesan yang masuk dari ponselnya. Banyak teman mengabari, memilih pergi sementara waktu dari Pekanbaru, Riau. Mereka tak tahan lebih lama lagi disergap asap.

Ponsel itu berdering. Rere melihat layar. Ah, itu temannya di Jakarta, tentu hendak menanyakan kabar. Dia lalu menekan tombol “accept” dan mulai berbicara--serak.

“Pekan ini kabut asap pekat. Parah lagi. Padahal minggu lalu sudah mendingan. Di seluruh Riau--Pekanbaru, Bengkalis, Pelalawan,” ujarnya lirih, berharap suara paraunya terdengar cukup jelas.

Di sambungan telepon, sang kawan berucap prihatin. Rere kembali menghela napas, tak tahu harus menanggapi bagaimana.

Ia lanjut bercerita, “Meski siang hari, matahari tak terlihat. Jam 12 seperti jam 6 pagi. Matahari tak pernah lama bersinar. Sebentar, lalu kembali berselimut kabut asap.”

“Serangan” api kebakaran hutan mengubah segalanya.

Jalan yang membelah perkebunan sawit. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Akhir Agustus 2017. Awak kabin melaporkan pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Menengok ke jendela, hamparan kebun sawit membentang tak putus sejauh mata memandang. Itulah perkebunan yang menjadi penopang ekonomi Provinsi Riau--yang dijuluki Bumi Lancang Kuning.

Keluar dari pintu pesawat, panas sinar mentari langsung menyengat kulit tanpa ampun. Ini pula sebabnya Riau kerap disebut “tanah yang berada di atas minyak dan di bawah minyak.”

Tapi bagi masyarakat Riau, paparan cuaca panas itu bukan apa-apa, selama panas tak berasal dari kobar api yang memunculkan kabut asap.

Pekanbaru dilanda bencana asap. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Antusiasme warga Riau baru runtuh jika kabut asap dari hutan api menyerbu. Seperti pada tahun 2015--puncak kebakaran hutan dan lahan yang sudah langganan menyambangi provinsi itu sejak 1997.

Apa yang bisa dilakukan dengan jarak pandang hanya 30 meter? Pemandangan di sana-sini adalah orang lalu-lalang di antara kabut dengan wajah tertutup masker.

Misterius bagai negeri antah-berantah? Lebih dari itu. Riau beralih rupa jadi negeri beracun.

Kabut asap itu seperti gumpalan serbuk terbang, berpusing di udara bersama butir-butir debu dari api yang juga berkobar di provinsi sekitar--Sumatera Selatan, Jambi--dan merusak membran mukosa tubuh.

Sumatera menjelma belanga raksasa. Asap menyebar hingga Singapura dan Malaysia, membuat Indonesia si “produsen” asap jadi terpojok. Api bahkan juga muncul di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, merepotkan banyak orang.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau periode 29 Juni-27 September 2015 menunjukkan, bencana asap kala itu berdampak terhadap 44.872 orang, dengan 37.396 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), 656 orang terkena pneumonia atau radang paru-paru, 1.702 orang asma, 2.207 orang sakit mata, dan 2.911 lainnya didera penyakit kulit.

Infografis Riau bertarung melawan api. (Foto: Muhammad Faisal/kumparan)

Hingga kini, asap masih jadi hantu masyarakat Riau. Bila mendengar kata “api”, gurat cemas langsung tergambar di paras. Demikian pula dengan sopir yang mengantar kami ke titik panas (hotspot) di Desa Talang Jerinjing, Kecamatan Rengat Barat, Indragiri Hulu.

“Di mana ada api? Sepertinya tak ada lagi,” kata Ronald, sopir kami itu, dengan wajah panik, ketika kami mengatakan hendak bertemu pemadam kebakaran hutan.

Kebakaran hutan besar memang tak ada, namun titik panas bukannya hilang sama sekali. Saat kami mendarat, ada 6 laporan titik api di Riau--2 di Pelalawan, 1 di Kampuar, 2 di Siak, dan 1 di Indragiri Hilir.

Mobil kami berbelok ke Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Di sana, tampak kantor bercat oranye. Di depannya, sebuah baliho berdiri gagah, bertuliskan “Lanjutkan Riau Tanpa Asap 2017. Salam Tangguh!.”

Dan itulah yang sedang diupayakan dan dikerjakan oleh orang-orang di dalamnya. Bangunan oranye itu adalah Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Provinsi Riau--instansi garda depan dalam menangani bencana.

Jika Riau bersilih negeri api, kantor itu paling sibuk seantero provinsi.

Jim Gafur, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Jim Gafur, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Riau, menyambut ramah. Kami berbincang diselingi senda gurau.

Namun, seperti warga Riau lain, ekspresi wajah Jim berubah serius ketika obrolan memasuki bahasan api kebakaran hutan. Begitu kata “asap” disebut, postur Jim langsung sigap. Mungkin seluruh masyarakat Riau benar-benar trauma dengan api dan asap.

“Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi pada 2015, api di mana-mana dan asap luar biasa tebal. Semua aktivitas terganggu, baik pendidikan, dunia usaha, dan transportasi--terutama penerbangan,” kata Jim, mengenang.

Api dan asap bahkan tak bisa langsung ditanggulangi meski ribuan personel turun ke lapangan, mulai personel TNI, Manggala Agni, sampai BPBD. Hingga kini pun, bara itu masih bersemayam di beberapa titik.

“Selama ini sudah ditangani, namun tidak berhasil secara maksimal. Kebakaran dan asap tetap ada, padahal pemerintah sudah melakukan banyak hal.”

Hingga tahun ini, Jim masih direpotkan oleh kebakaran hutan dan lahan meski jumlahnya sudah jauh berkurang, yakni sedikitnya 326 titik api.

Untuk mencegah kebakaran besar berulang, sekat kanal dibangun, sosialisasi ke masyarakat dilakukan, dan patroli rutin digelar. BPBD Provinsi Riau, ketika kebakaran hutan terjadi, diserahi fungsi komando pelaksana penanganan. Jim sendiri menjabat sebagai Wakil Komandan Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla), dengan Danrem Wira Buana Pekanbaru sebagai komandan.

Persimpangan menuju lokasi kebakaran (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Kami meluncur ke arah selatan, Indragiri Hulu--salah satu kabupaten di Riau yang berbatasan dengan Jambi, dan paling rawan terkena kebakaran hutan dan lahan. Saat 2015, Inhu adalah kabupaten yang mengalami kebakaran paling parah di Riau. Sejumlah 1200 hektare lahan terbakar di Indragiri Hulu saat itu.

Dengan sirene menyala, rombongan petugas berjumlah 11 orang menaiki pikap dan motor trail. Paling depan, mobil dinas Double Gardan oranye milik BPBD Riau yang dikendarai Antoni, pejabat Kantor Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Indragiri Hulu.

“Ini masih dekat, hanya 14 kilometer dari kantor. Biasanya kami (memadamkan api) lebih jauh lagi),” kata Antoni.

Sepanjang perjalanan, perkebunan kelapa sawit membentang di kanan dan kiri. Selain mobil kami yang melaju, jalanan hanya dilintasi bus, truk tangki CPO berisi minyak sawit, dan truk bermuatan onggokan sawit.

Setelah beberapa waktu, kami memasuki jalan berlumpur tak beraspal yang membelah perkebunan sawit dengan hutan tanaman industri. Medan semacam itu masih tergolong mudah bagi Antoni.

Petugas berjibaku dengan asap. (Foto: Dok. KPBD Kab. Indragiri Hulu)

Kalau sudah ada api, kata Antoni, disiram air berapa banyak pun bisa tak padam, sebab lahan gambut sulit ditangani, dengan kobar api menjalar 2-3 meter ke dalam tanah.

“Kalau bisa padam pun, butuh waktu lama,” ucap Antoni.

Ia menjelaskan, kebakaran lahan gambut memang berbeda dengan kebakaran hutan biasa.

“Bisa di permukaan lahan atau di dalam tanah. Selain api susah padam, proses pemadaman pun bahaya. Kita bisa terperosok ke dalam, karena melangkah di tumpukan rumput (yang entah di bawahnya tanah padat atau justru kosong).”

Setibanya di sebuah lahan yang berhias bercak-bercak hitam, Antoni mengatakan, “Itu bekas kebakaran. Lahan ini habis terbakar. Meski kebakarannya awal tahun, bekasnya masih ada.”

Di tempat itu, cuaca mendung mendadak berubah panas menyengat. Suhu jadi sangat tinggi karena kami berada di belantara sawit tanpa pohon rindang menaungi.

“Ini belum seberapa. Kalau cuaca terik dan api besar, bayangkan saja bagaimana panasnya,” kata Suyono, anak buah Antoni.

Memadamkan api besar biasanya membutuhkan proses 12 jam, dan para petugas sering menginap di titik api akibat kondisi sulit di lapangan.

“Api satu belum padam, tim sudah dipindahkan ke titik lain. Itu kerjanya sampai pagi, nggak mempedulikan SOP (standar operasional prosedur) karena waktu itu statusnya memang bencana nasional,” ujar Suyono.

Setelah segala kesulitan dalam proses memadamkan api itu, ada satu hal yang membuatnya tak habis pikir.

“Itu, sekarang sudah tumbuh sawit baru lagi, hahaha…” kata Suyono sambil menunjuk sebatang pohon kelapa sawit berukuran satu meter di lahan tersebut.

Menurut Suyono, kebakaran lebih sering terjadi karena ulah manusia. Pihak-pihak tak bertanggung jawab sengaja melakukan pembakaran untuk menyuburkan lahan baru yang hendak mereka buka.

Petugas pemadam dibuat geram karena sudah pasti kucing-kucingan dengan para pembakar lahan.

“Bayangkan, mereka membakar pakai obat nyamuk, lalu lari jauh. Saat terbakar, tidak ada yang mengaku. Setelah terbakar dan kami padamkan, besoknya sudah ada tanaman baru,” ujar Suyono geleng-geleng kepala.

Kepala KPBD Kabupaten Indragiri Hulu, Paino, langsung mengiyakan cerita rekannya.

“Kadang kami susah-susah memadamkan api, orang lain tak peduli. Pelaku pembakaran susah dicari dan bertindak seenaknya,” kata dia.

Proses pemadaman kebakaran jalur darat. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Ulah manusia. Itu pula faktor penyebab kebakaran hutan yang disinyalir oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI).

Fandi Rahman dari WALHI Provinsi Riau menyatakan bahwa kebakaran tak mungkin terjadi tanpa kejahilan tangan manusia.

“Berdasarkan pantauan WALHI di lapangan, hasil investigasi yang kami lakukan menunjukkan kebakaran terus terjadi di tempat yang sama atau selalu berdekatan,” kata dia sekembalinya kami ke Pekanbaru.

Lokasi kebakaran, ujar Fandi, adalah lahan gambut kering yang berdekatan dengan perkebunan sawit.

Gambut, tanah lunak basah yang biasa terbentuk di daerah rawa, sekarang kering karena pembangunan kanal (saluran) untuk menampung air guna mengaliri hamparan luas sawit--yang kemudian ditanam di atasnya.

Karena gambut yang mestinya basah itu kini kering, maka ia jadi rawan terbakar. Hal lain, gambut basah tak bisa ditanami sawit atau tanaman industri lain, sehingga kering itulah yang disinyalir diinginkan pelaku pembakaran.

“Ketika (gambut) akan ditanami, ada proses pengeringan dengan sengaja. Dibuat kanal lebih dulu. Pengeringan dan penanaman (tanaman baru) ini pasti ulah manusia,” kata Fandi.

Sekadar puntung rokok atau gesekan gambut, imbuhnya, tak cukup dahsyat untuk menyebabkan kekeringan apalagi kebakaran.

“Lahan gambut (kering dan terbakar) karena faktor cuaca kemungkinannya kecil, dibandingkan dengan suatu kesengajaan yang terstruktur,” ujar Fandi.

Kebakaran Hutan Riau 2015 (Foto: ANTARA)

Dalam kebakaran hutan dan lahan di Riau tahun 2015 itu, Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka pembakar lahan, termasuk di dalamnya perusahaan swasta yang bergerak di sektor perkebunan sawit. Perusahaan itu memiliki perkebunan di Indragiri Hulu.

Perusahaan tersebut, menurut Polda Riau, diduga membakar lahan untuk ditanami sawit seluas 39 hektare. Sementara sejumlah perusahaan lain diselidiki dugaan keterlibatannya.

Tapi tahun berikutnya, Juli 2016, Polda Riau mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap 15 perusahaan pembakar hutan.

Proses pemadaman hutan jalur darat. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Serangan dahsyat “Negara Api” memang telah berlalu--untuk sementara, namun bukan berarti ancaman tak mengintai. Sebab titik-titik panas tak pernah hilang.

Untuk itulah Paino, Kepala KPBD Indragiri Hulu, terus gencar mengampanyekan tolak pembakaran hutan.

“Saya bikin banyak baliho, bicara pada beberapa kegiatan yang diselenggarakan kabupaten, supaya bencana itu tak terulang. Sebab kasihan masyarakat, kasihan petugas kami di lapangan,” kata Paino.

Malam itu, Indragiri Hulu diguyur hujan. Faisal Illahi, Kepala Bagian Satuan Pemadam Kebakaran, mengucap syukur.

“Bagus kalau hujan begini, menghalau asap,” ujarnya.

Pusat kota Pekanbaru yang cerah. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Musuh Riau yang sebenarnya bukanlah asap, namun manusia-manusia yang gemar membakar lahan demi kepentingan ekonomi.

Pekanbaru hari itu sungguh berbeda dengan dua tahun lalu kala dikepung asap. Anak-anak sekolah melintas, kedai lontong sayur ramai disesaki pembeli. Sungguh hangat dilihat.

Cukuplah Riau disapu hangat mentari, tak perlu disapa panas api.

Infografis pelajaran dari Bencana Asap 2015. (Foto: Muhammad Faisal/kumparan)