Ridwan Kamil Larang Pengunjung dari Luar Jabar Wisata ke Pangandaran

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana PantaI Pangandaran jelang Hari Natal, Jumat (10/12). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana PantaI Pangandaran jelang Hari Natal, Jumat (10/12). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Gubernur Jabar Ridwan Kamil atau akrab disapa Emil mengungkapkan keberhasilan penerapan new normal atau yang disebutnya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sektor pariwisata di Pangandaran, terletak pada kedisiplinan wisatawan dan ketegasan pengelola menegakkan aturan. Diketahui, objek wisata di sana sudah mulai dibuka sejak tanggal 5 Juni lalu.

Misalnya, sambung Emil, tepat di pintu masuk pantai pengunjung yang saat ini hanya untuk wisatawan Jabar harus bebas corona dengan menunjukkan surat keterangan sehat. Jika tak membawa surat, pengunjung dapat melakukan tes di lokasi dengan harga senilai Rp 200 ribu.

"Pengunjung dari luar Jabar dilarang masuk dulu, bukan tidak boleh. Tapi tidak sekarang, karena kita ingin menjaga tren yang sudah baik. Kemudian, yang paling tegas di sini adalah wisatawan yang datang ke Pantai Barat dan Timur harus menunjukkan surat rapid test," ucap dia di sela melakukan peninjauan, Kamis (11/6).

"Kalau tidak ada (surat), dan masih ingin berwisata, maka di tourism information center ada pengetesan harganya Rp 200 ribu. Relatif lebih murah dibanding yang lain, kalau tidak ada surat mohon maaf, balik kanan," lanjut dia.

Emil pun mengapresiasi penerapan AKB di objek wisata Pangandaran. Dia menilai AKB di Pangandaran dapat ditiru oleh seluruh pengelola wisata di Jabar. Jika dinilai dalam rentang 1 hingga 10, penerapan AKB sektor wisata di Pangandaran diberikan nilai 8.

Adapun dalam peninjauan tersebut, Emil didampingi Ketua Gugus Tugas Pangandaran Jeje Wiradinata. Mereka meninjau satu per satu titik wisata di pantai Pangandaran mulai pintu masuk, penginapan, pusat perbelanjaan hingga fasilitas kesehatan.

"Lalu tadi saya mengecek hotel dan semua syaratnya sudah dipenuhi," kata dia.

Emil pun mengapresiasi restoran di salah satu hotel yang sudah membatasi kapasitas pengunjung menjadi 30 persen dengan jarak kursi sekitar 1,5 meter. Pengambilan makanan dilakukan oleh pelayan guna menekan potensi sebaran COVID-19.

embed from external kumparan

"Kalau mengambil makanan tidak boleh juga oleh tangan pengunjung tapi harus sama pelayanannya karena di Jepang membuktikan prasmanan itu dalam 15 menit bisa menularkan virus, tadi protokol seperti itu sudah dilaksanakan dengan baik dan kalau mejanya kekurangan makanannya bisa dibawa ke kamarnya," jelas dia.

Untuk area wisata di pantai, Emil meminta pengelola memastikan pengunjung disiplin jaga jarak. Selain itu, dia meminta pedagang di pusat perbelanjaan agar memakai pelindung wajah atau face shield guna menekan potensi sebaran corona.

"Kemudian protokol perdagangan yang melayani harus pakai face shield karena virus menular lewat mulut, hidung dan mata," imbuhnya.

Meski Pangandaran mampu menerapkan AKB sektor pariwisata dengan baik, Emil meminta masyarakat untuk tidak bereuforia. Sebab, kata dia, potensi gelombang dua dapat saja terjadi apabila kewaspadaan dan pengawasan menurun.

"Mudah-mudahan dengan begini tidak ada gelombang kedua, bagaimana mencegahnya? Pangandaran harus rajin testing. Kuncinya itu jangan euforia merasa tidak ada kasus, karena semakin banyak rasio testing selama AKB maka semakin aman ekonomi kita," ungkap dia.

kumparan post embed

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.