Riset di Turki: Booster dengan Sinovac Hasilkan Imun Lebih Tinggi dari Pfizer
ยทwaktu baca 2 menit

Pemberian vaksin COVID-19 dosis ketiga saat ini diyakini sebagai salah satu upaya untuk memberikan perlindungan tambahan (booster) dari infeksi corona. Di Indonesia, booster sudah dan hanya diberikan untuk tenaga kesehatan (nakes).
Sementara itu, sebuah studi di Turki baru-baru ini menunjukkan fakta mengenai tingkat perlindungan yang didapat dari vaksinasi dosis ketiga menggunakan vaksin buatan Sinovac Biotech Ltd, China.
Sebanyak 30 juta warga Turki yang menerima tiga dosis vaksin inactivated virus Sinovac ternyata punya kekebalan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan yang dapat booster vaksin m-RNA seperti Moderna dan Pfizer.
"Orang-orang di seluruh dunia akan mempelajari data ini untuk pertama kalinya dan kebijakan vaksinasi negara mungkin akan berubah," kata Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, dikutip dari Nikkei Asia, Senin (16/8).
Sejauh ini, warga Turki memilih Pfizer sebagai booster dengan anggapan bahwa vaksin berplatform m-RNA jauh lebih efektif dibanding dengan vaksin inactivated virus seperti Sinovac yang sebelumnya telah mereka dapatkan dalam dosis lengkap.
Riset Kemenkes di Jakarta
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di DKI Jakarta juga menunjukkan hasil mengenai efektivitas dari vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech Ltd.
Pengamatan dilakukan terhadap para tenaga kesehatan (nakes) yang telah memperoleh vaksin lengkap pada periode pengamatan April-Juni 2021.
Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa terdapat penurunan efektivitas vaksin Sinovac dalam mencegah infeksi, rawat inap, dan juga kematian pada periode tersebut dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu Januari-Maret 2021.
Efektivitas mencegah infeksi turun dari 86% menjadi 65%. Kemudian mencegah perawatan turun dari 74% menjadi 53%, dan pada efektivitas dalam mencegah kematian juga turun dari 95% menjadi 79%.
"Pada periode Januari-Maret, vaksin CoronaVac cukup efektif dalam mencegah infeksi COVID-19. Namun, pada periode April-Juni, vaksinasi lengkap kurang cukup melindungi Tenaga Kesehatan dari infeksi COVID-19. Meskipun demikian, vaksinasi lengkap masih efektif melindungi dari risiko perawatan dan kematian akibat COVID-19," tulis kesimpulan dalam laporan Kemenkes ini.
