RSHS Bentuk Tim Dokter Khusus Tangani YTR, Libatkan Bedah Plastik-Ahli Gizi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Dokter Spesialis. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dokter Spesialis. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung membentuk tim dokter khusus untuk menangani YTR, korban penganiayaan dan penyekapan yang dilakukan Taufik Hidayat, yang saat ini masih menjalani perawatan intensif.

Tim tersebut dibentuk agar penanganan terhadap korban bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemulihan luka, kondisi mata, status gizi, hingga pemulihan psikis.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSHS, dr. Fitra Hergyana, mengatakan pembentukan tim khusus itu dilakukan atas arahan Direktur Utama RSHS. Menurut dia, kondisi korban membutuhkan penanganan lintas disiplin agar proses pemulihan bisa berjalan optimal.

“Atas arahan Pak Dirut RSHS kami membuat tim. Tim tersebut terdiri dari dokter bedah plastik, dokter mata, dokter gizi, dan dokter-dokter lainnya. Jadi penanganannya betul-betul komprehensif,” kata Fitra di RSHS Bandung, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan, tim dokter khusus itu bekerja untuk memastikan seluruh kebutuhan medis korban tertangani secara terpadu. Tidak hanya fokus pada luka fisik akibat penganiayaan, penanganan juga diarahkan pada pemulihan kondisi umum dan psikis korban yang sempat terguncang.

Menurut Fitra, saat ini kondisi YTR berangsur membaik. Luka yang dialami korban mulai menunjukkan perbaikan, sementara kondisi psikisnya juga terus dipulihkan oleh tim medis.

“Untuk lukanya saat ini memang sudah ada perbaikan. Keadaan psikisnya juga sudah membaik. Yang bersangkutan sudah bisa mengobrol, sudah bisa makan, dan juga sudah bisa duduk,” ujarnya.

Meski demikian, rumah sakit belum menjadwalkan operasi untuk korban. Tim dokter saat ini masih memprioritaskan pemulihan kondisi umum korban sebelum melangkah ke tindakan medis lanjutan.

“Nah, sambil menunggu operasinya, yang penting sekarang adalah pemulihannya dulu. Setelah keadaan umumnya stabil, baru kita melaksanakan langkah berikutnya,” kata Fitra.

Ia menuturkan, sejauh ini tindakan yang sudah dilakukan terhadap korban adalah debridement atau pembersihan luka. Selain itu, tim dokter juga sedang memperbaiki status gizi dan memulihkan kondisi psikis korban sebagai bagian dari proses perawatan awal.

“Saat ini kemarin dilakukan debridement. Debridement itu adalah pembersihan luka. Selain itu, keadaan umum dan gizinya juga sedang diperbaiki, begitu juga kondisi psikisnya,” ucapnya.

Polisi saat mengamankan Taufik Hidayat di Majalaya, Bandung, Senin (23/6/2026). Foto: Dok. Istimewa

Fitra menambahkan, kemampuan komunikasi korban juga mulai kembali meski belum sepenuhnya lancar. Menurut dia, hal itu wajar karena korban masih berada dalam tahap pemulihan.

“Untuk berkomunikasi, kebetulan bicaranya masih sedikit-sedikit ya, karena memang masih dalam masa pemulihan,” katanya.

Dengan dibentuknya tim dokter lintas spesialis, RSHS ingin memastikan penanganan korban tidak dilakukan secara parsial. Setiap perkembangan kondisi korban akan dipantau bersama agar langkah medis yang diambil sesuai dengan kebutuhan YTR.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSHS juga mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam penanganan kasus ini. Dukungan itu dinilai penting agar proses pemulihan korban bisa berjalan lebih maksimal.

Fitra menegaskan, fokus tim dokter saat ini adalah memulihkan kondisi korban secara menyeluruh sebelum memutuskan tindakan operasi. Dengan pendekatan komprehensif itu, rumah sakit berharap pemulihan YTR bisa berjalan lebih baik, baik dari sisi fisik maupun mental.

“Tadi, kita fokus pada pemulihan keadaan umum dulu. Untuk estimasinya kami belum bisa memastikan berapa lama. Yang pasti keadaan psikisnya dipulihkan dulu, lalu gizinya diperbaiki sampai yang bersangkutan benar-benar sehat,” katanya.