Rumah Terbakar 51 Kali di Sleman Diduga Akumulasi Gas Metana dari Septic Tank

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kebakaran misterius terjadi 51 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kebakaran yang terjadi dalam seminggu itu diduga disebabkan karena adanya akumulasi kandungan gas metana dari septic tank.

"Fenomena munculnya titik api sporadis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan, keberadaan material mudah terbakar, kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal, maupun faktor teknis non-geologi. Dalam hal ini, menurut pengamatan di lapangan, adanya akumulasi gas metana dari septic tank," terang Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti, Sabtu (30/5).

Ia menambahkan, tanah di Seyegan didominasi endapan vulkanik muda seperti pasir, lempung, abu vulkanik yang porous dan memungkinkan gas dari septic tank merembes ke permukaan melalui pori-pori atau rekahan. Kemudian, ketika ada rekahan kecil atau lapisan urug yang kurang padat, gas lebih mudah naik ke permukaan.

"Dinas PUP ESDM DIY secara terus menerus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BPBD sleman dan PLN. Hari ini terdapat dua titik api yang masih muncul," imbuhnya.

Sementara, Dosen di Departemen Teknik Geologi UGM Sarju Winardi mengatakan, pihak kepolisian sudah mengukur kandungan gas di lokasi kejadian. Hasilnya, di tempat munculnya titik api terdapat kandungan gas metana.

"Jadi, evidence-based yang paling kuat selama ini api berindikasi dengan keluarnya gas metana," katanya, Sabtu (30/5).

Pihaknya juga melakukan pengukuran suhu panas menggunakan kamera termal. Setelah diukur, tempat keluarnya api didukung dengan lokasi dengan suhu tinggi.

"Makanya wajar kalau ketika terbakar suhunya naik," terangnya.

"Pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat ini. Termasuk sampel air," tambahnya.

Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sarju menjelaskan, beberapa waktu lalu, proses keluarnya gas bersamaan dengan jalur-jalur pada pipa air dan sumur yang muncul api. Berkaca dari hal itu, pihaknya juga berencana mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak.

"Sebenarnya waktu terkontaminasi di bawah itu belum terbakar. Terbakarnya adalah ketika si air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, maka gas metana itu lepas," ungkapnya.

"Jadi baru terbakar ketika si metana lepas dari airnya meskipun tanpa pemantik. Karena ketika gas metana bertemu dengan oksigen maka bisa terbakar," ucapnya.

Sifat Gas Metana Mudah Menempel

Menurutnya, gas metana memiliki sifat yang mirip kompor LPG di rumah, hanya lebih low release, kalorinya rendah, dan membutuhkan PPM. Metana membutuhkan kadar yang lebih tinggi agar bisa menyala.

Dia mengatakan gas metana bisa menyala.

"Maka kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Gas metana berkumpul di sofa, pakaian, dan kain dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala. Tapi kalau sedikit, belum, makanya sementara kami sarankan agar ruangan itu sirkulasinya diperbagus. Ketika udara di luar lebih mudah sehingga tidak mudah berkumpul," jelas Sarju.

Sarju juga menyarankan agar di area rumah dipasang kipas angin atau blower. Setidaknya, hal itu dapat mengantisipasi terkumpulnya gas metana di satu material seperti pakaian dan sofa.

"Benda-benda yang memiliki pori seperti pakaian, sofa bisa menyimpan gas. Nanti ketika jumlahnya cukup banyak dan terkena oksigen bisa menyala karena sifat gas itu jumlahnya tertentu dan kena oksigen O2, CH4 plus O2 maka akan menyala," kata dia.

Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Lebih lanjut, gas metana tersebut bisa menyebar ke tempat lain dalam hal ini rumah tetangga sekitar. Sebab, sifat gas bisa mengambang ke luar ke udara.

Namun, apabila gas metana sudah berada di luar ruangan dan bercampur ke udara, kadarnya akan menurun. Sehingga relatif aman. Melihat hal ini, ia menyarankan agar sirkulasi di rumah dibuka. Selain itu juga diberi kipas angin agar kadarnya berkurang.

"Bisa mengurangi potensi terbakar karena kadarnya sudah sangat sedikit setelah bercampur dengan udara luar," imbuhnya.