Rumput Laut Berbinar di Genggaman Perempuan Takalar

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budidaya Gracilaria di Takalar (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Budidaya Gracilaria di Takalar (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Kita tidak bisa melupakan bagaimana kedudukan perempuan dalam tradisi Bugis - Makassar -- yang menyebar hingga Takalar -- menempati posisi istimewa. Catatan sejarah dalam History of Java (vol II, 1830), yang ditulis Thomas Stamford Raffles pada lampiran tentang Celebes (Sulawesi), menunjukkan perempuan Bugis -Makassar lebih dihargai dan terhormat.

Mereka tidak mengalami kekerasan dan tidak diganggu ruang privasinya seperti yang terjadi di belahan dunia lain (pada masa itu). Pekerjaan yang diemban para perempuan pun, tidak mengganggu peran utamanya sebagai ibu.

Perempuan-perempuan di Takalar, Sulawesi Selatan.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan di Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Merasuk hingga kini, semangat kaum ibu masyarakat Bugis-Makassar yang juga tak lekang waktu. Seperti kisah para pembudidaya rumput laut yang dikerjakan lewat keuletan dan ketangkasan para istri di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

****

Daeng Syama begitu lihai mengikat rumput laut dalam satu bentangan yang dililit rafia biru. Tak seperti orang awam yang harus mengukur jarak per jarak, pria itu--dengan keterampilan yang ia miliki-- langsung mengikat rumput laut dalam satu genggaman.

Daeng Syama, petani gracilaria tersukses di Takalar, Sulawesi Selatan.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Daeng Syama, petani gracilaria tersukses di Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Meski Daeng Syama begitu dikagumi seantero Sulawesi Selatan lantaran kesuksesannya memanen tujuh ton rumput laut jenis gracilaria per tahun, namun, sepertinya, ada sosok-sosok lain yang dunia patut tahu. Ya, istri dan anak perempuan Daeng Syama.

Bahkan tak hanya dua perempuan tersebut, seluruh kaum ibu di Takalar kini mulai menggebrak stigma. Mereka ikut bekerja, menafkahi, dan tidak melulu bergantung pada suami.

Nurtina (kanan) dan perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nurtina (kanan) dan perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Mereka tidak lagi sekadar menunggu suami pulang bekerja atau memasaki kerang dan sup ikan untuk anak-anaknya. Tapi, lebih dari itu, mereka ikut mengangkut, menimbang, membentangkan ikatan, mencuci dan menjemur rumput laut, hingga turun ke laut.

"Sejak 2009 kita mulai mandiri. Saya cuma berharap perempuan-perempuan di sini punya penghasilan sendiri, kesetaraanlah istilahnya," tutur anak Daeng Syama, Nurtina, ditemui di Sanrobone, Takalar, Sulawesi Selatan.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Para perempuan Takalar sibuk mengeringkan rumput laut saat kumparan menyambangi wilayah kerja mereka di bibir pantai, Rabu (18/7). Sekitar lima hingga enam perempuan, duduk melingkar dan mengikat rumput laut dalam beberapa bentangan.

Perempuan-perempuan di Takalar, Sulawesi Selatan.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan di Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Mereka mengajari kami bagaimana cara mengikat rumput laut yang baiknya dilonggari jarak 20 sentimeter per ikat. Supaya nutrisi di dalam laut nanti tidak berebut dan menghasilkan rumput laut yang baik, berspora, dan siap dijual.

Sepanjang 74 kilometer Takalar memang wilayah pesisir. Dimekarkan dari wilayah administrasi Makassar sejak 1960, Takalar mulai mencuri perhatian dunia akan komoditas rumput lautnya.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Sejak berada di naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 2015, petani perempuan Takalar semakin dikenal. Melalui United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mereka semua ikut diajak produktif.

Bahkan ada keunggulan yang dimiliki para perempuan Takalar dibanding para suami: mengolah rumput laut jadi santapan mengenyangkan.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan memamerkan hasil olahan rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan memamerkan hasil olahan rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Nurtina dan teman-temannya mendapatkan ide mengolah rumput laut sejak mendapat bimbingan UNIDO. Seluruh modal awal hingga alat-alat memasak, disediakan oleh Maria, tenaga ahli UNIDO dari PBB.

"Awal mulanya sebelum Ibu Maria datang, kita hanya jual (rumput laut) saja di gudang. Setelah datang, Ibu Maria mengajari kita praktik membuat olahan yang bisa dikonsumsi. Ada stik rumput laut, kerupuk, jus, dan sebagainya," tutur Nurtina.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

"Ibu-ibu di sini dibilang pada norak, maksudnya, kita bisa budidaya rumput laut tapi kok enggak bisa bikin (olahannya). Akhirnya kita coba buat sendiri dan rasanya enak juga," sambung dia.

Melalui program UNIDO Sustainable Market Access through Responsible Trading of Fish (SMART-Fish), para petani memang tidak hanya diajarkan untuk sekadar mengejar kuantitas, melainkan kualitas.

Terlebih gracilaria yang dimiliki Takalar (rumput laut ini biasa dijadikan bahan baku pembuatan agar-agar), disinyalir menjadi komoditas endemik, dan diandalkan dalam kegiatan ekspor budidaya berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang diakui PBB.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

"Kita bisa mengolah jenis rumput laut menjadi makanan dan minuman ini pakai uang pribadi atau koperasi. Tidak hanya mau kita pasarkan ke Makassar, tapi ke segala penjuru, biar seluruh dunia tahu," papar Nurtina.

Meski, Nurtina tak menampik, cukup banyak tantangan yang dirasakan saat mengajak para perempuan Takalar lebih produktif. Apalagi, untuk sedikit menyisihkan waktu mengolah, memasak, dan melipat-lipat adonan rumput laut.

Makanan dan minuman olahan rumput laut ala perempuan-perempuan Takalar. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Makanan dan minuman olahan rumput laut ala perempuan-perempuan Takalar. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

"Gampang-gampang susah ngerayunya. Mereka alasannya biasa, sibuk, ada kerjaan panen rumput laut, belum lagi urus anak. Karena kita dulu juga mengajaknya kan di bawah naungan koperasi, jadi kita bilang 'siapa yang mau ikut pengolahan?' lalu satu per satu mengiyakan," imbuhnya.

Semangat mereka terus didukung Perwakilan Tetap PBB di Indonesia, Anita Nirody, bersama perwakilan UNIDO untuk Indonesia, Esam Alqararah, saat mengunjungi stan-stan wirausaha mereka di sudut Sanrobone. Mereka menjajakan makanan dan minuman olahan mereka sendiri, berusaha meyakinkan para pengunjung bahwa produk mereka layak bersaing di dunia global.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman ringan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Anita dan Esam tampak memborong dan mencicipi kerupuk, stik, minuman, hingga selai gracilaria. Raut optimistis terpampang di tiga hingga lima perempuan yang berdiri di masing-masing stan.

Usai berkeliling, Anita sempat berbincang-bincang dengan Nurtina dan Maria. Dia meyakini, program SMART-Fish yang dijalankan pihaknya, berhasil meningkatkan partisipasi perempuan dalam bekerja.

Perwakilan PBB di Indonesia, Anita Nirody, bercengkerama dengan perempuan Takalar. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perwakilan PBB di Indonesia, Anita Nirody, bercengkerama dengan perempuan Takalar. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

"Saya melihat proyek ini bisa membuat warga, baik pria maupun perempuan, memiliki modal untuk berinvestasi. Selain itu, mereka juga bisa membangun keterampilan sembari meningkatkan pengetahuan. Tapi tentu, proyek kami ini khususkan untuk memberdayakan perempuan, itu tujuan kami," tutur Anita.

Ekspor Rumput Laut Meningkat

Sebagai pengingat, komoditas rumput laut yang dijanjikan Sulawesi Selatan, terkhusus Takalar, memang tidak main-main. Data Dinas Industri dan Perdagangan Sulawesi Selatan mencatat ekspor rumput laut mencapai 82,110.9 ton dengan nilai 75,3 juta dolar AS pada Oktober 2017.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Peningkatan ekspor ini, turut sejalan dengan permintaan tinggi dari eksportir besar dunia, seperti China, Eropa, Amerika, dan Asia Pasifik.

Sedangkan untuk gracilaria --yang hanya ada di Takalar-- total produksi yang dicapai pada 2017, adalah sebesar 105,13 ton. Produksi tersebut unggul dibanding komoditas lain, seperti bandeng dan udang vannamei yang hanya memproduksi 3,2 ton per tahun.

Rumput laut gracilaria dari Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rumput laut gracilaria dari Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Senada dengan Anita, Esam mendukung program ini agar terus ditingkatkan. Salah satu dukungannya, UNIDO dan KKP membuat buku pegangan standard operating procedure (SOP) kepada para petani. Penulisan buku SOP SMART-Fish, turut dirumuskan oleh salah seorang peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jana Anggadiredja.

Ahli BPPT, Jana Anggadiredja (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ahli BPPT, Jana Anggadiredja (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Di dalam buku itu, para petani bisa mempelajari bagaimana metode budidaya rumput laut yang benar, agar bisa terus meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Perwakilan UNIDO untuk Indonesia, Esam Alqararah, ikut memasak selai rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perwakilan UNIDO untuk Indonesia, Esam Alqararah, ikut memasak selai rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

"UNIDO percaya bahwa yang kita lakukan adalah untuk mendukung program pembangunan yang berkelanjutan. Dengan program ini, berbagai tujuan mencakup masyarakat yang tadinya merasa dipinggirkan, petani kecil, dan kaum ibu, dapat bersama-sama meningkatkan taraf kehidupan mereka," ucap Esam.

Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut.  (Foto: Marcia Audita/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan-perempuan Takalar, Sulawesi Selatan sedang mengikat rumput laut. (Foto: Marcia Audita/kumparan)

Demikian rajutan rumput laut yang berbinar di genggaman perempuan Takalar. Mewarisi semangat kaum Ibu Bugis-Makassar dalam cerita Raffles, perempuan Takalar sudah tak gentar berdaya bagi keluarga dan kaumnya.