Saat Ahli Wabah UI Tagih Laporan Final Uji Validasi GeNose ke Prof Kuwat

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Epidemiolog UI, Pandu Riono. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Epidemiolog UI, Pandu Riono. Foto: Dok. Pribadi

Alat deteksi corona melalui embusan napas karya UGM, GeNose, telah lolos uji validasi Kemenkes. Bahkan saat ini tengah diuji coba di 2 stasiun yakni Stasiun Pasar Senen Jakarta dan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Namun dalam perjalanannya, penggunaan GeNose ini mendapat kritik dari beberapa ahli epidemiologi (wabah). Ada yang menyebut kurang transparan hingga terlalu berisiko kalau dijadikan syarat perjalanan.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media, Ketua Peneliti GeNose Prof Kuwat Triyana menyebut epidemiolog seharusnya saling mendukung segala upaya mengentaskan pandemi corona. Ia menyebut epidemiolog untuk tidak hanya bicara saja.

Ketua Peneliti GeNose Prof Kuwat Triyana . Foto: Dok. UGM

Hal itu mendapat respons dari ahli wabah UI Pandu Riono. Di akun Twitternya, Pandu menyebut Prof Kuwat belum menepati janjinya soal laporan final uji validasi GeNose.

"Mas Kuwat saintis sejati itu rendah hati lho. Kapan janjinya mau kirim laporan final, yang ternyata belum final. Kalau mau menantang debat terbuka para epidemiologist Indonesia, siapin ya," kata Pandu, Rabu (17/2).

Pandu telah mengizinkan kumparan untuk mengutip twitnya.

X post embed

Lalu kumparan menanyakan lebih lanjut terkait dengan laporan yang dimaksud Pandu. Pandu menjawab ada beberapa data yang dikritiknya.

"Saya punya [data] yang dikirim ke Kemenkes, ketika saya kritik, katanya itu belum final. Walaupun tertulis Laporan Final," ungkap Pandu.

Seorang penumpang meniup kantong plastik untuk mengambil sampel udara yang akan diuji menggunakan GeNose di sebuah stasiun kereta api di Jakarta, Indonesia, Rabu (3/2). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

GeNose sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes pada akhir Desember 2020.

Alat ini sudah mulai diuji coba di Stasiun Pasar Senen pada Rabu (3/2) lalu bersambung ke Stasiun Tugu. Enam stasiun menyusul, yaitu Stasiun Gambir, Solo Balapan, Bandung, Surabaya Pasar Turi, Cirebon, dan Semarang Tawang.

GeNose diklaim mampu menskrining virus corona dengan waktu yang cepat, murah, tapi juga akurat.

Petugas mengetes penggunaan GeNose di Stasiun Pasar Senen, Sabtu (23/1). Foto: Kemenhub RI

Dukungan Menristek

Menristek Bambang Brodjonegoro pun sempat angkat bicara soal efektivitas GeNose. Kata dia, penelitian alat buatan ahli UGM tersebut juga sudah berlangsung lama, sejak 10 tahun lalu dengan tujuan awal mendeteksi penderita TBC. Namun kemudian fungsinya diganti menjadi pendeteksi corona.

Serah terima GeNose dari Menristek Bambang Brodjonegoro ke Menparekraf Sandiaga Uno. Foto: Dok. Istimewa

"Kemudian ketika akan dapat izin edar dari Kemenkes baik dari kami waktu itu Pak Eko dari PPI datang ke saya kami minta dilakukan uji validasi dengan sampel yang cukup banyak untuk memastikan tadi masalah sensitivitas dan spesifisitas. Dan kemudian ketika izin edar hasilnya diminta ternyata efektivitas dalam pengertian akurasi itu di atas 90 persen," kata Bambang usai menyerahkan hibah satu unit GeNose ke Kemenparekraf, Selasa (9/2).

Menurut Bambang, angka efektivitas GeNose yang tinggi itu sangat baik, dengan false negative hanya 3 persen.

"Jadi artinya kalau tadi disampaikan Pak Eko mengenai kemungkinan terjadinya false negative yang kecil sekali hanya 3 persen. Itu artinya efektivitasnya sangat baik. Sehingga screening berjalan baik dan ujungnya tentu juga membantu tracing, testing sekaligus membuat kegiatan ekonomi termasuk pariwisata bisa berjalan kembali," kata Bambang.

kumparan sudah menghubungi Prof Kuwat untuk mengkonfirmasi hal ini, tapi belum ada jawaban.