Saat Orang Terdekatmu Mengancam Bunuh Diri

Fenomena bunuh diri belakangan menjadi obrolan masyarakat, lebih-lebih saat vokalis band rock ternama Linkin Park, Chester Bennington, juga mengakhiri hidup dengan gantung diri.
Tak sampai seminggu pasca Chester, publik kembali diterpa pemberitaan dua orang perempuan kakak beradik di Bandung, Jawa Barat, yang bunuh diri dengan melompat dari lantai lima bangunan apartemen.
Memori bullying di masa kecil yang tak terlupakan, diduga kuat menjadi penyebab Chester bunuh diri. Sementara kedua perempuan tersebut, disebut polisi pernah didiagnosa secara klinis menderita gangguan jiwa.
Psikolog klinis dewasa Liza M Djaprie mengatakan, selain tekanan sosial dan diagnosa gangguan jiwa, masih ada beragam faktor penyebab perilaku bunuh diri lainnya yang lebih kompleks.
"Kita enggak bisa melihat penyebab kasus bunuh diri sedemikian sempitnya. Banyak banget komponen yang terlibat. Misalnya, sudah kaya, tenar, cakep, enggak mungkin orang seperti itu bunuh diri. Tapi kadang-kadang, pada diri orang yang seperti itu ada kebahagiaan batin yang tidak terpenuhi," jelas Liza kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (26/7).
"Banyak sekali faktor kompleks, misal enggak ada gangguan kejiwaan secara khusus, enggak pernah didiagnosa, tapi dia merasakan frustrasi seperti menemukan jalan buntu, enggak tahu mau ke mana lagi, bisa jadi pemicu (bunuh diri) juga," lanjut dia.
Terlepas dari berbagai hal yang memicu tindakan bunuh diri, apa yang sebaiknya kita lakukan pertama kali saat orang terdekat kita mengancam ingin bunuh diri?
"Tenangkan dia, dirangkul. Hindari kata-kata bernada menghakimi atau kata-kata marah. Orang yang akan bunuh diri itu kondisinya sedang kalap, enggak bisa berpikir jernih," jelas Liza.

Memberikan saran dan nasihat, menurut Liza, juga sebaiknya tidak dilakukan kepada orang yang sedang mengancam akan bunuh diri.
"Kalau bisa dipeluk, terus dilepas saja (senjata yang akan dia pakai untuk bunuh diri) tanpa perlu ngomong apa-apa, itu lebih baik demikian. Karena ibaratnya kondisi psikis dia itu adalah seperti balon yang penuh udara mau meletus," jelas Liza.
"Kalau digencet lagi, bisa meletus. Jadi tunggu (emosinya) dikeluarin dulu, dikempesein dulu," imbuh dia.
Menurut Liza, individu yang sedang mendapati orang terdekatnya mengancam bunuh diri juga harus bisa mengontrol tingkat kepanikan diri.
"Panik itu wajar kalau buat saya, tapi level kepanikannya seberapa yang perlu diperhatikan. Panik tapi masih bisa terkontrol, itu yang perlu dilatih. Jangan panik-panik banget," kata dia.
Liza menambahkan, seseorang yang pernah mengancam ataupun mencoba melakukan percobaan bunuh diri namun masih bisa diselamatkan, memiliki kemungkinan untuk kembali melakukan tindakan tersebut jika ditangani dengan metode pemecahan masalah jangka pendek.
"Ketika dia ada tindakan pengin bunuh diri lagi, itu berarti akar (masalahnya) belum dicabut. Jadi ketika kita mencari pemecahan masalah hanya bersifat temporer, khusus masalah itu saja, misal karena putus pacar ya sudah disuruh move on, memang selesai patah hatinya dan dia enggak jadi bunuh diri, tapi nanti kalau ditempa masalah lain dia akan gitu lagi," kata Liza.
Oleh karena itu Liza mengimbau orang terdekat para pelaku percobaan bunuh diri menawarkan pemecahan masalah jangka panjang, dengan senantiasa mengingatkan mereka untuk menjalani hidup yang positif, serta melatih diri dalam mengelola stres.
"Ada yang perlu dilatih yaitu manajemen stres, resolusi konflik, pengembangan karakter supaya lebih positif. Ya kalau mau solusi yang permanen, tanam akar solusi itu yang kuat di dia. Supaya dia lebih bisa melihat hidup yang positif, semua masalah pasti ada jalan. Hidup kan jalan terus," ucapnya.
"Jika dia kontrol di psikolog secara berkala, jangan lupa dia diingatkan bahwa manajemen stres dan resolusi konflik bagi dirinya, menjadi tanggung jawab pribadi. Enggak bisa bergantung sama psikolog terus," lanjut Liza.
Sementara itu terkait banyaknya pemberitaan soal bunuh diri di berbagai media yang mendapat sorotan publik, Liza mengimbau media massa untuk bijak menentukan angle (sudut pandang) isi berita, dalam menyajikan berbagai pemberitaan soal bunuh diri.
"Ada beberapa penelitian, jika angle pemberitaan bunuh diri lebih difokuskan pada upaya pencegahan, penyebab, dan bagaimana upaya mencegah atau mengantisipasinya, itu justru berpengaruh pada penurunan persentase kasus bunuh diri," ujar Liza.
"Beda halnya kalau yang ditonjolkan adalah ketenaran dan kekerenan si pelaku bunuh diri itu, atau karena bunuh diri jadi tenar. Itu akan memberikan efek bagi orang yang rentan psikisnya, untuk mengikuti itu (bunuh diri)," imbuhnya.
----------------------
Jika Anda membutuhkan informasi terkait depresi atau ingin berbicara tentang isu kesehatan mental lainnya, Anda dapat menghubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat atau mengontak komunitas 'In to the light' untuk mendapat pendampingan di email pendampingan_itl@yahoo.com atau facebook: http://www.facebook.com/intothelightid, Twitter: http://www.twitter.com/intothelightid, Instagram: http://www.instagram.com/intothelightid.
