Saat PT KAI Dapat Lampu Hijau dari DPR untuk Impor KRL Bekas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi KRL. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi KRL. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendapat lampu hijau dari Komisi VI DPR untuk melakukan impor rangkaian kereta rel listrik (KRL) bekas. Persetujuan ini menjadi salah satu solusi transisi yang disiapkan KAI untuk memenuhi kebutuhan operasional KRL Jabodetabek di tengah meningkatnya jumlah penumpang dan keterbatasan armada.

Persetujuan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR bersama Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9).

Sebelumnya, KAI memaparkan sejumlah rencana untuk meningkatkan kapasitas layanan KRL Jabodetabek. KAI menargetkan mampu melayani hingga 2 juta penumpang per hari.

Berikut rangkumannya:

Target Angkut 2 Juta Penumpang per Hari

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR dengan Dirut KAI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan jumlah penumpang KRL Jabodetabek saat ini rata-rata mencapai 1,1 juta orang per hari, termasuk pada akhir pekan. Pada periode puncak, jumlah penumpang bahkan mencapai 1,3 juta orang per hari.

“Pada saat ini, itu rata-rata 1,1 juta penumpang per harinya termasuk dengan weekend, dengan puncak penumpang itu 1,3 juta penumpang per hari. Nah, dengan demikian kita siapkan prasarana yang ada di Jabodetabek KRL ini itu menuju ke 2 juta penumpang per harinya,” kata Bobby dalam RDP bersama Komisi VI DPR, Rabu (23/9).

Untuk mengejar target tersebut, KAI menyiapkan sejumlah pekerjaan prasarana. Salah satunya meningkatkan kapasitas Green Line menuju Rangkasbitung dengan menambah lima gardu traksi dan meningkatkan sembilan gardu lainnya pada 2026.

Dengan peningkatan itu, pada semester I 2027 jalur Green Line ditargetkan dapat dilayani rangkaian kereta 12 gerbong. Saat ini, jalur tersebut masih menggunakan kombinasi rangkaian 8 gerbong dan 10 gerbong.

“Sehingga nanti di semester 1 2027, jalur Green Line ini itu akan bisa dilewati oleh SF12 (rangkaian 12 gerbong) semua. Artinya itu peningkatan 50% daripada saat ini kita masih memakainya SF8 (rangkaian 8 gerbong) dan SF10 (rangkaian 10 gerbong),” ujarnya.

KAI juga akan melakukan rekayasa pada jalur Bogor dengan mengakhiri perjalanan Nambo Line di Stasiun Citayam. Kebijakan tersebut diproyeksikan menambah 22 slot perjalanan ke arah Bogor dan meningkatkan kapasitas Bogor Line lebih dari 30%.

Selain itu, elektrifikasi KRL akan diperpanjang. Pada Bekasi Line, elektrifikasi yang saat ini mencapai Cikarang akan diperpanjang hingga Cikampek sepanjang sekitar 42 kilometer.

“Untuk Bekasi Line itu kita extend, Pak. Dari sekarang itu kita extend sampai Cikampek, itu ada sekitar 42 kilo lagi ke sananya,” kata Bobby.

Sementara pada jalur selatan, elektrifikasi yang saat ini mencapai Bogor akan diperpanjang hingga Cigombong atau kawasan Lido.

“Untuk Bogor Line, kita extend yang sekarang sampai Bogor itu sampai Cigombong. Sampai Lido gitu ya, sampai dengan kawasan Lido,” ujarnya.

Perpanjangan tersebut ditargetkan rampung pada 2028.

“Ya, 2028 harusnya sudah selesai,” kata Bobby saat ditanya Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade mengenai target penyelesaian.

KAI juga berencana meningkatkan sistem persinyalan di jalur Rangkasbitung. Dengan peningkatan tersebut, headway yang saat ini sekitar 10-15 menit ditargetkan dapat dipangkas menjadi 4-5 menit.

kumparan post embed

Kebutuhan 105 Trainset

Ilustrasi para pengguna KRL di Jakarta. Foto: Shutterstock

Di tengah rencana peningkatan kapasitas tersebut, KAI juga menghadapi persoalan ketersediaan armada.

Bobby mengatakan KAI membutuhkan 105 trainset untuk melayani operasional KRL Jabodetabek sepanjang 2026. Namun, jumlah sarana yang tersedia pada awal tahun hanya 102 trainset.

“Kesiapan kebutuhan siap operasi dari trainset itu kami hitung 89 untuk melakukan perjalanan tadi yang jumlahnya 1.065 itu, ditambah dengan ada cadangan. Cadangan itu kita biasa asumsikan itu 3 persen, kemudian perawatan itu 16 persen,” kata Bobby.

“Jadi total kebutuhan trainset kami untuk melayani 2026 dengan angka yang sangat konservatif 1 juta penumpang per hari, itu adalah 105. Jumlah sarana awal tahun kami itu baru 102,” sambungnya.

Kebutuhan armada tersebut meningkat seiring pertumbuhan jumlah pengguna KRL. Jumlah penumpang KRL Jabodetabek pada semester I 2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta,” ujarnya.

Kondisi armada yang tersedia juga menjadi perhatian karena rata-rata usia kereta KAI telah lebih dari 41 tahun. KAI berencana melakukan konservasi atau memensiunkan 13 trainset pada tahun ini.

“Kita ketahui berkali-kali kami sampaikan juga bahwa rata-rata usia dari kereta-kereta kita ini sudah lebih dari 41 tahun,” kata Bobby.

Untuk jangka panjang, KAI memproyeksikan kebutuhan armada KRL Jabodetabek terus meningkat. Pada 2040, jumlah penumpang diproyeksikan mencapai 2,5 juta hingga 3 juta orang per hari.

“Jadi sampai dengan tahun 2040 ini dengan proyeksi 2,5 sampai 3 juta penumpang harian, kita itu sebenarnya untuk KRL Jabodetabek ini kita butuh sekitar 200 trainset untuk penambahan kapasitas,” kata Bobby.

kumparan post embed

DPR Setujui Impor KRL Bekas

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR dengan Dirut KAI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Dalam kesimpulan RDP bersama KAI, Komisi VI menyetujui rencana impor rangkaian kereta bekas untuk memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek.

“Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta, bukan baru, yang terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade dalam kesimpulan rapat.

Andre kemudian meminta persetujuan para peserta rapat atas poin tersebut.

“Setuju?” tanya Andre.

“Setuju,” jawab peserta rapat.

Selain menyetujui impor KRL bekas, Komisi VI juga menyetujui pengadaan sarana perkeretaapian baru maupun bukan baru sebagai solusi transisi.

Dalam kesimpulannya, Komisi VI meminta langkah tersebut tetap dibarengi penguatan sinergi KAI dengan PT Industri Kereta Api (INKA).

KAI juga didorong meningkatkan tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) serta Manufacturing Readiness Level (MRL) INKA hingga proper level 9, baik dari sisi kapasitas, kualitas, teknologi maupun daya saing industri nasional.

kumparan post embed

Sementara itu, Bobby menyampaikan bahwa KAI telah menyiapkan 23 trainset KRL bekas Jepang sebagai bagian dari solusi transisi kebutuhan operasional.

“Jadi tadi kan udah saya sampaikan, itu ada 7 trainset dengan SF 12 plus dengan 16 trainset SF 8. Untuk sebagai transisi kita dulu,” kata Bobby.

Bobby mengatakan pengadaan KRL bekas tersebut ditargetkan dilakukan sesegera mungkin untuk menambah kapasitas operasional KRL yang saat ini dibutuhkan.

“Ya yang namanya segera ya, kan sekarang udah berteriak-teriak. Ya, udah berteriak-teriak ya harus kita tambal dulu operasional kita,” ujarnya.

kumparan post embed

KAI Jawab Masalah AC di KRL

Dirut KAI Bobby Rasyidin usai Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Selain persoalan jumlah armada, Bobby juga menanggapi keluhan penumpang mengenai kondisi KRL yang terasa panas.

Menurut dia, kapasitas pendingin udara (AC) pada KRL baru lebih besar dibandingkan kereta eks Jepang. Kapasitas AC pada kereta eks Jepang berada di angka sekitar 4.200, sedangkan kereta baru produksi China dan PT Industri Kereta Api (INKA) mencapai sekitar 6.000 atau lebih.

“Kalau kita lihat kan kereta-kereta baru kita itu AC-nya, kapasitas AC-nya kan lebih. Kalau kereta ex-Jepang itu 4.200 ya? 4.200, kalau kereta-kereta baru kayak Cina, kemudian INKA itu kan 6.000 ya, 6.000 lebih,” kata Bobby usai RDP.

KAI berencana melakukan peremajaan terhadap KRL bekas Jepang tersebut. Setelah diremajakan, kapasitas AC ditargetkan meningkat.

“Ya, nanti begitu kita remajakan kereta-kereta Jepang ini, semuanya itu kan akan 6.000. Kalau 6.000 sudah enggak gerah lagi lah,” katanya.