Salahkan Korea Selatan Atas COVID-19, Korea Utara Peringatkan Pembalasan

11 Agustus 2022 10:24 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh. Foto: Jorge Silva / Pool / Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh. Foto: Jorge Silva / Pool / Reuters
ADVERTISEMENT
Adik perempuan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, memperingatkan Korea Selatan akan adanya pembalasan lantaran menyebabkan wabah COVID-19 di negara itu pada Rabu (10/8).
ADVERTISEMENT
Korut sejak lama menyalahkan 'hal-hal asing' di dekat perbatasan atas virus corona. Korsel telah membantah klaim-klaim tersebut.
Sebab, Korut sempat membuka perbatasan dengan China demi lalu lintas barang pada Januari. Jumlah infeksi pun melonjak usai parade militer dan acara besar lainnya yang sering kali digelar di Pyongyang.
Namun, Korut justru menunjuk aktivis Korsel sebagai dalang penyebaran COVID-19. Para aktivis negara itu telah menerbangkan balon melintasi perbatasan selama bertahun-tahun.
Aktivis konservatif Korea Selatan meluncurkan balon yang membawa selebaran yang mencela pemimpin Korea Utara Kim Jong Il selama rapat umum di Hwacheon, Korea Selatan. Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Korsel mendistribusikan ratusan ribu selebaran propaganda yang kritis terhadap Kim Jong-un. Korut kerap menyatakan amarah kepada para aktivis. Pihaknya juga mengecam para pemimpin negara yang tidak menghentikan mereka.
Kim Yo-jong kemudian mengulangi klaim tersebut. Dia menggambarkan wabah di negara yang terisolasi itu sebagai 'lelucon histeris' yang dibuat Korsel untuk meningkatkan ketegangan.
ADVERTISEMENT
"Boneka-boneka [Korea Selatan] masih menyodorkan selebaran dan benda-benda kotor ke wilayah kita. Kita harus melawannya dengan keras," tegas Kim, dikutip dari Associated Press, Kamis (11/8).
"Kita telah mempertimbangkan berbagai rencana tindakan balasan, tetapi tindakan balasan kita harus menjadi tindakan pembalasan yang mematikan," lanjut dia.
Park Sang-Hak, pembelot Korea Utara memegang balon berisi selebaran yang mengecam pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Paju , Korea Selatan (26/3/16). Foto: Kim Hong-Ji/REUTERS
Para aktivis tersebut tetap melanjutkan aksi mereka terlepas dari larangan yang mulai berlaku pada 2021. Kim menekankan, tindakan semacam itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kim menggarisbawahi, WHO telah mengakui bahaya penyebaran virus melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi. Korut lantas tengah mempertimbangkan tanggapan bila balon-balon itu masih diterbangkan menuju wilayahnya.
"Sangat mengkhawatirkan bahwa Korea Selatan mengirim selebaran, uang, brosur kotor, dan barang-barang ke wilayah kami," jelas Kim, dikutip dari AFP.
ADVERTISEMENT
"Kami akan merespons dengan memberantas tidak hanya virus, tetapi juga otoritas Korea Selatan," imbuhnya.
Pembelot melakukan propaganda dengan mengirimkan materi propaganda anti-Korut dnegan menggunakan balon udara. Foto: Yonhap via Reuters

Menang Melawan COVID-19

Komentar itu datang ketika Kim Jong-un mendeklarasikan kemenangkan melawan COVID-19. Para pejabatnya tidak menemukan kasus infeksi baru selama hampir dua pekan terakhir.
Sejauh ini, jumlah kematian akibat corona juga mencapai 74 orang di Korut. Kim Jong-un menyebutnya sebagai keajaiban yang tak pernah terjadi dalam sejarah kesehatan dunia.
Pemerintah lantas memerintahkan pelonggaran pembatasan. Pihaknya menginstruksikan pengembalian langkah-langkah pencegahan tingkat normal.
Korut sempat mengeklaim bebas virus corona selama dua tahun. Negara itu baru mengakui wabah pertamanya pada 12 Mei.
Otoritas Kesehatan mengabarkan sekitar 4,8 juta 'kasus demam' dari populasi 26 juta orang. Tetapi, pihaknya hanya mengidentifikasi sebagian kecil dari angka itu sebagai infeksi corona.
Kim Jong-un saat bertemu dengan pejabat militer Korut di Pyongyang, Korea Utara, Jumat (24/6/2022). Foto: KCNA via REUTERS
Penurunan cepat dan tingkat kematian rendah tersebut telah dipertanyakan oleh para ahli. Pasalnya, hampir tidak ada seorang pun di Korut yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19.
ADVERTISEMENT
Sebagian ahli menduga, Korut memanipulasi data yang dipublikasikan. Alhasil, Kim Jong-un mempertahankan kekuasaan absolutnya seiring negara itu mengarungi kesulitan ekonomi.
Bagaimanapun juga, Korut dinilai memiliki salah satu sistem medis terburuk di dunia. Rumah sakit tidak mendapati pasokan lengkap, instalasi rawat intensif (ICU) yang tersedia hanya sedikit, dan tidak ada obat maupun vaksin corona di Korut. Kim Jong-un bahkan rupaya turut menderita COVID-19.