Salam Semua Agama di Mata Para Tokoh

Larangan pengucapan salam untuk semua agama menuai beragam tanggapan dari sejumlah pihak. Ada yang setuju saat berpidato tidak memberi salam dengan cara semua agama. Namun ada pula yang merasa perlu memberi salam dengan cara semua agama. Salah satu pihak yang setuju salam ke semua agama tidak diucapkan adalah Majelis Ulama Indonesia pusat.
"Saya melihat imbauan tersebut sudah tepat dan sudah sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan hadis. Karena di dalam Islam di dalam setiap doa itu, selain ada dimensi muamalah atau hubungan kepada sesama juga. Sangat sarat dengan dimensi teologis dan ibadah," ungkap Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Senin (11/11).
Menurut Anwar, apabila ada orang Islam berdoa selain kepada Allah, akan ada konsekuensinya. Yakni, murka Allah.
"Dan orang yang beriman kepada Allah berdoa dan meminta pertolongan kepada selain Allah, maka murka Tuhan pasti akan menimpa diri mereka," jelas dia.
Anwar menambahkan, oleh karena itu seorang muslim dalam berdoa tidak boleh meminta tolong kepada selain Allah atau kepada Tuhan dari agama lain.
"Cara-cara berdoa seperti ini jelas saja boleh, apalagi UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2 telah jelas-jelas menjamin kita untuk beribadah dan berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan yang kita anut," jelas Anwar yang merupakan petinggi Muhammadiyah itu.
Pendapat berbeda dilontarkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurut Ganjar, masih ada yang lebih substantif dibanding mempermasalahkan salam kebinekaan itu.
"Sebenarnya semua salam itu sama, tidak perlu dipertentangkan," ujar Ganjar saat ditemui di ruang kerjanya di kompleks Gubernuran, Jalan Pahlawan, Semarang, Senin (11/11).
Ganjar menjelaskan, spirit salam semua agama adalah sama. Selama ini, Ganjar juga kerap menyampaikan salam tersebut dalam acara-acara resmi karena memang audiensnya tidak berasal dari satu agama.
Senada dengan Ganjar, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan tak bisa mengikuti imbauan tidak mengucapkan salam untuk semua agama. Sebab menurut Risma, warga Surabaya sangat heterogen. Sehingga salam yang disampaikan untuk menghormati seluruh warga yang menganut agama berbeda-beda.
“Ya enggak apa-apa menghormati orang lain. Menghormati orang lain kok, ya saya sampaikan kan enggak bisa ya (ikuti imbauan MUI Jatim). Aku kepala daerah, wargaku reno-reno (macam-macam agamanya),” ujar Risma di rumah dinasnya Jalan Sedap Malam, Surabaya, Senin (11/11).
Risma menegaskan, Surabaya dikenal dengan masyarakat yang majemuk dan egaliter. Toleransi antar umat beragama, kata dia, dijaga cukup baik oleh warga Kota Pahlawan tersebut. Sehingga imbauan tersebut nampak kurang sesuai untuk diterapkan di Surabaya.
PW Muhammadiyah Jatim juga tak mempermasalahkan salam beda agama. Alasannya, salam yang diucapkan hanya bentuk tegur sapa, sebagai bentuk menghargai yang tak mencampuri urusan akidah.
“Salam lintas agama, sejauh dimaksudkan untuk saling menyapa, tidak masuk ke wilayah akidah, ya ndak apa-apa. Tidak usah ada keharusan, tapi juga tidak usah ada larangan-larangan. Sekadar saling bertegur sapa saja,” ujar Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid saat dihubungi kumparan secara terpisah.
“Tidak apa-apa sejauh dimaksudkan sebagai media bertegur sapa. Saling menghormati, tidak masuk wilayah akidah,” tegasnya lagi.
Nadjib mengatakan, pihaknya menilai tak perlu mempermasalahkan selagi salam tersebut tak menyentuh ranah akidah. Ia memberi padanan hal tersebut laiknya ucapan selamat dalam pesta pernikahan teman berbeda agama.
Sedangkan Ketua MPR Bambang Soesatyo menganggap imbauan tersebut tak diperlukan, dan sebaiknya dikembalikan kepada hak masing-masing individu.
“Jadi dikembalikan ke masyarakat yang menggunakan, yang penting jangan ada larangan, karena itu urusan individu kita dengan Tuhan. Yang terpenting adalah tidak mengganggu keyakinan kita sebagai makhluk yang beragama,” jelas mantan Ketua DPR itu.
Baginya, salam semua agama penting untuk menjaga toleransi beragama. Atas dasar itulah, Bamsoet menilai hal tersebut harus dikedepankan.
Mengenai pro-kontra ini, Menteri Agama Fachrul Razi justru enggan berkomentar. Dia mengaku belum mendengarnya.
"Aduh aku ndak dengar ya. Enggak boleh menanggapi sesuatu yang kita enggak dengar," jelas Fachrul.
Fachrul saat diberi penjelasan oleh wartawan terkait isu salam yang dikeluarkan MUI Jatim itu kembali menyampaikan sikapnya. Dia menolak berkomentar.
"Bapak tidak akan pernah mau menanggapi sesuatu yang Bapak belum dengar," tegas dia.
