Satgas Minta Warga Tak Cemas ke TPS: Pemungutan Suara Beda dengan Long Weekend

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menggunakan hak pilihnya di dalam bilik khusus saat simulasi pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Makassar 2020,  di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (21/11).  Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga menggunakan hak pilihnya di dalam bilik khusus saat simulasi pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Makassar 2020, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (21/11). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO

Pilkada Serentak 2020 akan digelar dua hari lagi pada 9 Desember mendatang. Pilkada ini terus mendapatkan sorotan karena digelar di tengah pandemi virus corona, apalagi di tengah kasus corona yang terus meningkat selama beberapa pekan terakhir.

Jubir Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito meminta masyarakat tidak perlu khawatir datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya. Wiku menyebut pemungutan suara akan berbeda dengan long weekend.

"Saya melihatnya sebagai contoh karena harus dilihat dari pengalaman, pengalaman dengan libur panjang. Itu sudah kita ingatkan untuk hati-hati. Sebelumnya dari 3 libur panjang, kenaikan kasusnya memang beda-beda, semakin ke sini semakin sedikit. Akhirnya orang yang memaksakan berpergian akhirnya menyebabkan kenaikan kasus," kata Wiku, Senin (7/12).

Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito Foto: Dok. BNPB

Wiku yakin masyarakat akan lebih berhati-hati menerapkan protokol kesehatan ketika akan memberikan hak suaranya.

"Ini beda sekali dengan libur. Jadi mereka ini menggunakan hak konstitusi untuk melakukan sesuatu. Kalau cemas dia pasti hati-hati. Kalau tidak cemas, ini bukan seperti liburan yang euforia, jadi dia tetap pastinya memiliki kehati-hatian. Ini adalah pilihan, tapi saya liat kondisi ini yang menentukan masyarakat sendiri," tuturnya.

Wiku pun mengajak masyarakat untuk mendukung Pilkada Serentak 2020 dengan disiplin menegakkan protokol kesehatan. Sebab, salah satu kunci dari keberhasilan Pilkada adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Jadi dengan dua pengalaman itu, justru mengajarkan kita beradaptasi. Kalau libur panjang terbukti penggunaan masker dan jaga jarak turun, ini enggak boleh. Ini harus dikembalikan lagi," tegasnya.

Sejumlah wisatawan keluar dari kendaraannya menunggu kemacetan reda akibat buka tutup jalan Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

"Pilkada dalam proses persiapannya enggak menunjukkan turun itu (pemakaian masker dan jaga jarak). Tapi pasti turun mempengaruhi kalau Pilkada enggak disiplin. Jadi jangan takut tapi disiplin protokol kesehatan saja," lanjutnya.

Menanggapi itu, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan berdasarkan hasil survei terakhir, tingkat partisipasi masyarakat menjelang Pilkada Serentak 2020 masih terbilang cukup tinggi yaitu 74 persen. Namun yang mengkhawatirkan adalah tren penggunaan masker yang semakin menurun.

"Jadi kenapa saya cemaskan itu, dulu ketika harga masker masih mahal, orang-orang masih mau menggunakan masker. Tapi sekarang harga masker sudah murah, tren menggunakan masker itu turun," kata Arief.

Untuk itu, Arief meminta kerja sama Polri untuk menegakkan protokol kesehatan di setiap TPS. Apalagi dalam Peraturan KPU terbaru, masyarakat diwajibkan menggunakan masker dari rumah.

"Mungkin nanti teman-teman kepolisian bisa sambil menegakkan protokol kesehatan. Di peraturan sudah dijelaskan sejak berangkat dari rumah harap menggunakan masker," pungkasnya.

embed from external kumparan