Papua - Ekspedisi Mangrove

Satu Tungku Tiga Batu: Wujud Toleransi Umat Beragama di Fakfak

11 Desember 2019 19:41
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kepala Kampung Air Besar, Fakfak, Halim Syamsu. Foto: Agaton Kenshanahan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Kampung Air Besar, Fakfak, Halim Syamsu. Foto: Agaton Kenshanahan
ADVERTISEMENT
Saat Natal, warga muslim diundang untuk menyalakan lilin di gereja. Begitu pula ketika Hari Raya Idul Fitri, warga Muslim juga mengundang tetangga mereka yang mayoritas Kristen untuk halal bi halal.
ADVERTISEMENT
Begitulah rupa kerukunan umat beragama yang bisa disaksikan di Kampung Air Besar, Fakfak, Papua Barat. Sebuah kampung berpenduduk mayoritas Kristen, namun dipimpin kepala desa dari kalangan minoritas muslim.
“Saat puasa, ada warga kasih makanan ke rumah, kasih pisang. Kalau lebaran, warga saya undang ke rumah, makan-makan,” kata Kepala Desa Kampung Air Besar, Halim Syamsu kepada kumparan, Kamis (5/12).
Dia menceritakan, mayoritas warga Kampung Air Besar merupakan suku asli Papua. Mayoritas merupakan penganut agama Kristen. Berdasarkan data kependudukan Kampung Air Besar, dari total 604 warga, hanya 6 yang beragama Islam. Termasuk, Syamsu yang merupakan blasteran Makassar-Papua.
Plang Gereja di Kampung Air Besar. Foto: Agaton Kenshanahan
zoom-in-whitePerbesar
Plang Gereja di Kampung Air Besar. Foto: Agaton Kenshanahan
Tapi, bagi kepala desa yang menjabat sejak 2015 itu, masalah agama bukanlah yang yang patut dipermasalahkan di daerahnya. Menurut dia, warga tidak pernah merasa tabu untuk dipimpin oleh orang yang berbeda keyakinan.
ADVERTISEMENT
Bagi mereka, perbedaan agama adalah hal yang wajar. Bahkan, dalam lingkup keluarga sekalipun.
“Saya punya saudara Kristen dan Katolik. Cuma saya yang Muslim. Jadi di rumah saya, kalau mau dipakai ibadah Kristen silakan,” katanya.
Kepala Kampung Air Besar, Fakfak, Halim Syamsu. Foto: Agaton Kenshanahan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Kampung Air Besar, Fakfak, Halim Syamsu. Foto: Agaton Kenshanahan
Potret kerukunan juga tampak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam pembangunan gereja yang berjarak sekitar 25 meter dari rumah Syamsu. Sebagai kepala desa, dia cukup aktif ambil bagian.
Caranya, dengan mempercayakan proyek pembangunan desa ke para pemuda gereja. Dengan begitu, upah yang diterima bisa disumbangkan untuk kepentingan pembangunan gereja. Bahkan, para pekerja bangunan juga banyak yang beragama Islam.
Pembangunan Gereja di Kampung Air Besar, Fakfak. Foto: Agaton Kenshanahan
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Gereja di Kampung Air Besar, Fakfak. Foto: Agaton Kenshanahan
Potret toleransi lain terkait urusan adat. Dalam hal ini, warga Kampung Air Besar punya tradisi khusus setiap rampungnya pembangunan rumah atau tempat ibadah. Salah satu ritualnya adalah merokok.
ADVERTISEMENT
Walaupun Syamsu bukan perokok, tapi dia selalu menyulut rokok setiap ada acara adat seperti itu. Rokok yang terbuat dari daun nipah yang mereka kenal dengan sebutan rokok nagari. Syamsu mengaku, merokok demi menghormati adat.
Salah satu anggota Dewan Gereja di Kampung Air Besar, Petrus (48), bilang bahwa adat dan perihal Kristen di desanya tak bisa dipisahkan. Saat peletakan batu pertama pembangunan gereja pun, Syamsu dan warga berbaur merokok dan minum kopi.
“Mulai perjalanan masuk gereja atau injil itu sudah terkait budaya tetua orang di sini. Cara orang menerima berita injil itu mereka bisa sambil cerita-cerita itu, sambil ngopi dan makan pinang,” ucapnya di Kampung Air Besar.
Petrus, Dewan Gereja di Kampung Air Besar, Fakfak. Foto: Agaton Kenshanahan
zoom-in-whitePerbesar
Petrus, Dewan Gereja di Kampung Air Besar, Fakfak. Foto: Agaton Kenshanahan
Petrus bercerita, tingginya nilai toleransi di desanya tak lepas dari filosofi hidup yang dianut masyarakat Fakfak. Yakni semboyan Satu Tungku Tiga Batu yang merupakan representasi falsafah beragama di sana. Kata ‘Tiga Batu’ dalam semboyan tersebut mewakili umat Muslim, Katolik, dan Protestan.
ADVERTISEMENT
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon Saidin Ernas mengatakan, istilah yang melambangkan harmonisasi, toleransi, dan kerukunan ini mulai dipropagandakan sejak 2001 di Fakfak.
“Berbagai usaha untuk memberi legitimasi kultural dan politik terhadap simbol tersebut terus dilakukan agar publik menerima bahwa Satu Tungku Tiga Batu adalah identitas kolektif masyarakat Fakfak,” tulisnya dalam artikel jurnal berjudul ‘Makna Satu Tungku Tiga Batu dalam Dinamika Politik Lokal di Fakfak Papua Barat’ (2015).
Secara filosofis, ‘tungku’ berarti tanah, daerah, atau negeri yang harus dilindungi. Sedangkan ‘tiga batu’ melambangkan tiga sendi kehidupan masyarakat Fakfak. Yakni adat, pemerintah, dan agama.
Bukan cuma itu, “tiga batu’ juga mewakili tiga agama yang ada di Fakfak yaitu Islam, Protestan, dan Katolik. Hal ini dijelaskan oleh Dosen Program Pascasarjana STT Reformed Injili Internasional Daud Alfons Pandie dalam artikel jurnal berjudul ‘Konsep Satu Tungku Tiga Batu Sosiokultural Fakfak sebagai Model Interaksi dalam Kehidupan Antarumat Beragama’.
ADVERTISEMENT
“Konsep (Satu Tungku Tiga Batu) tersebut mendasari pola pikir dan menetapkan soal integrasi sebagai kekuatan persaudaraan etnis Papua, walaupun agama berbeda,” tulis Daud.
Apa yang terjadi di Kampung Air Besar dan Fakfak adalah cerminan kerukunan beragama di wilayah tersebut. Tak heran apabila wilayah Provinsi Papua Barat, memiliki nilai indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang tertinggi di Indonesia.
Laporan tahunan indeks KUB Kementerian Agama 2019 menyebut, Papua Barat memiliki nilai indeks 82,1 persen di atas NTT (81,1 persen) dan Bali (80,1 persen). Indeks ini dilihat dari indikator seperti kerja sama, toleransi, dan kesetaraan dalam masyarakat.
Bersama potensi alam nan elok, kelestarian Bumi Cendrawasih tak mewujud begitu saja. Ada serangkaian praktik adat dan tradisi masyarakat yang turut menjaganya. Simak kisahnya di collection ini dan subscribe agar dapat notifikasi jika ada story baru.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten