SBY: Saya Rada Cemas dengan AI, Harus Ada Protokol How Far Should AI Go

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat. Dia menilai, kemajuan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan manusia untuk mengendalikan arah perkembangannya.

Kekhawatiran itu disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10).

SBY mengatakan, kegelisahan terhadap perkembangan AI juga mulai dirasakan oleh berbagai kalangan di dunia, termasuk para insinyur yang terlibat langsung dalam pengembangan teknologi tersebut.

"Saya rada cemas dengan AI, dan cemas itu hak saya, jangan dimarahi," kata SBY.

Dia mengaku mengikuti diskusi mengenai perkembangan AI di sejumlah negara, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Dari pembahasan tersebut, SBY menangkap adanya kekhawatiran mengenai arah pengembangan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik adalah munculnya kegelisahan dari para pengembang AI sendiri. Mereka dinilai mulai mempertanyakan sejauh mana teknologi tersebut akan berkembang dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia.

"Yang menarik teman-teman, para AI engineers, orang yang otaknya otak bledek itu ya bisa mengembangkan AI itu mengatakan begitu, 'Wah saya kok takut dengan apa yang kami lakukan'," ujarnya.

SBY juga menyinggung adanya pemimpin perusahaan teknologi AI yang mulai menyerukan agar laju pengembangannya diperlambat. Menurut dia, hal tersebut menjadi sinyal bahwa perkembangan AI perlu dibicarakan secara serius, bukan semata-mata dijadikan ajang perlombaan teknologi.

Dia mengingatkan, jika manusia tidak mampu mengendalikan perkembangan AI, bukan tidak mungkin teknologi tersebut justru mengambil alih kendali atas kehidupan manusia.

"If we cannot control AI untuk menjadi makin liar dan bukan itu yang dikehendaki oleh manusia, jangan kaget, jangan menyesal, someday AI will control us all, AI will control humanity," tuturnya.

Karena itu, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan China, untuk membangun kesepakatan bersama mengenai batas-batas pengembangan AI.

Dia menilai persaingan kedua negara untuk menjadi pemimpin dalam penguasaan teknologi kecerdasan buatan tidak boleh berlangsung tanpa kendali. Sebab, dampak dari perlombaan tersebut berpotensi dirasakan oleh negara-negara lain yang tidak terlibat langsung dalam persaingan.

"Harus ada konvensi, harus ada protokol, harus ada konsensus, how far should AI go, menurut saya," kata SBY.

Meski menyampaikan kekhawatiran, SBY tidak menampik bahwa AI dapat memberikan manfaat besar bagi Indonesia. Menurut dia, teknologi tersebut tetap perlu dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pertahanan, hingga perekonomian.

"Indonesia don't worry, kita masih bisa berpikir AI yang betul-betul membawa manfaat bagi pendidikan kita, pertahanan kita, ekonomi kita and so on and so on, termasuk mengatasi perubahan iklim," ujarnya.

SBY menegaskan, penguasaan teknologi menjadi salah satu faktor penting bagi daya saing suatu bangsa. Karena itu, Indonesia perlu mengikuti perkembangan transformasi digital, sembari memastikan teknologi yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dia berharap perkembangan AI tidak hanya berorientasi pada pencapaian teknologi tertinggi, tetapi juga memperhatikan keselamatan manusia dan kepentingan bersama. Menurutnya, tantangan ke depan bukan sekadar menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan memastikan manusia tetap mampu menentukan arah penggunaannya.