Sebelum Bunuh Diri di Kelas, Siswa SMP di Sawahlunto Sempat Pimpin Upacara
·waktu baca 2 menit
Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar, segera cari pertolongan atau klik layanan bantuan Kemenkes www.healing119.id

Siswa SMPN 7 Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar), berinisial BE (15 tahun) ditemukan meninggal di ruang kelasnya pada Selasa (28/10) sekitar pukul 12.00 WIB. Kondisi BE leher terikat dasi di jendela.
Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, mengatakan kasus ini masih dalam penyelidikan kepolisian untuk mencari tahu motif bunuh diri. Meski orang tua menolak autopsi dan jenazah BE sudah dimakamkan Selasa sore.
"Tetap kami lakukan pendalaman dan penyelidikan apa motifnya. Memang, dugaan bukti awal itu bunuh diri," katanya kepada kumparan, Rabu (29/10).
Gorrahman mengungkapkan, kepolisian telah meminta keterangan guru, hasilnya diketahui BE tidak menunjukkan tanda-tanda ada permasalahan. Bahkan sebelum meninggal, BE sempat bertugas menjadi pemimpin upacara di sekolah.
"Tidak ada masalah, pagi sampai siang itu dia tetap belajar normal. Bahkan sebelumnya dia memimpin upacara bendera," ucap Gorrahman.
Begitupun pengakuan orang tuanya. Anaknya itu tidak bercerita soal masalah yang sedang dihadapi.
"Keluarga mengaku anak ini tidak pernah bercerita ada masalah apa pun," katanya.
Gorrahman menyebut, penyelidikan sedikit terkendala karena lingkungan sekolah tidak dilengkapi CCTV. Saksi yang melihat kejadian juga tidak ada.
"Tidak ada CCTV, semua di lingkungan sekolah tidak dilengkapi CCTV. Saat kejadian itu, memang ruangan kelas sedang kosong karena siswa lain sedang berada di laboratorium, anak ini izin ke gurunya untuk ke kelas," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, Asril mengatakan BE merupakan siswa kelas 9. Saat kejadian, siswa lainnya sedang berada di laboratorium.
“Awalnya BE dan siswa-siswa kelas 9 ini belajar di laboratorium. Kemudian BE izin ke guru untuk ke kelas. Lalu sudah ditemukan seperti itu,” kata Asril.
Asril mengungkapkan investigasi juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto.
Investigasi ini, kata dia, dilakukan untuk mengetahui apakah ada dugaan perundungan atau kekerasan.
“Apakah ada bullying, kekerasan, atau lainnya, kami investigasi, sambil menunggu penyelidikan kepolisian juga,” ucapnya.
Siswa ini, lanjut Asril, dikenal pendiam dan tidak banyak bercerita. BE juga dikenal sebagai anak yang cukup berprestasi di sekolah.
“Anaknya pendiam, tidak banyak cerita. Kami terkejut juga, tidak ada masalah. Artinya, dengan kejadian ini tentu sangat besar masalahnya—anak seumur itu berbuat demikian,” imbuhnya.
“Kami sangat berduka dan cukup prihatin dengan kejadian ini,” tandasnya.
