Sebelum Bunuh Diri, Siswa SMP Sawahlunto 2 Hari Bengong di Warung Pulang Sekolah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id.

Foto Bagindo Efan ditunjukkan oleh keluarga. Dok: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bagindo Efan ditunjukkan oleh keluarga. Dok: kumparan

Ada gelagat tidak biasa dari Bagindo Efan (15 tahun), siswa kelas IX SMP Negeri 7 Sawahlunto, Sumatera Barat, sebelum ia ditemukan tewas bunuh diri di dalam kelas pada Selasa (28/10).

Biasanya, para siswa termasuk Bagindo pulang ke rumahnya masing-masing tatkala jam pelajaran selesai.

Tapi pada Sabtu (25/10), Bagindo tidak langsung pulang, melainkan tidur-tiduran di bangku panjang di warung depan sekolah.

Bagian dari warung milik Mak Eli. Dok: kumparan

Warung tersebut milik Mak Eli (70 tahun), yang memasang etalase dagangan di depan rumahnya.

"Senin (27/10—sehari sebelum bunuh diri), sampai ashar. Saya tanya, 'Kenapa enggak pulang? Enggak ada uang?'," kata Eli saat ditemui kumparan, Kamis (30/10).

"Dia bengong, bengong saja. Saya ongkosi Rp 2 ribu," ujar Eli.

Mak Eli. Dok: kumparan

Eli terkejut saat tahu bahwa anak itu—Bagindo—tewas gantung diri di dalam kelas.

Bagindo gantung diri menggunakan 2 dasi yang disambung. Dasi yang dipakai Bagindo adalah milik sahabatnya, Luthfi Aprilio (14), yang sudah jadi teman main Bagindo sejak kecil—dan bersekolah di tempat yang sama.

Pada Minggu (26/10), Bagindo dan Luthfi main ke rumah Fiky Ramandha (14).

Mereka bertiga ini kerap pulang sekolah bareng, naik motor Honda Supra X tua milik Luthfi, berbonceng tiga.

Di rumah Fiky itu mereka mengobrol, bercanda. Tercetus ucapan "Sudah capek hidup" dari mulut Bagindo.

"Sambil mempraktikkan leher dililit pakai dasi," kata Luthfi saat ditemui di sekolah, Kamis (30/10).

Lantaran konteksnya bercanda, baik Luthfi maupun Fiky tidak curiga terhadap Bagindo.

kumparan post embed