Sejak Kapan dan Mengapa Kasus COVID-19 di Malaysia Meroket?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang wanita mengenakan masker dan sarung tangan di dalam kereta Mass Rapid Transit, Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: REUTERS / Lim Huey
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita mengenakan masker dan sarung tangan di dalam kereta Mass Rapid Transit, Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: REUTERS / Lim Huey

2021 menjadi tahun yang tak mudah bagi Malaysia. Negeri Jiran mesti menghadapi kenyataan pahit dengan melonjaknya kasus dan kematian akibat COVID-19.

Di tengah pembatasan kegiatan skala nasional yang diberlakukan sejak 10 Mei hingga 7 Juni, Malaysia mencatatkan penambahan kasus harian hingga di atas 7 ribu pada Kamis (27/5/2021). Kematian akibat COVID-19 bertambah 59 jiwa dalam satu hari.

Kapan dan mengapa kasus COVID-19 di Malaysia terus meroket tanpa henti?

Lonjakan COVID-19 di Malaysia memang telah terjadi berulang kali. Namun, memasuki pertengahan 2021 adalah yang terparah.

Sebelum gelombang corona saat ini, Malaysia berhadapan dengan lonjakan pada triwulan akhir 2020 lalu. Kala itu penyebabnya adalah pelaksanaan pemilu di Negara Bagian Sabah pada September 2020.

“Dalam merumuskan pertimbangan ini, Kabinet memperhitungkan konsekuensi penularan COVID-19 di Sabah usai pemilu pada September,” ujar Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, pada 18 November 2020.

Sejak itu dari Oktober 2020 hingga Februari 2021, tren kasus perlahan-lahan menunjukkan peningkatan. Meski terkadang terdapat penurunan kasus.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menerima dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 di sebuah klinik di Putrajaya, Malaysia, Rabu (24/2). Foto: Malaysia's Information Department/Handout via REUTERS

Malaysia Darurat Nasional

Pada Januari 2021, PM Muhyiddin meminta kepada Sultan Malaysia untuk mengumumkan keadaan darurat nasional. Tertanggal 12 Januari 2021 hingga 1 Agustus mendatang, Malaysia resmi berada dalam keadaan darurat COVID-19. Pembatasan kegiatan masyarakat semakin diperketat, pun pembatasan perjalanan dalam negeri.

Grafik kasus harian COVID-19 Malaysia sejak Januari 2020 hingga Mei 2021. Foto: Reuters COVID-19 Tracker

Pada awal Februari 2021, sempat terjadi peningkatan yang cukup tajam, tetapi kemudian kembali merosot. Kasus harian yang tadinya sempat mencapai 5 ribu kasus, turun menjadi kisaran seribu kasus. Tetapi, tren penurunan tersebut hanya berlangsung sekitar dua bulan.

Mulai awal April, kasus COVID-19 nasional Malaysia kembali menanjak. Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, penambahan kasus harian Malaysia bahkan melampaui angka tertinggi yang pernah dicapai Malaysia pada awal Februari.

Sebagai respons dari lonjakan kasus ini, PM Muhyiddin memberlakukan lockdown skala nasional yang disebut sebagai MCO, sebagai upaya menahan laju penyebaran virus SARS-CoV-2 mulai 10 Mei hingga 7 Juni.

“Malaysia tengah menghadapi gelombang ketiga pandemi yang bisa memicu krisis nasional,” ungkap PM Muhyiddin ketika mengumumkan kebijakan tersebut, seperti dilansir CNN mengutip Bernama.

embed from external kumparan

Tetapi, lockdown yang diberlakukan ini bukan penguncian sepenuhnya, melainkan pembatasan kegiatan yang sangat ketat: penutupan sekolah, work from home (WFH), larangan makan di restoran, hingga pembatasan perjalanan dalam negeri skala nasional, seperti dikutip dari Associated Press.

Pembatasan tersebut dinamai Movement Control Order (MCO).

Kini, menurut Reuters, tingkat keterisian tempat tidur perawatan dan ICU di rumah sakit melampaui 70%. Rasio infeksi virus corona di Malaysia pun merupakan yang tertinggi se-Asia Tenggara, dengan 16 ribu per 1 juta kasus.

Petugas kesehatan Malaysia menggunakan 'thermal scanner' mendeteksi suhu tubuh penumpang yang tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: AFP/MOHD RASFAN

Situs resmi pemerintah Malaysia, covid-19.moh.gov.my, menjelaskan, total jumlah kasus selama gelombang ketiga di Malaysia di bawah pembatasan kegiatan masyarakat (MCO) mencapai 531.057 kasus.

Kasus kumulatif Malaysia hingga kini terhitung 541.224 kasus, dengan total kematian 2.491 jiwa, 0,46% dari jumlah kasus keseluruhan.

Mengapa Terjadi Lonjakan Kasus pada April-Mei?

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, pada Selasa (25/5) lalu menyebutkan bahwa kasus harian COVID-19 Malaysia tengah mengikuti tren eksponensial.

“Peningkatan kasus bermula pada 1 April 2021 dan bisa memicu lonjakan vertikal. Kita harus mempersiapkan keadaan terburuk,” ujar Abdullah dalam akun Twitternya.

X post embed

Kasus mengalami peningkatan di ambang bulan Ramadan, yang dimulai pada 13 April lalu. Sejak 13 April, kasus terus mengalami peningkatan.

Dikutip dari The Straits Times, pemerintah Malaysia sempat mengizinkan dibukanya bazaar makanan selama bulan Ramadan tahun ini setelah ditiadakan di tahun lalu.

Pemerintah juga mengizinkan rumah makan buka hingga pukul 6 pagi setiap harinya, dengan alasan bahwa umat Islam perlu membeli makan untuk sahur.

Nyatanya, kebijakan itulah yang diduga menjadi titik awal meroketnya kasus COVID-19 terburuk di Malaysia.

Kecaman Mahathir

Kondisi ini membuat mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohamad, melontarkan kritik. Tokoh oposisi ini menilai peningkatan kasus disebabkan oleh terlalu percaya diri akibat sempat berhasil menahan laju penyebaran kasus.

“Ketika kita pertama kali diserang [oleh virus corona], negara ini harus menerima pengendalian pergerakan total. Tak ada mobil di jalanan, tak ada pejalan kaki,” ujar Mahathir, Kamis (20/5).

“Setelah satu bulan, kita mengucapkan selamat atas kesuksesan kebijakan tersebut. Kita jadi terlalu percaya diri. Kita percaya, kita tahu bagaimana mengendalikan pandemi. Dan kita menyelenggarakan pemilu di Sabah,” lanjut Mahathir.

Mahathir mengecam pemerintah Malaysia yang tidak belajar sama sekali dan terbuai akan keberhasilan mereka, sehingga menjadi lengah. Ketika ada lonjakan kasus, pemerintah cenderung plinplan.

Masyarakat memakai masker saat berbelanja di pasar Ramadhan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 8 Mei 2021. Foto: Lim Huey Teng/Reuters

Ia berpandangan bazaar yang digelar di awal bulan Ramadan merupakan sumber dari lonjakan kasus corona yang pesat. Ketika bazaar, tentunya orang-orang akan berkumpul di lokasi tersebut dan keramaian akan sulit untuk dihindari.

“Kita tak belajar sama sekali. Bulan Ramadan merupakan bulannya bazaar. Semua orang suka bazaar. Tentu saja, banyak orang yang melihat bazaar sebagai kesempatan untuk memperoleh lebih banyak pemasukan,” beber Mahathir.

Menurutnya, pemerintah tak ingin kehilangan muka di hadapan masyarakat. Itulah mengapa mereka memutuskan untuk mengizinkan bazaar berlangsung di awal-awal bulan Ramadan.

Mahathir Mohamad. Foto: REUTERS/Lim Huey Teng

Tetapi, ketika kasus harian baru melonjak hingga di atas 4 ribu kasus, tiba-tiba saja bazaar Ramadan dilarang beroperasi.

“Ini adalah contoh dari keplinplanan yang tak bisa diterima masyarakat. Para penjual sudah membeli bahan-bahan untuk berjualan selama sebulan penuh. Lalu, mereka harus kehilangan uang mereka, karena tak ada cara lain bagi mereka untuk balik modal,” ujarnya.

Mahathir juga mengingatkan pemerintah untuk mempercepat program vaksinasi nasional dan harus menjangkau orang-orang yang tinggal di perdesaan.

Usulan Lockdown Total Nasional

Kini, sekitar dua pekan usai berakhirnya bulan suci Ramadan, Malaysia masih berjuang menghadapi lonjakan kasus yang setiap harinya terus meningkat.

Malaysia pada Rabu (26/5) melaporkan adanya 12 kasus virus corona varian B.1351 alias varian corona Afrika Selatan di Kedah, Perlis, Selangor, dan Johor.

Mereka juga mendeteksi satu kasus baru varian B.1617, varian corona India, di Labuan. Kehadiran dua virus variant of concern ini tentu saja mengkhawatirkan pemerintah.

Seorang pekerja medis mengumpulkan sampel usap dari seorang wanita untuk diuji penyakit COVID-19 di Kuala Lumpur, Malaysia, (11/5). Foto: Lim Huey Teng/REUTERS

Sultan negara bagian Johor, Sultan Ibrahim Iskandar, bahkan meminta pemerintah pusat untuk melakukan lockdown total nasional jika angka kasus tak kunjung menurun.

Selain itu, ia meminta warga Malaysia untuk lebih disiplin dan menerapkan karantina mandiri, melihat lonjakan kasus harian yang bahkan mencapai di atas angka 7 ribu.

"Oleh karena itu, harus adanya kedisiplinan bagi semua tingkatan masyarakat untuk berkomitmen ke dalam lockdown, dalam rangka mencegah hal terburuk terjadi pada kita. Pemerintah juga harus mempertimbangkan lockdown penuh, jika angka COVID-19 tak menunjukkan tanda-tanda penurunan," tegas Sultan Ibrahim pada Kamis (27/5).

kumparan post embed