Sejarah Jalan Cadas Pangeran, yang Jadi Lokasi Hilangnya Pria asal Sumedang
ยทwaktu baca 3 menit

Pria bernama Yana Supriatna hilang secara misterius di Jalan Cadas Pangeran, Sumedang, pada Selasa (16/11) malam. Ia mengirimkan pesan suara melalui aplikasi WhatsApp kepada istrinya sebelum hilang.
Dalam pesannya itu, Yana mengaku ada warga yang menumpang sepeda motor miliknya. Hingga kemudian, ada suara rintihan mirip menangis. Setelah itu, ponsel Yana tak bisa dihubungi.
Polisi mengatakan sinyal ponsel Yana terakhir terdeteksi di Jalan Cadas Pangeran. Hingga kini, petugas masih mencari keberadaan Yana.
Pencarian dipusatkan di jurang dan sungai di bawah Jalan Cadas Pangeran, dekat dengan Tugu Cadas Pangeran.
Asal mula nama Cadas Pangeran
Dikutip dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sumedang, Cadas Pangeran merupakan jalan sepanjang tiga kilometer yang menghubungkan Sumedang dengan Bandung. Jalan tersebut dibangun pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1809.
Nama jalan itu merupakan simbol protes dari Bupati Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX, yang menentang pembangunan jalan. Pangeran Kornel, sapaan akrab Pangeran Kusumadinata IX, tak mau warganya diperlakukan seenaknya oleh Daendels.
Bahkan, Pangeran Kornel melakukan tanda tangan menggunakan dengan tangan kiri saat pembangunan jalan tersebut. Kisah ini menjadi simbol di patung yang dipasang di Tugu Cadas Pangeran.
Cadas sendiri, bagi sejumlah kalangan, diartikan sebagai area yang berbukit, seperti area Cadas itu sendiri. Meski begitu, ada pula yang menerjemahkan sebagai sifat yang keras dari Pangeran Kornel karena warganya bekerja rodi untuk membangun jalan itu.
Pangeran Kornel pernah mengancam menantang Daendles one on one. Hingga kemudian, Daendels berjanji warga Sumedang sebagai tenaga cadangan. Janji tersebut diingkari hingga kemudian menimbulkan peperangan. Pasukan Kornel kalah.
Daendels sangat ambisius dalam menyelesaikan jalan tersebut. Karena hal itu bagian dari proyek Jalan Raya Pos sepanjang 1.000 kilometer, dari Anyer hingga Panarukan.
Progres pembangunan Jalan Cadas Pangeran
Dikutip dari Dinas Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, dalam masa kepemimpinan Pangeran Kornel, pembangunan jalan tersebut berakhir pada 12 Maret 1812.
Tahun 1908
Setelah hampir 100 tahun, di bawah pimpinan Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekah), jalan baru, yang berlokasi di bagian bawah Jalan Raya Pos Daendels dibangun pada 1908. Kondisi jalan itu berupa tanjakan dan belokan yang cukup banyak. Jalan itu kemudian dikenal dengan Jalan Cadas Pangeran Bawah.
Tahun 1990-an
Jalan Cadas Pangeran Bawah tak lagi mampu menampung kendaraan yang semakin ramai. Bahkan, bus dan truk tak bisa berpapasan di tikungan. Hingga akhirnya, pada 1995, pemerintah menghidupkan Jalan Cadas Pangeran Lama.
Sayangnya, rencana itu berakhir menjadi bencana. Longsor terjadi di lokasi karena pengerukan tanah di lereng jalan lama. Akibatnya, jalur dari Sumedang ke Cirebon dan Bandung terputus. Hingga akhirnya pelebaran jalan itu dibatalkan.
Pelebaran akhirnya dilakukan di Jalan Cadas Pangeran Bawah dengan sistem Road Contilever Construction. Kini, jalan tersebut menjadi lebar hingga 12 meter. Kendaraan pun bisa leluasa melintas.
