Sejarah Uighur, Etnis Asli Xinjiang yang Diduga Didiskriminasi China

Nasib etnis minoritas Uighur di Xinjiang China terus menjadi misteri. Beberapa lembaga HAM terkemuka menyebut, ratusan ribu warga Uighur ditahan di detensi khusus dan mendapat penyiksaan.
Kabar itu dibantah keras oleh pemerintah China. Negeri Tirai Bambu menyatakan, warga Uighur tak ditahan, mereka malah mendapat pendidikan vokasi.
China berdalih pemberian pendidikan vokasi termasuk pembelajaran bahasa Mandarin dan beberapa keterampilan ditujukan demi memberikan kemampuan bekerja dan mencegah ekstremisme dan terorisme berkembang.

Walau sudah ada bantahan, kabar bahwa China berlaku diskriminatif memicu unjuk rasa di Indonesia. Yang paling anyar pada Jumat (21/12), massa pengunjuk rasa berdemo di depan Kedutaan China di Jakarta menentang perilaku diskriminatif tersebut.
Etnis Uighur memang berbeda dengan etnis lain-lain di China daratan. Selain mayoritas Islam, secara budaya Uighur lebih dekat dengan negara-negara di Asia Tengah lainnya.

Beberapa peneliti menyebut, Uighur merupakan penduduk asli Xinjiang sebelum masa dinasti penguasa China atau pun negara Republik Rakyat China terbentuk.
Politikus serta sejarawan Uighur, Muhemmed Imin Bughra, dalam bukunya A History of East Turkestan, menekankan bahwa bangsanya adalah keturunan etnis Turki.

Oleh karenanya, berbeda dengan warga China pada umumnya yang berbicara bahasa Mandarin, warga Uighur bahasa lokal Uyghur yang masih satu famili dengan bahasa Turki.
Di China, menurut data yang dikeluarkan Asosiasi Uighur di Amerika, jumlah etnis Uighur mencapai 15 juta orang.

Di masa modern, etnis Uighur memang dikabarkan sangat terpojok. Lembaga HAM Human Rights Watch (HRW) menyebut warga Uighur yang dimasukan ke detensi didoktrin mencintai Partai Komunis dan menanggalkan keislaman mereka.
Mereka dipaksa menghafal lagu-lagu Partai Komunis dan menyanjung Presiden Xi Jinping dengan berlebihan. Jika tidak, mereka akan mendapatkan hukuman fisik maupun mental.
Akibat laporan ini China menuai kecaman dari seluruh dunia. Amerika Serikat telah menyatakan akan menjatuhkan sanksi kepada para pejabat China yang terlibat dalam kamp konsentrasi massal ini.
