Sejarawan Minta Batu Nisan Peninggalan Kerajaan Aceh di Proyek Tol Diselamatkan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan Batu Nisan Kerajaan Aceh Ditemukan di Kawasan Proyek Jalan Tol. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan Batu Nisan Kerajaan Aceh Ditemukan di Kawasan Proyek Jalan Tol. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Puluhan batu nisan diduga berasal dari peninggalan Kerajaan Aceh ditemukan di lokasi proyek pengerjaan Jalan Tol Sibanceh, kawasan Kajhu, Aceh Besar. Kondisi batu nisan itu tak lagi utuh, kebanyakan di antaranya telah tertimbun tanah bekas pengerjaan jalan.

Penemuan nisan itu turut menyita perhatian sejarawan dan arkeolog. Pakar arkeolog yang juga dosen sejarah Universitas Syiah Kuala (USK), Husaini Ibrahim, terkejut dengan penemuan batu-batu nisan tersebut. Ia pun telah mengabarkan penemuan itu ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh untuk bisa ditindaklanjuti dan diselamatkan.

“Itu sudah beberapa hari yang lalu diketahui. Saya sudah menghubungi pihak BPCB, tetapi mereka belum bergerak secara cepat mungkin kekurangan anggota. Tetapi, itu merupakan salah satu kewajiban mereka untuk melakukan pelestarian kalau ada temuan seperti ini. Jadi, kita menunggu saja yang penting jangan sampai hilang,” kata, saat dikonfirmasi Rabu (10/2).

Puluhan Batu Nisan Kerajaan Aceh Ditemukan di Kawasan Proyek Jalan Tol. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Husaini menyebut batu nisan itu milik ulama Aceh terdahulu era abad ke-19 akhir. Bentuk batu nisan berbentuk silinder dan tidak memiliki ukiran. Abad ke-19 itu masuk bagian akhir dari kerajaan Aceh Darussalam kepemimpinan Sultan Muhammad Daud Syah.

“Kalau kita lihat modelnya itu lebih kepada makam ulama. Karena, saya melihat tidak ada tulisan informasi yang menerangkan itu siapa. Biasanya kalau bulat tanpa hiasan itu lebih kepada nisan para ulama,” ujarnya.

Puluhan Batu Nisan Kerajaan Aceh Ditemukan di Kawasan Proyek Jalan Tol. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Menurut sejarah, kata Husaini, makam ulama Aceh terdahulu kebanyakan memang polos. Ulama Aceh dulunya meminta agar batu nisan mereka tidak dihiasi dengan ukiran atau diberikan nama.

“Ulama Aceh dulu memang menganjurkan supaya batu nisannya tidak dihiasi apa-apa. Jadi lebih baik polos,” tutur Husaini.

Husaini mengatakan, ukuran dari batu nisan nisan juga mencerminkan ketokohan orang yang dimakamkan. Jadi, semakin besar batu nisannya, semakin besar pula pengaruh dan ketokohan ulama tersebut.

Puluhan Batu Nisan Kerajaan Aceh Ditemukan di Kawasan Proyek Jalan Tol. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Husaini berharap, temuan batu nisan ini bisa diselamatkan dan pembangunan tol bisa berjalan dengan baik tanpa harus merusak warisan sejarah Aceh.

“Batu nisan ini adalah warisan sejarah yang amat besar bagi generasi muda sekarang dan masa akan datang. Jadi, kita berharap pemerintah harus turun tangan supaya peninggalan seperti itu bisa diselamatkan secara baik. Karena itu salah satu bukti kejayaan kebesaran Aceh masa lalu. Penting sebagai sumber sejarah,” pungkasnya.

kumparan post embed