Selaras dengan WHO, Kemenkes Tegaskan Dosis Ketiga Belum untuk Masyarakat Umum

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI
zoom-in-whitePerbesar
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO baru-baru ini telah meminta sejumlah negara untuk menunda penyuntikan dosis ketiga vaksin COVID-19 kepada masyarakat umum.

Permintaan ini bukan tanpa alasan. Menurut WHO, masih banyak negara khususnya negara dengan berpendapatan rendah yang hingga kini masih kesulitan untuk mengakses vaksin yang adil dan merata. Untuk itu, negara yang memiliki dosis vaksin melimpah seperti Amerika Serikat diminta untuk menunda dulu rencana tersebut.

Apa yang disampaikan oleh WHO ini juga sejalan dengan pernyataan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa sampai saat ini pemerintah masih fokus pada pemberian vaksin dosis lengkap pada masyarakat.

"Sampai saat ini kita masih fokus pemberian vaksinasi dosis satu dan dua ya. Jadi tidak ada rencana dosis ke 3!," kata dr Nadia kepada kumparan, Kamis (5/8).

Capaian vaksinasi Indonesia saat ini masih terbilang jauh dari target. Berdasarkan situs vaksin.kemkes.go.id, per 4 Agustus 2021, baru 21,4 juta penduduk yang mendapatkan vaksinasi secara lengkap. Artinya, baru 7,9 persen dari total penduduk Indonesia.

Saat ditanya mengenai pernyataan WHO tersebut mengganggu jalannya suntikan booster kepada tenaga kesehatan yang tengah berjalan saat ini, ia mengatakan tidak. Sebab, apa yang belum diperbolehkan mendapat dosis ketiga tersebut adalah masyarakat umum.

"Tidak. karena ini kan dosis ketiga untuk masyarakat luas," tambahnya.

Sampai saat ini WHO belum memberikan rekomendasi secara terang-terangan untuk dosis ketiga bagi tenaga kesehatan. Namun telah ada rekomendasi resmi internasional terhadap pemberian suntikan tambahan tersebut. Terlebih karena tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19 dengan risiko terinfeksi yang juga tinggi.

"Ada pembahasan tapi WHO belum ada rekomendasi lebih lanjut. Tetapi ada rekomendasi dari Join Committe on Vaccination & Immunization," tutup dr Nadia.