Semburan Lumpur Gegerkan Warga Kutisari, Surabaya

Warga Kutisari, Surabaya, digegerkan dengan munculnya semburan lumpur yang mengandung gas dan minyak.
Semburan lumpur itu muncul di pekarangan rumah warga di Jalan Kutisari Indah Utara III Nomor 19, Kelurahan Kutisari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Kini titik semburan lumpur telah digaris polisi.
Kepala Pendistribusian Gas PGN Regional 2, Muhammad Munari, mengatakan meski semburan itu mengandung gas, namun pihaknya memastikan hal itu bukan berasal dari jaringan pipa gas PGN.
Sebab jaringan pipa gas PGN, kata Munari, tidak melewati kawasan tersebut. Munari juga belum bisa memastikan penyebab utama adanya semburan lumpur tersebut.
"Di sini tidak ada jaringan pipa gas. Upaya penutupan kami persilahkan ke pihak Pemda atau Pemkot, karena ini bukan wilayah jaringan kami. Kalau ini jaringan wilayah PGN akan kami upayakan untuk penutupan," ujar Munari di lokasi, Selasa (24/9).
Selain itu, Munari juga belum bisa memastikan apakah semburan lumpur itu berbahaya bagi warga sekitar. Namun sebagai langkah antisipasi, Munari menyarankan agar masyarakat menjaga jarak minimal 100 meter dari titik semburan.
"Paling enggak itu untuk menghindari saja, agar orang tidak mengeluarkan api, atau merokok di daerah sekitar sini. Jaraknya tergantung angin dan tekanan. Mungkin sekitar sini kita amankan 100 meteran. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga," terangnya.
Sementara itu pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amin Widodo, mengatakan beberapa kawasan di Surabaya memiliki potensi cadangan migas. Hal itu dapat dilihat adanya usaha pengeboran di Surabaya sejak zaman penjajahan Belanda.
“Di Jawa Timur bagian utara, itu dikenal dengan cekungan migas. Itu sudah terkenal bahwa merupakan daerah banyak migasnya. Itu sudah diusahakan sejak zaman Belanda dulu. Jadi di Surabaya ini sudah ada lapangan minyak milik Belanda sejak zaman 1800-an. Itu ada di Krukah, Wonokromo, Kutisari, ini sampai ke Gunung Anyar,” jelas Amin.
Namun ia belum dapat memastikan apakah munculnya semburan lumpur itu akibat gempa 6,0 magnitudo di Tuban pada Kamis (19/9). Menurut Amin, semburan lumpur itu kemungkinan besar muncul akibat tanah yang retak di musim kemarau.
“Dia bisa keluar kan karena ada retakan. Ini kan musim kemarau kan banyak tanah pecah-pecah itu bisa merembes ke luar. Enggak ada gempa. Tuban kan jauh sekali kedalamannya agak 600 kilometer itu jauh,” terangnya.
“Sekarang kalau itu statusnya sudah abandon (bebas dari pengolahan zaman Belanda hingga sekarang) itu jadi memang kemungkinan dia bisa keluar lagi. Karena minyak di bawah sana itu berproduksi karena dia ada tambahan-tambahan. Sehingga nanti dia ada tekanan lah untuk keluar. Seperti yang terjadi di sini,” imbuhnya.
Amin berharap semburan lumpur itu bisa bisa berhenti dengan sendirinya.
"Jadi memang kalau nanti produksinya abis ya berhenti. Jadi pengalaman di beberapa, di Menjeng dulu tahun 2018 keluar enggak sampai sebulan hilang. Sekarang yang terjadi juga di Gresik. Umumnya enggak sampai sebulan,” tutupnya.
