Seperti RI, Pakistan Juga Lobi Arab Saudi agar Penerima Sinovac Boleh Haji

Arab Saudi mengizinkan 45 ribu jemaah luar negeri mengikuti haji 2021 yang jatuh pada Juli mendatang. Persyaratan telah dirilis, termasuk jemaah haji harus divaksinasi dengan merek vaksin yang disetujui Arab Saudi.
Nah, masalahnya, Arab Saudi hingga kini belum memasukkan vaksin buatan China seperti Sinovac dan Sinopharm, dalam daftar rekomendasi untuk jemaah haji 2021.
Hal ini membuat negara-negara pengirim haji sekaligus pemakai vaksin China melobi Arab Saudi agar diperkenankan tetap memberangkatkan delegasi haji.
"Soal haji, benar bahwa pemerintah Arab Saudi sudah menetapkan ada beberapa jenis vaksin yang akan digunakan sebagai clearance untuk bisa menerima jemaah haji dari beberapa negara. Memang belum satu pun dari vaksin yang kita gunakan sampai saat ini, kecuali AstraZeneca," kata Dirut Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Kamis (20/5/2021).
Sejauh ini, vaksin yang disetujui Arab Saudi untuk jemaah haji 2021 adalah Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Johnson & Johnson.
Lobi-lobi pun terus dilancarkan. Indonesia akan meyakinkan Arab Saudi bahwa vaksin dari pabrikan China yang dipakai Indonesia -- Sinopharm dan Sinovac -- layak sebagai syarat haji.
"Pemerintah kita bisa diplomasi ke Saudi bahwa vaksin yang sudah diberikan kepada masyarakat di Indonesia itu juga bisa untuk vaksin haji," jelas Honesti.
Vaksin Sinopharm sudah mendapat Emergency Use Listing (EUL) dari WHO. Sementara, Sinovac tinggal sedikit lagi mendapat EUL.
Indonesia memakai Sinovac untuk program vaksinasi gratis dan Sinopharm untuk vaksinasi berbayar alias gotong royong. AstraZeneca juga dipakai untuk vaksinasi gratis, yang didapat lewat Fasilitas COVAX yang diinisiasi WHO.
Pakistan Juga Melobi
Selain Indonesia, Pakistan sebagai pengirim jemaah haji terbanyak setelah Indonesia, juga melobi pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Pakistan juga pemakai vaksin Sinovac dan Sinopharm dalam program vaksinasi nasional yang digelar sejak Februari 2021.
“Pemerintah Pakistan telah meminta otoritas Saudi untuk meregister vaksin COVID-19 buatan China untuk haji 2021,” ungkap Perwakilan Khusus Perdana Menteri tentang Kerukunan Umat Beragama Pakistan, Maulana Tahir Ashrafi, seperti dikutip kumparan dari arynews.tv, Minggu (23/5/2021).
Ashrafi telah mendapatkan informasi dari koleganya di Arab Saudi bahwa haji tahun ini hanya diikuti 60 ribu jemaah, dari dalam Arab Saudi dan luar negeri.
Peserta haji berusia 18-60 tahun dan sudah mendapat vaksin dan merek vaksin sesuai yang direkomendasikan Arab Saudi.
Mengutip GulfNews, Pakistan yang berpenduduk 220 juta, sedikitnya telah menerima 11 juta dosis vaksin. Vaksin itu berasal dari lima pabrikan yaitu Sinopharm, CanSino, Sinovac (ketiganya buatan China), Sputnik V (Rusia), dan AstraZeneca yang didapat lewat Fasilitas COVAX yang diinisiasi WHO.
Sebanyak 3,8 juta warga Pakistan telah divaksin, 1 juta di antaranya telah menerima vaksin lengkap berdasar laporan per 17 Mei 2021.
Indonesia dan Pakistan merupakan pengirim delegasi haji terbanyak nomor satu dan dua. Pada tahun 2019, kuota haji Indonesia sebanyak 231 ribu jemaah, sedang Pakistan 189.210 jemaah.
Belum diketahui bagaimana pengaturan kuota haji dari masing-masing negara pada haji 2021.
