Serda Iman Tewas Akibat Tendangan di Dada saat Latihan Bela Diri

Kodam I Bukit Barisan angkat bicara atas meninggalnya Serda Iman Berkat Gea (23), anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 122 Tombak Sakti di tempat tugasnya di Makoyon 122/TS Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada Senin (4/11) lalu.
Kematian Serda Iman sempat dianggap janggal oleh keluarganya. Namun, Kapendam Bukit Barisan, Kolonel Infantri Zeni Djunaidi, menjelaskan Serda Iman meninggal saat terkena tendangan di dada sebelah kiri saat latihan bela diri.
Zeni menuturkan, kejadian tendangan itu terjadi korban sedang latihan dengan rekannya, Pratu Eko.
"Namun yang bersangkutan terkena tendangan pada dada sebelah kiri. Korban sempat bangun, akan tetapi jatuh kembali, kemudian pingsan," ujar Zeni saat dalam jumpa pers di Kodam Bukit Barisan, Selasa (12/11).
Setelah itu, sekitar pukul 17.15 WIB, korban dievakuasi ke klinik kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Setelah mendapatkan penanganan medis, yang bersangkutan jiwanya tidak tertolong dan meninggal dunia," kata Zeni.
Setelah dinyatakan meninggal dunia, Zeni menyebut pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk memulangkan jenazah Iman ke kampungnya di Nias.
Terkait luka memar dan benjolan di bagian belakang kepala Iman seperti yang disangkakan keluarga, Zeni menyebut hal itu terjadi saat korban terjatuh.
"Pada saat (kejadian) dia terjatuh terbentur kepalanya, karenanya ada luka memar di kepalanya," ucap dia.
Untuk menyelidiki lebih lanjut kasus yang menimpa Serda Iman, pihaknya telah membentuk tim investigasi. Termasuk dugaan jika terjadi pelanggaran latihan bela diri.
"Seandainya ada indikasi (kesalahan) prosedur dalam penyelenggaran (latihan), tidak ada prajurit yang kebal hukum. (Peraturan) akan dijalankan sesuai ketentuan hukum," jelas Zeni.
Sementara itu, Kepala Kesdam I/BB Kolonel CKM dr Sutan Bangun menjelaskan terkait luka jahitan di leher sebelah kiri Serda Iman sepanjang 2 cm yang dicurigai keluarga korban.
Menurut Sutan, luka tersebut karena bekas suntikan formalin untuk mengawetkan jenazah.
"Jenazah itu harus diawetkan, maka diputuskanlah pembuatan formalin. Yang paling efektif itu dari pembuluh darah yang ada di leher, (lukanya) paling panjang 2 cm," tutur Sutan.
Wafatnya Serda Iman sebelumnya membuat pihak keluarganya curiga. Keluarga curiga karena melihat banyak luka dan memar.
Pemakaman yang semestinya dilakukan pada Kamis (7/11) lalu batal, karena keluarga minta dilakukan visum.
"Keluarga melakukan visum terhadap jenazah almarhum karena kita melihat ada kejanggalan," kata adik kandung almarhum Angandrowa Gea di Gunungsitoli, dilansir Antara, Sabtu (9/11).
Keluarga Serda Iman juga sangat terpukul karena almarhum merupakan tulang punggung keluarga.
