Simbol Rasis Ditemukan di Fasilitas CIA di Virginia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi simpul gantung. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi simpul gantung. Foto: Shutter Stock

Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA), William Joseph Burns, mengeluarkan peringatan kepada tenaga kerja badan itu pada pekan lalu. Tindakan diambil setelah menemukan simbol rasis di luar fasilitas rahasia CIA di Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat (AS).

Simbol itu ditemukan di dekat fasilitas kecil di sebuah gedung yang turut menampung bisnis dan organisasi lain. Insiden tersebut masih diselimuti oleh berbagai pertanyaan.

Simbol rasis itu merupakan simpul gantung atau tali gantung. Lambang tersebut merupakan pengingat akan sejarah kelam kekerasan rasial terhadap orang Afrika-Amerika di AS.

Praktik hukuman mati tanpa pengadilan menyasar ribuan orang kulit hitam selama 1830-an hingga1960-an. Mereka yang menantang perbudakan kerap menjadi korban hukuman gantung itu.

Sumber CIA mengatakan, mereka belum dapat memastikan bahwa benda yang ditemukan di fasilitasnya adalah simpul gantung. Pelaku yang menaruh objek itu juga belum tentu mengetahui keberadaan badan itu di gedung tersebut.

Disadur dari New York Times, CIA tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan keterlibatan pegawainya. Pihaknya tidak dapat mengkonfirmasi keterlibatan dinas intelijen asing pula.

Kendati demikian, kemunculan objek itu sangat meresahkan. Sehingga, seorang pejabat kemudian melaporkannya. Menanggapi laporan tersebut, Burns menegaskan, CIA tidak akan menoleransi rasisme.

"CIA tidak menoleransi tindakan atau simbol kebencian dan memperlakukan insiden semacam itu dengan sangat serius," jelas Juru Bicara CIA, Susan Miller.

"Nilai-nilai kami dan misi keamanan nasional vital kami menuntut agar kami menjunjung tinggi standar inklusivitas dan keselamatan tertinggi," tambah dia.

Direktur CIA, William Burns. Foto: Al Drago/AFP

CIA telah berupaya meningkatkan keberagaman dalam beberapa tahun terakhir. Presentasi minoritas di badan itu meningkat antara 2019-2020. Namun, orang kulit hitam jarang menempati tingkat senior di CIA.

"CIA adalah mikrokosmos dari populasi asal tenaga kerjanya, jadi seharusnya [insiden ini] tidak mengejutkan siapa pun yang memahami rasisme yang mendalam yang telah meresap ke semua institusi sepanjang sejarah kita," ujar mantan pejabat senior CIA yang merupakan orang kulit hitam, Darrell Blocker.

Sebagian besar aktivitas badan itu berada dalam bayangan. Tetapi, sejumlah insiden kebencian telah terungkap sebelumnya.

Pada 2015, seorang kontraktor paramiliter melaporkan tindak kekerasan. Pria dengan orientasi seksual gay itu mengungkap pola pelecehan yang dilakukan rekan-rekan dalam timnya di CIA.

Mantan analis CIA, Preston Golson, mengaku tidak pernah melihat tindak kebencian rasial terang-terangan di badan itu. Meski begitu, dia menekankan, CIA masih harus meningkatkan keragaman dalam kepemimpinannya terutama dalam posisi utama.

"Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu selama hampir 17 tahun saya [bekerja] di sana," terang pria berkulit hitam itu.

"Kami membutuhkan lebih banyak perwakilan di posisi tingkat tinggi, pekerjaan dalam analisis, operasi. Tetapi ada beberapa kemajuan di situ juga," sambung dia.