Singapura Klaim Sebagai Satu-satunya Negara yang Faskes Belum Pernah Kolaps

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas medis melakukan test swab pada  pekerja migran di Singapura. Foto:  REUTERS / Edgar Su
zoom-in-whitePerbesar
Petugas medis melakukan test swab pada pekerja migran di Singapura. Foto: REUTERS / Edgar Su

Penanganan COVID-19 Singapura diklaim sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Hingga saat ini, total kematian akibat corona mencapai 37 jiwa, sementara kumulatif kasus mencapai 64.314 infeksi.

Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, menyebut kemampuan negaranya dalam mengendalikan COVID-19 sebagai sebuah fenomena yang unik. Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit di Singapura, menurutnya, tak pernah kewalahan akibat corona.

“Ini akan membuat kita, mungkin, satu-satunya negara di dunia, yang belum pernah mengalami kolaps pada fasilitas kesehatan maupun tingkat kematian yang tinggi, dan di saat yang bersamaan, mencapai tingkat vaksinasi yang sangat tinggi pada populasi kita,” ujar Ong pada Selasa (27/7), seperti dikutip dari The Straits Times.

kumparan post embed

Per Senin (26/7), Singapura mencatat penambahan kasus harian sebanyak 135 infeksi. Sebagian besar kasus baru ini terkait dengan dua klaster besar, yakni klaster pelabuhan ikan Jurong dan tempat karaoke (KTV).

Mengutip data dari situs resmi Kemenkes Singapura moh.gov.sg/covid-19, saat ini kasus aktif berada di angka 1.660 orang, dengan 1.109 diisolasi di fasilitas komunitas, 549 dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil, dan 2 orang dalam kondisi kritis.

Petugas medis membantu pekerja migran naik ambulans di Singapura. Foto: REUTERS / Edgar Su

Menurut Our World in Data, case fatality rate atau rasio kematian kasus akibat COVID-19 Singapura masih berada di angka 0,06%. Case fatality rate adalah angka kematian terkonfirmasi dibagi dengan angka kasus konfirmasi.

Sementara, jumlah dosis vaksin yang sudah disuntikkan mencapai 7.192.180 dosis. Dari data per Minggu (25/7), sebanyak 74,2% dari 5,7 juta populasi Singapura sudah divaksinasi dosis pertama. Artinya, sekitar 4,2 juta warga sudah disuntik satu dosis.

Sementara, jumlah penerima vaksin dosis penuh mencapai sekitar 53% dari total populasi, atau sekitar 3 juta warga.

Melihat jumlah kasus yang terkendali bersamaan dengan cepatnya vaksinasi, Ong mengatakan, fenomena ini unik. Bahkan di antara negara-negara dan wilayah yang memiliki akses vaksin COVID-19 yang baik.

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, memiliki tingkat vaksinasi yang tinggi. Tetapi, kasus COVID-19 mereka meroket dalam beberapa waktu belakangan.

Sementara negara-negara yang memiliki pengendalian corona yang baik dengan jumlah infeksi yang tergolong rendah, seperti Australia dan Selandia Baru, malah kesulitan mengajak warganya untuk mau divaksinasi.

“Keunikan ini disebabkan oleh persatuan bangsa kita, kepercayaan antara satu sama lain, dan antara masyarakat dengan Pemerintahnya,” tegas Ong.

kumparan post embed