Smart Aviation yang Gantikan Susi Air di Malinau: Kami Ajukan Sewa Desember 2021
ยทwaktu baca 4 menit

PT Smart Cakrawala Aviation atau Smart Aviation akhirnya berkomentar terkait polemik pengusiran paksa pesawat maskapai Susi Air dari hanggar Bandara Malinau, Kalimantan Utara, oleh aparat Satpol PP beberapa waktu lalu.
Direktur Smart Aviation, Winarso, memastikan pihaknya kini berstatus sebagai penyewa resmi dari hanggar Malinau.
Status itu diperoleh berdasarkan kesepakatan yang telah tercapai antara pihak Smart Aviation dan Pemkab Malinau atas pengajuan kontrak pada Desember 2021 lalu. Kontrak tersebut disetujui pada bulan dan tahun yang sama.
"Ya, harusnya dimulai sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2022. Kalau pengajuan, sih, di Desember 2021 karena kita memang mengajukan permohonan untuk sewa hanggar," ujar Winarso saat dihubungi kumparan, Jumat (4/2).
"Ya [pengajuan penyewaan], itu di Desember. Di Desember kita mengajukannya. Mereka memang sudah punya rencana untuk tidak memperpanjang penyewaan yang sebelumnya. Soal akhirnya disetujui atau tidak disetujui itu, kan, pemda yang punya kewenangan, itu 100% milik pemda, kan, itu," sambungnya.
Kendati banyak pihak yang menaruh curiga atas kontrak sewa yang terjalin antara Smart Aviation dan Pemkab Malinau, Winarso memastikan hal itu telah melalui proses yang panjang.
Winarso menjelaskan, pihaknya telah melewati prosedur untuk mencapai kata sepakat dengan Pemkab Malinau dalam penyewaan hanggar.
"Pertama, kita sowan dulu ke bupati tentang keinginan untuk menyewa hanggar, kemudian kita mengajukan suratnya. Ya, sesuai dengan proses saja, sih, karena kita memang beroperasi di sana sudah bertahun-tahun sebelumnya," beber Winarso.
Ia juga menegaskan tak ada pendekatan ilegal yang dilakukan pihaknya seperti yang ditudingkan banyak pihak. Winarso memastikan seluruh proses penyewaan berlangsung sesuai aturan dan tata cara yang berlaku.
"Enggak ada, enggak ada pendekatan yang lama-lama. Kita cuma menunggu aja. Menunggu akhirnya di bulan Desember, bahkan yang menjelang-menjelang itu diberi tahu oke disetujui, gitu," tegasnya.
Smart Sediakan Penerbangan di Malinau
Terkait kekhawatiran akan hilangnya transportasi udara di Malinau setelah perginya Susi Air, Winarso memastikan hal itu tak akan terjadi. Hal itu mengingat Smart Aviation juga menyediakan sejumlah penerbangan yang melayani masyarakat di Malinau dan sekitarnya.
Ia mengatakan, hanggar Malinau disewa lebih kepada kebutuhan-kebutuhan, khususnya bagi pesawat yang membutuhkan perbaikan atau perawatan lebih lanjut.
"Kita sudah beroperasi di Tarakan dan Malinau berapa tahun sebelumnya. Kalau di Tarakan kita selalu stand by pesawat di sana untuk operasi di daerah Nunukan, Long Bawan, Long Apung, terus kemudian Malinau ke Datah Dawai segala macam," ungkap Winarso.
"Itu sudah rutin. Cuma, kan, hanggar diperlukan untuk maintenance gitu, loh. Kalau di Papua, kan, kita juga sudah sewa hanggar juga di mana-mana. Karena kalau maintenance memang memerlukan hanggar, jadi karena ada hanggar di Malinau, ya, kita mengajukan permohonan sewa, gitu," lanjut dia.
Masalah Sewa Menyewa Biasa
Winarso memastikan polemik ini hanya terkait masalah sewa menyewa biasa. Habisnya masa kontrak Susi Air di hanggar tersebut, kata dia, tentu dimanfaatkan pihak Smart Aviation untuk maju sebagai penyewa berikutnya seiring dengan adanya kebutuhan hanggar bagi lokasi perawatan pesawat. Khususnya yang beroperasi di wilayah Malinau dan sekitarnya.
"Ini masalah nyewa biasa aja, sih. Jadi pemda memiliki aset, aset itu berupa hanggar, kemudian pemda menganggap bahwa untuk disewa oleh Susi Air sudah berakhir, tidak diperpanjang lagi karena aset ini juga harus tetep bergerak, harus tetap menghasilkan retribusi untuk pemda," kata Winarso.
"Makanya dia memindahkan hak sewanya kepada Smart Cakrawala Aviation. Sesederhana itu sebenarnya. Cuma, kan, yang diberitakan itu enggak sesuai dengan apa yang terjadi, bahwa ada beberapa tagihan yang tidak dibayar untuk sewanya, gitulah. Itu pemda sudah menjelaskan hal itu," tutupnya.
Sekilas Smart Aviation
Dikutip dari website Smart Aviation, perusahaan ini berdiri pada akhir tahun 2016 dan berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan memiliki dan mengoperasikan 11 pesawat Cessna Caravan 208/208B, satu helikopter Airbus H 130 T2 dan dua pesawat Pilatus PC-6 Porter.
"Kami memiliki dan mengoperasikan bandara pribadi di Singkawang Kalimantan Barat, dan saat ini kami menambah armada kami 3 Pilatus PC6 Porter pada tahun 2022, 4 Cessna Caravan 208B dan berencana untuk membeli satu mesin kembar Cessna 408 SkyCourier," tulisnya.
Smart Aviation dikelola oleh Winarso sebagai direktur dan Pongky Majaya sebagai presdir. Duduk di kursi komisaris adalah Bong Stevi Anggreini dan Fransiskus.
