Soal Potensi Tsunami di Jatim, Tito Minta Pemda Kembangkan Teknologi Antigempa

4 Juni 2021 16:15 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Foto: Dok. Kemendagri
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Foto: Dok. Kemendagri
ADVERTISEMENT
Menteri dalam Negeri Tito Karnavian meminta pemerintah daerah mulai mengembangkan teknologi antigempa di daerah yang masuk zona rawan bencana.
ADVERTISEMENT
Hal ini menyusul analisis kebencanaan BMKG yang memprediksi bakal terjadi megathrust berkekuatan di atas 8 M dan berpotensi memicu tsunami setinggi 29 meter di sejumlah daerah di Jawa Timur, salah satunya di Banyuwangi.
Menurut Tito, tidak ada satu pun yang bisa mencegah terjadinya bencana. Namun, yang bisa dilakukan ialah mengurangi dampak kerusakan, baik kerusakan materiil maupun korban jiwa.
“Dengan kemajuan teknologi saat ini, tentu kita harus melakukan antisipasi-antisipasi (kebencanaan). Karena potensi megathrust itu dampaknya kan luar biasa,” kata Tito dalam kunjungannya ke Kabupaten Banyuwangi, Jumat (4/6).
Mantan Kapolri ini mendorong pemerintah daerah agar mulai mengembangkan teknologi antigempa pada bangunan-bangunan, khususnya di wilayah rawan bencana.
“Saya pikir, ini pemerintah daerah sudah harus mensosialisasikan pembangunan-pembangunan berbasis antigempa. Seperti di Sumatera Barat juga sudah dilakukan. Jadi setiap bangunan yang ada sudah mulai dipikirkan antigempa. Sehingga tidak hancur, ketika sewaktu-waktu bencana datang,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Kemudian terkait potensi tsunami 29 meter yang mengancam pesisir selatan Jawa, Tito meminta pemda mulai kembali menggalakkan penanaman hutan bakau atau mangrove di wilayah pesisir sebagai benteng alami tsunami.
“Untuk wilayah rawan tsunami, ini perlu diantisipasi. Mulai dari upaya pencegahannya. Dilakukan sosialisasi penananaman mangrove mulai sekarang. Mangrove ini tidak hanya sebagai benteng alami, tapi juga bisa memberi dampak ekonomi kepada masyarakat. Karena mangrove menjadi tempat pembibitan ikan,” imbuhnya.
“Juga bersama BNPB membuat alat deteksi dini bencana tsunami di laut. Sehingga ketika ada potensi tsunami bisa cepat diberitahukan. Kemudian alarm system, menggunakan toa-toa di sepanjang pantai yang dibuat permanen agar bisa kuat dalam puluhan tahun. Ketika itu berbunyi, masyarakat sudah tahu harus menyelamatkan diri ke mana,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, Tito mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak perlu panik terkait potensi bencana tsunami tersebut.
“Waspada harus, tapi nggak perlu panik. Indonesia memang ditakdirkan berada pada ring of fire dan Lempengan-lempengan. Sehingga bencana merupakan bagian dari kita sejak ribuan tahun yang lalu. nenek moyang kita juga menghadapi hal yang sama,” tutupnya.
****
Saksikan video menarik di bawah ini: