Sosok Dhio Daffa Si Anak Durhaka di Mata Kerabat: Pembohong hingga Pintar Merayu

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dhio Daffa (22) tersangka pembunuhan orang tua dan kakak kandungnya di Kabupaten Magelang. Foto: Dok. Polda Jawa Tengah
zoom-in-whitePerbesar
Dhio Daffa (22) tersangka pembunuhan orang tua dan kakak kandungnya di Kabupaten Magelang. Foto: Dok. Polda Jawa Tengah

Kakak dari korban pembunuhan Heri Riyani (54) yakni Sukoco (69) mengungkap sosok Dhio Daffa (22) yang membunuh orang tua dan kakak kandungnya di Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Sukoco, Dhio kerap membohongi keluarganya mulai dari mengaku bekerja di PT KAI hingga mengaku memiliki bisnis sendiri.

"Itu anak banyak bohongnya, suka bohong. Ngakunya kerja di KAI, ngakunya gitu, tapi saya juga ndak tahu karena tidak ada buktinya. Suka ngaku ada bisnis ini, bisnis itu," kata Sukoco, Rabu (30/11).

Heri bahkan sempat curhat ke Sukoco soal anaknya Dhio. Salah satunya soal sikap Dhio yang kerap meminta uang dengan alasan untuk keperluan yang tidak jelas.

"Dulu pernah curhat ini harus bayarin Dhio Rp 32 juta perbulan, katanya untuk kursus. Terus ini untuk ini untuk ini. Banyak habisin duit," ujarnya.

kumparan post embed

Kepada orang tuanya, Dhio juga mengaku sebagai mahasiswa di sebuah kampus di Jogjakarta. Namun, keterangan itu juga diragukan.

"Pengakuan kuliah tapi dicari di kampus tidak ada. Ngakunya kuliah di Jogja. Ngakunya gitu," imbuhnya.

Dhio dikenal sebagai anak yang cerdas dan pandai. Sukoco juga mengatakan, Dhio juga pintar merayu orang tuanya.

"Waktu sekolah juga di pandai orangnya pintar dan cerdas. Secara akademis bagus. Orangnya juga pintar merajut kata-kata kepada orang tuanya. Ini juga ada ide pesan sianida, kalau ndak cerdas, ndak mungkin," beber Sukoco.

Ia juga membantah pengakuan Dhio tentang utang dan keuangan keluarga yang ditanggungnya. Ia menegaskan, keluarga korban berkecukupan dan tidak ada masalah keuangan.

Apalagi, ayah Dhio, Abbas Ashar (56) merupakan pensiunan Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Kabupaten Grobogan.

"Enggak mungkin kalau masalah ekonomi, saya tahu mereka sangat mapan. Tidak pernah cerita lagi susah ekonomi atau bagaimana atau punya utang. Menurut saya keterangan Dhio banyak bohongnya. Tingkat kebohongannya sudah melebihi batas," tegas Sukoco.

Sebagai kakak tertua dari korban Heri, Sukoco juga mengatakan keluarga tersebut juga harmonis. Tidak pernah ada cekcok.

Untuk diketahui, Dhio Daffa tega meracun ibu, ayah dan kakak kandungnya hingga tewas. Racun itu dicampur ke dalam kopi dan teh buatannya ibunya.

Ketiga korban mengalami kerusakan di bagian jantung, otak, paru, lambung, tenggorokan karena tingginya dosis racun. Kepada polisi ia mengaku sakit hati dan tak terima karena diminta menanggung beban keuangan dan utang ayahnya. Dhio kini terancam hukuman mati atas kejahatannya.