Standard Chartered Indonesia Bidik Pertumbuhan Kredit 14 Persen

Standard Chartered Bank Indonesia (Stancart) menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini mencapai 14 persen dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan salah satunya akan ditopang dari kerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk layanan perbankan dan promosi investasi.
Chief Executive Officer Stancart, Rino Donosepoetro, mengatakan dengan kerja sama ini Stancart akan membantu BKPM mempromosikan potensi investasi di Indonesia lewat jaringan globalnya yang sudah ada di lebih dari 70 negara.
"Tentunya potensi kredit masuk ke Indonesia akan semakin besar, apalagi setelah S&P memberikan investment grade, investasi akan semakin meningkat," kata Rino di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (31/5).
[Baca juga: BKPM Gandeng Standard Chartered untuk Promosi Investasi]
Adapun bank yang berpusat di London ini mencatat penurunan kredit sebesar 5,62 persen menjadi Rp 25,29 triliun di akhir 2016 dibandingkan posisi 2015 sebesar Rp 26,80 triliun. Dengan asumsi pertumbuhan kredit 14 persen pada tahun ini, maka realisasi kredit akan berkisar Rp 28,83 triliun di akhir 2017.
Dalam kerja sama ini, kata dia, Stancart juga secara otomatis akan menyediakan fasilitas kredit. Selain itu, dia menilai kerja sama akan menambah basis klien dan nasabah dari Stancart.
[Baca juga: Bulan Depan Bunga Kartu Kredit Turun Jadi 2,25 Persen]
"Investasi dari investor asing ini kan banyak sektor seperti infrastruktur, pariwisata. Jadi segala kebutuhan perbankan mereka kita sediakan, kuncinya adalah kolaborasi," jelasnya.
Rino optimistis pertumbuhan 14 persen year-on-year (yoy) bisa tercapai. Untuk porsi segmen bisnis, kata dia, segmen korporasi dan komersial masih akan berkontribusi terbesar, dibanding retail.
"Kita kan ada tiga segmen, korporasi, komersial dan retail. Tahun ini mungkin korporasi dan komersial porsinya 60 persen digabung, lalu 40 persennya retail, terhadap pendapatan," jelasnya.
