Sudaryono: 950 Dapur MBG Terindikasi Tak Higienis, Siap Tutup Permanen

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, bersama Wakil BGN, Agustina Arumsari, dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, (7/8). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, bersama Wakil BGN, Agustina Arumsari, dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, (7/8). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Ada sebanyak 950 dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga belum memenuhi standar higiene dan sanitasi. Dapur-dapur tersebut berpotensi ditutup permanen apabila dinyatakan tidak layak setelah melalui proses evaluasi.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, yang menyatakan pihaknya hingga saat ini telah menerima laporan mengenai ratusan dapur, yang diduga tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi sehingga membahayakan keamanan pangan bagi penerima manfaat.

“Sampai sejauh ini kami mendapatkan laporan ada 950 dapur yang kami curigai sampai dengan hari ini kemungkinan besar tidak layak sanitasi dan higienis yang kemungkinan akan kami umumkan di kemudian hari berapa yang pasti kami tutup secara permanen karena tidak layak secara higienis dan sanitasi,” ungkap Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8).

Sudaryono menegaskan, dapur MBG yang tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi akan dikenai sanksi penutupan permanen. Menurut dia, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) merupakan syarat mutlak bagi dapur untuk tetap beroperasi.

“SLHS ini bukan syarat administrasi, ini syarat mutlak. Manakala dapur itu kemudian tidak layak, ya memang nol. Kalau layak satu. Jadi kalau mau sebagus apa pun secara higienis dan sanitasinya itu kemudian tidak layak, maka harus disuspend permanen, kami tutup dapurnya secara permanen,” tegas dia.

Jurnalis mengambil gambar suasana dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pramaguna Nasional yang ditutup sementara di Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Ia menambahkan, BGN memberikan tenggat hingga 10 Agustus bagi dapur yang telah beroperasi, tetapi belum melengkapi SLHS. BGN juga telah meminta jajaran di daerah memberikan asistensi dalam proses pengurusannya.

Kendati demikian, Sudaryono mengakui proses pemenuhan SLHS di sejumlah daerah terkendala lambatnya penanganan administrasi. Namun, dia tetap menegaskan dapur yang tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi tetap akan ditutup permanen.

“Yang jelas yang tidak layak sanitasi dan higienis pasti kami tutup secara permanen,” pungkasnya.