Survei: 69% Masyarakat Setuju Pandemi COVID-19 Jadi Endemi
·waktu baca 2 menit

Lembaga Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terbaru bertajuk 'Drama Minyak Goreng dan Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Presiden'.
Survei nasional ini digelar secara online pada periode 5-10 Mei 2022. Salah satu poin pada survei tersebut, yaitu 69% masyarakat setuju status pandemi COVID-19 berubah menjadi endemi.
Hasil survei menyebutkan bahwa 55.3 persen masyarakat setuju, 13.7 persen sangat setuju, dan 8.5 persen masyarakat kurang atau tidak setuju.
"Setelah dua tahun (2020 dan 2021) pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat akibat pandemi COVID-19, pada tahun 2022 ini pemerintah melonggarkan kebijakan tersebut sehingga masyarakat diperbolehkan kembali melakukan tradisi mudik lebaran," ucap Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, Minggu (15/5).
Sebelum hasil tersebut diperoleh, masyarakat ditanya alasan paling utama setuju/tidak setuju status pandemi diturunkan menjadi endemi.
Sebanyak 26.8 persen masyarakat menjawab setuju jika pandemi menjadi endemi. Kemudian ada yang menjawab sebagian besar warga sudah 2 kali vaksin 19.9 persen, perekonomian kembali berputar 19.6 persen, seperti flu biasa 8.4 persen, sudah mendapatkan booster 7.6 persen, dan warga jangan ditakut-takuti lagi 5 persen.
Sedangkan jawaban masyarakat yang tidak setuju pandemi menjadi endemi di antaranya COVID-19 sangat berbahaya sebanyak 30.4 persen. Lalu sebanyak 17.1 persen warga pada umumnya tidak patuh prokes, dan masih banyak warga yang belum/tidak mau divaksin sebesar 11.5 persen, serta 0.8 persen menjawab tidak ada lagi bantuan sosial (bansos).
Survei Indikator Politik Indonesia menggunakan metode random digit dialing dalam pemilihan sampel. Dengan teknik tersebut terpilih sampel sebanyak 1.228 responden melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening.
Margin of error survei diperkirakan ±2.9% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simpel random sampling.
