kumparan
search-gray
News19 Mei 2020 17:49

Survei BPS: 72% Responden Jalankan Imbauan Tetap di Rumah

Konten Redaksi kumparan
Survei BPS: 72% Responden Jalankan Imbauan Tetap di Rumah (570986)
Seorang warga berjemur saat kerata api melintas di kawasan Petamburan, Jakarta, Foto: ANTARA FOFO/Syaiful Arif
Badan Pusat Statistik (BPS) membuat survei sosial demografis terkait dampak wabah virus corona di Indonesia. Survei ini meliputi kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan aturan seperti tetap di rumah, pakai masker, hingga physical distancing (jaga jarak).
ADVERTISEMENT
Kabiro Humas dan Hukum BPS, Endang Retno, mengungkapkan sebagian besar responden yang disurveinya telah menjalankan aturan-aturan tersebut.
"Diketahui bahwa 87 persen responden mengaku mengetahui kebijakan physical distancing. Dan 72 persen dari responden telah menjalankan imbauan untuk tetap di rumah," ujar Endang di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (19/5).
Survei BPS: 72% Responden Jalankan Imbauan Tetap di Rumah (570987)
Petugas memasangkan masker gratis dari Pemprov DKI Jakarta. Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta
Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa sudah sebagian besar responden telah menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah tertular virus corona.
Mulai dari rajin mencuci tangan di bawah air mengalir degan sabun, physical distancing, dan menggunakan masker saat keluar rumah.
"Kita liat bahwa 83 persen responden selalu menggunakan masker pada saat keluar rumah. Dan 80 persen responden mencuci tangan 20 detik dengan sabun, dan 63 persen responden selalu menjaga jarak minimal dengan orang terdekat," tuturnya.
Survei BPS: 72% Responden Jalankan Imbauan Tetap di Rumah (570988)
Seorang wanita mencuci tangan Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Menurutnya, hasil survei ini sudah menunjukkan tren positif karena sudah banyak masyarakat sadar akan menjaga imunitas, sehingga terhindar dari virus corona. Akan tetapi, ia mengingatkan pentingnya untuk tetap disiplin menjalankan aturan-aturan tersebut.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, Endang mengatakan, pemerintah juga saat ini terus dituntut untuk membuat kebijakan penanggulangan COVID-19 yang tepat sasaran. Sehingga, dibutuhkan kerja sama dari masyarakat untuk menghasilkan data akurat, yang akan digunakan untuk merumuskan kebijakan.
"Untuk menghasilkan kebijakan yang tepat, dibutuhkan data yang akurat. Tanpa data, maka tak ada informasi. Tanpa informasi, maka tidak akan dapat dibuat kebijakan yang tepat. Dan untuk menghasilkan data akurat dibutuhkan partisipasi yang baik dari masyarakat," tutup Endang.
Dilihat dari https://covid-19.bps.go.id/, survei dari BPS ini dilakukan pada 13-20 April 2020. Namun, tidak dirincikan sudah berapa banyak responden yang mengisi kuesioner yang disediakan.
Responden dapat mengisi kuesioner yang berisikan persepsi perilaku personal, serta menilai aspek sosial demografi dan karakteristik umum selama pandemi corona.
ADVERTISEMENT
=====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white