Takbir dari Puncak Menara Kudus: Menyusuri Langit Malam Idul Adha di Jejak Sunan
ยทwaktu baca 3 menit

Malam di tanggal 9 Zulhijah 1447 Hijriah turun perlahan di Kota Kudus. Di belahan bumi lain, jutaan jemaah sedang berdiam diri di Padang Arafah menunaikan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. Menjadi penanda datangnya Hari Raya Idul Adha.
Sementara di tanah Kudus, gema takbir mulai merambat dari pengeras suara masjid, masuk ke sela-sela angin malam, lalu mengisi lorong-lorong kota tua yang telah ratusan tahun menyimpan jejak dakwah.
Di depan Menara Kudus, malam tidak sepenuhnya sunyi. Sejumlah warga dan peziarah tampak berhenti sejenak, mengabadikan gambar di depan bangunan bata merah yang telah menjadi ikon kota kretek itu. Kilatan lampu telepon genggam sesekali memecah gelap, sementara suara takbir yang saling bersahutan terdengar dari kejauhan.
Namun, suasana malam itu terasa berbeda. Tak seramai hari-hari biasa ketika peziarah memenuhi kawasan religi tersebut. Memasuki area masjid dan kompleks pemakaman, langkah kaki terasa lebih lapang. Hanya tampak beberapa orang yang duduk khusyuk selepas salat, sebagian lagi berjalan pelan menuju makam Sunan Kudus untuk berziarah.
Tak ada keramaian yang berdesakan. Tak ada antrean panjang. Yang tersisa justru kesunyian yang terasa lebih akrab.
Di pelataran masjid, sebuah pintu menuju menara tampak tertutup rapat. Biasanya pintu itu menjadi batas yang hanya dilalui orang-orang tertentu. Namun malam itu, di tengah alunan takbir yang terus menggema, juru kunci menara memberikan izin bagi kumparan untuk masuk.
Gerbang menuju menara ternyata tak sebesar bayangan banyak orang. Tingginya hanya sekitar 150 sentimeter.
Di baliknya terdapat 28 anak tangga sempit yang mengarah ke bagian atas. Dinding-dinding tua di kiri dan kanan berdiri kokoh, menyimpan usia yang telah melampaui beberapa generasi.
Di bagian berikutnya, sebuah pintu kayu berukuran sekitar 100 sentimeter menunggu. Tubuh harus sedikit merunduk untuk melewatinya, seolah mengingatkan siapa pun bahwa memasuki ruang bersejarah kadang tidak cukup hanya dengan langkah kaki, tetapi juga dengan kerendahan hati.
Setelah melewati pintu itu, terdapat tangga lain yang jauh lebih curam. Jumlahnya hanya 12 anak tangga, tetapi jarak antar pijakannya cukup tinggi sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati.
Sesampainya di puncak, lampu-lampu rumah warga terlihat menyala seperti titik-titik kecil di kejauhan. Angin berembus lebih dingin di atas sana, membawa samar-samar suara takbir yang terus hidup dari berbagai arah.
Di puncak menara itu berdiri sebuah beduk besar yang menjadi saksi pergantian zaman. Di sisinya terdapat dua kentongan kayu yang selama ini mengiringi suara beduk. Alat-alat itu masih digunakan hingga kini, dipukul setiap datang waktu salat wajib, meneruskan tradisi yang telah hidup jauh sebelum pengeras suara memenuhi masjid-masjid.
Di atas menara itu, takbir malam Idul Adha terdengar berbeda. Ia tak sekadar suara yang melintas di telinga. Ia terasa seperti gema panjang yang memantul dari bata-bata tua, menembus waktu, lalu turun perlahan ke halaman masjid.
Dan di puncak Menara Kudus, malam itu, langit seperti terasa sedikit lebih dekat.
