Taliban Rebut 2 Kota Penting di Afghanistan, AS dan Inggris Tarik Diplomat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana konsuler di Kedutaan Besar AS di Kabul, Afghanistan. Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Suasana konsuler di Kedutaan Besar AS di Kabul, Afghanistan. Foto: Stringer/REUTERS

Menyusul memburuknya kondisi Afghanistan, Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris berencana mengevakuasi staf dan diplomatnya dari ibu kota Kabul.

Kedua negara Barat itu akan mengirim ratusan tentara demi membantu proses evakuasi staf dan diplomat kedutaan. Langkah itu diambil setelah kota Kandahar dan Herat direbut oleh Taliban.

Dua kota itu adalah wilayah strategis di Afghanistan. Akibat jatuhnya Kandahar dan Herat ibu kota Kabul diprediksi bakal jatuh ke tangan pemberontak Taliban dalam waktu kurang lebih tiga bulan.

Berhasil direbutnya Kandahar dan dan Herat disambut baik Taliban. Kelompok pemberontak itu menyatakan, perebutan kota dibantu warga setempat.

Bantuan warga, kata Taliban, adalah bukti penerimaan rakyat kepada kelompok radikal itu.

Mantan Mujahidin memegang senjata untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam perang mereka melawan Taliban, di pinggiran provinsi Herat, Afghanistan, Sabtu (10/7). Foto: Jalil Ahmad/REUTERS

Memburuknya kondisi Afghanistan menjadi perhatian Menlu AS Antony Blinken dan Menhan AS Llyod Austin. Kedua pejabat tinggi tersebut langsung mengontak Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

Dalam komunikasi tersebut Blinken dan Austin memastikan akan terus mendukung Pemerintah Afghanistan memulihkan keamanan dan stabilitas.

Meski demikian, demi keselamatan warga AS di tanah Afghanistan Blinken dan Llyod memberi tahu Ghani perihal evakuasi. Rencana proses evakuasi akan dimulai pada Jumat (13/8/2021).

"Kami berharap dapat menarik seluruh kehadiran inti diplomatik dalam beberapa pekan," kata jubir Kemlu AS Ned Price seperti dikutip dari Reuters.

Price memastikan, meski ada penarikan diplomat kedutaan tidak ditutup. Meski demikian, pernyataan Price dibantah pejabat senior Kemlu AS yang namanya dirahasiakan.

Diplomat tersebut menegaskan tidak ada jaminan Kedubes AS di Kabul bakal tetap dibuka.

Sementara Pemerintah Inggris, hanya menyampaikan pernyataan singkat mengenai penarikan diplomat dan staf kedutaan. Proses itu akan dibantu 600 tentara yang dikirim langsung dari Inggris.