Tanah Labil Disertai Longsor, Satu Sekolah di Lebak Banten Rusak

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanah yang bergerak usai longsor di Kampung Tegalumbu, Lebak, Banten Foto: Dok. BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Tanah yang bergerak usai longsor di Kampung Tegalumbu, Lebak, Banten Foto: Dok. BNPB

Hujan berintensitas tinggi memicu terjadinya pergerakan patahan tanah, yang berujung terjadi longsor di Kampung Tegalumbu, RT 02 RW 01, Desa Wana Sari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (30/10). Selain hujan, pergerakan tanah juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang labil.

Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, peristiwa pergerakan tanah dan longsor ini berdampak pada bangunan sekolah SMAN 3 Cibeber.

"Dengan kerusakan dua ruang kelas berukuran 8x9 meter, satu ruang perpustakaan berukuran 8x9 meter dan satu bangunan musala," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam keterangannya, Sabtu (31/10).

Bangunan sekolah yang rusak akibat longsor di Kampung Tegalumbu, Lebak, Banten Foto: Dok. BNPB

BPBD Kabupaten Lebak telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, pihak kecamatan, sekolah dan masyarakat setempat guna melakukan pemantauan serta pendataan di lokasi kejadian.

Selain itu, dilaporkan tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kerugian akibat pergerakan tanah dan longsor juga masih dalamm pendataan lebih lanjut.

BMKG Ingatkan Waspada Dampak La Nina

BMKG telah mengeluarkan data prakiraan cuaca yang menyebut hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Banten hingga Sabtu (31/10).

Tanah yang bergerak usai tanah longsor di Kampung Tegalumbu, Lebak, Banten Foto: Dok. BNPB

Selain Banten, prakiraan cuaca serupa juga berlaku untuk sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua.

BMKG juga mengingatkan tingkat intensitas curah hujan selama musim penghujan di penghujung tahun 2020 dan di awal tahun 2021, akan terjadi peningkatan hingga mencapai 40 persen akibat dampak fenomena La Nina.

"Oleh sebab itu, BNPB meminta agar pemangku kebijakan dan masyarakat di daerah dapat melakukan upaya mitigasi bencana, dan segera mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam kaitan pengurangan risiko bencana terkait dampak dari fenomena La Nina, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pergerakan tanah, angin puting beliung dan angin kencang," tutup Raditya.