Tanggapan RS Royal Surabaya soal Cuitan Dokter Aditya: Itu Pendapat Pribadi

kumparanNEWSverified-green

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Cuitan dokter Aditya soal fasilitas RS rujukan COVID-19 di Surabaya viral. Thread tersebut diunggah di akun Twitternya pada Selasa (26/5). Setelah ramai diperbincangkan warganet, beredar surat klarifikasi RS Royal yang ditujukan kepada Wali Kota Surabaya, Tri Risma Harini menanggapi thread tersebut.

Salah satu isi surat tersebut menyebutkan, dokter Aditya merupakan karyawan yang bertugas sebagai dokter jaga di IGD di RS Royal Surabaya. Pihak rumah sakit juga tak bertanggung jawab terhadap apa pun yang menjadi pendapat karyawan di media sosial.

Selain itu, RS Royal juga menyayangkan insiden tersebut. Untuk itu, pihaknya akan melakukan investigasi kepada dokter Aditya.

Surat klarifikasi Rumah Sakit Royal kepada Humas Pemkot Surabaya. Foto: Dok. Istimewa

Juru bicara penanganan COVID-19 RS Royal Surabaya, Dewa Nyoman Sutanaya, membenarkan surat tersebut dilayangkan oleh pihak rumah sakit. Dewa menyatakan, pihak rumah sakit sudah memanggil Aditya dan mengklarifikasi terkait cuitannya.

“Sesuai dengan tertera di press release itu, itu pendapat pribadi yang bersangkutan. Sehingga tidak ada kaitannya dengan rumah sakit, walaupun yang bersangkutan karyawan rumah sakit. Tapi kan pertanggungjawabannya di luar rumah sakit,” kata Dewa saat dihubungi, Rabu (27/5).

Dewa menilai, Aditya salah paham atas bantuan Pemkot Surabaya. Pihaknya menegaskan bahwa Pemkot Surabaya sudah memberikan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada RS Royal. Akan tetapi, ia enggan membeberkan jumlah bantuan yang diberikan.

kumparan post embed

Menurutnya bantuan tersebut diberikan kepada manajemen rumah sakit. Kemudian pihak rumah memberikan bantuan itu kepada tenaga kesehatan.

“Mungkin saat distribusi tidak kebagian dokter yang bersangkutan kegiatan lain. Kan yang dapat APD bukan cuman dokter, perawat nakes yang lain. Mungkin salah paham di situ,” imbuhnya.

RS Royal juga telah memanggil pihak yang bersangkutan. Dokter tersebut juga menyadari akan ketidaktahuannya soal bantuan.

“Karena dia merasa atau berasumsi bahwa dia tidak dapat. Tapi kami dari manajemen yang diberikan bukan kepada orangnya. Tapi, dari rumah sakit,” jelasnya.

Selain itu, pihak RS Royal akan mengkaji kasus ini ke tahap lebih lanjut apabila ditemukan dugaan pelanggaran etik.

“Kami akan tindak lanjuti ketika ada dugaan pelanggaran etik ke komite etik dan hukum rumah sakit,” pungkasnya.

Surat klarifikasi Rumah Sakit Royal kepada Humas Pemkot Surabaya. Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, Koordinator Protokol Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Muhammad Fikser mengatakan bantuan APD dibagi secara merata.

“Perlu kami klarifikasi, pertama kami sudah memberikan bantuan APD kurang lebih 60 ribu lebih yang kami bagi rata,” ungkap Fikser, Rabu (27/5).

Sebelumnya, dokter Aditya membuat thread soal minimnya fasilitas di RS rujukan COVID-19 mulai dari ventilator, ruangan ICU, hingga bantuan APD.

X post embed

Kemudian, cuitan itu ditanggapi oleh Pemkot Surabaya dan menyatakan bahwa sudah mengirim setidaknya 60 ribu APD ke seluruh rumah sakit rujukan di wilayahnya.

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.