Tangis Haru Bukhari saat Mewakili Almarhumah Rina di Panggung Wisuda

Berpakaian rapi mengenakan kemeja abu-abu dan peci hitam, Bukhari (59) berusaha tegar berjalan di atas panggung Auditorium Prof Ali Hasjmy, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Bukhari menggantikan wisuda anaknya, Rina Maharani (23) , yang meninggal dunia 15 hari setelah menjalani sidang skripsi.
“Sabar Pak, ya,” bisik Rektor.
“Karena kesabaran inilah saya bisa kuat, Pak,” jawab Bukhari, sambil memegang erat ijazah putri sulungnya dalam prosesi wisuda hari kedua Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Rina Muharami merupakan mahasiswi program studi Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dia menyelesaikan sidang skripsi 24 Januari lalu. Namun dua hari setelah itu dia jatuh sakit, dokter mengatakan Rina terkena tipes.
Setelah menjalani perawatan selama 15 hari di dua rumah sakit dan sempat koma, Rina tutup usia pada Selasa (5/2) sekitar pukul 04.00 pagi di Rumah Sakit Meuraxa.
Bukhari menceritakan, beberapa hari menjelang proses wisuda, dirinya dihubungi oleh salah seorang dosen Fakultas Tarbyah dan Keguruan. Dia meminta kesediaan Bukhari untuk naik ke atas pentas untuk mengambil ijazah Rina.
Bukhari tidak mendapatkan undangan seperti para wisudawan lainnya. Namun, Bukhari diminta untuk datang lebih awal 30 menit sebelum acara berlangsung.
“Setengah delapan saya sudah tiba di sana. Saya duduk di kursi yang sudah disiapkan. Kemudian disuruh naik ke panggung ketika nama Rina dipanggil untuk ambil ijazah,” ujarnya pada kumparan saat menyambangi rumah Bukhari, di Desa Cot Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar.
Bukhari naik ke atas pentas. Dia masuk dalam barisan para wisudawan mengenakan toga. Ketika nama Rina disebut, Bukhari langsung berjalan sama seperti para mahasiswa lainnya. Dia berhadapan dengan rektor menerima ijazah Rina.
Seketika ruangan hening, seluruh pandangan tertuju kepadanya. Tepuk tangan dan tangisan haru mewarnai seisi ruangan saat pembawa acara menyebut Bukhari mewakili putrinya yang meninggal dunia karena sakit.
“Kenapa saya tegar dan bersedia mengambil ijazah Rina. Karena saya merasakan bangga. Dia sudah memperlihatkan keberhasilannya kepada kami orang tuanya,” ujar Bukhari.
“Walaupun hari kebahagiaan ini tidak sempat dinikmati, dengan kehadiran saya mewakilinya semoga menjadi kenang-kenangan bagi Rina,” kata Bukhari.
Bukhari mengaku tak kuasa menahan tangis saat melangkahkan kaki keluar gedung. Tangisnya benar-benar pecah kala itu. Dia terharu melihat semua orang yang hadir, ketika dirinya turun dari panggung semuanya menangis dan memberikan semangat.
“Saat keluar dari gedung itu saya benar-benar menangis karena melihat semua orang, dosen, dan mahasiswa menangis melihat saya,” katanya.
Perasaan sedih kembali menyelimuti Bukhari saat melihat para wisudawan berfoto dengan keluarganya. Sementara dia hanya memegang ijazah Rina tanpa tidak tahu harus berfoto dengan siapa.
Untuk menyembuhkan rasa kesedihan itu, Bukhari lalu mengajak salah seorang sahabat dekat Rina untuk berfoto dengannya.
“Saya ajak teman dekat Rina yang satu sekolah dengannya di SMA Ali Hasyimi. Saya minta berfoto dengannya. Sebagai kenang-kenangan seolah dia saya anggap sebagai anak sendiri,” kisah Bukhari.
Rina Maharani merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Dia dikenal sebagai anak yang baik dan beprestasi. Selain kuliah, aktivitasnya sehari-hari adalah mengajar anak-anak mengaji.
“Dia anaknya baik sekali tidak pernah membebankan orang tua. Kalau ibunya kasih jajan dia tidak penah mengeluh terima apa adanya, dia anak yang sederhana,” kata Bukhari yang berprofesi sehari-sehari sebagai tukang.
"Sebelum dia meninggal, Rina tidak punya wasiat apa-apa. Tidak pernah bercerita apa pun. Dia anaknya jujur, tabah. Itu yang menjadi kesan bagi kami," kata Bukhari.
