News
·
23 April 2020 14:36

Tegangnya Mudik di Tengah Wabah Corona: Ada Penumpang Batuk-batuk di Pesawat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tegangnya Mudik di Tengah Wabah Corona: Ada Penumpang Batuk-batuk di Pesawat (9787)
searchPerbesar
Suasana di Bandara Halim Perdanakusuma, Kamis (23/4), sehari sebelum larangan mudik. Foto: Dok Istimewa
Presiden Jokowi melarang mudik untuk mencegah penyebaran virus corona dari ibu kota ke berbagai daerah. Larangan mudik itu berlaku per Jumat, 24 April 2020. Namun, Jokowi telah mengumumkannya Selasa, 21 April.
ADVERTISEMENT
Artinya, ada jeda tiga hari sebelum larangan itu resmi diterapkan. Sementara sanksi terhadap orang-orang yang nekat mudik pun baru akan berlaku mulai 7 Mei—dua minggu lagi. Artinya lagi: masih ada waktu.
Rentang waktu itu tak disia-siakan oleh orang-orang yang sudah berniat mudik. Tak heran, sejumlah pengemudi taksi online di Jakarta mendadak kebanjiran pesanan untuk mengantar penumpang ke bandara pada hari Selasa, 22 April. Hanya sehari setelah pemerintah mengumumkan mudik bakal dilarang.
Salah satu penumpang itu adalah Uta—bukan nama sebenarnya. Dia terpaksa mudik karena merasa tertekan di kosannya. Teman-teman kosnya banyak yang masih bekerja ke kantor meski Jakarta telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan meski sektor kerja mereka tak termasuk pada golongan yang dikecualikan untuk tetap bisa bekerja di kantor.
ADVERTISEMENT
Belakangan, beberapa teman Uta di kosan terdengar batuk-batuk pada malam hari. Uta sungguh waswas. Ia yakin akan segera dihinggapi virus corona andai tak keluar dari kosnya. Apalagi, di kosan itu ia berbagi kamar mandi dengan penghuni lain.
Siapa yang bisa jamin teman-temannya yang setiap hari masih pergi-pulang ke kantor itu tak ditempeli virus corona dalam perjalanan? Terlebih, Jakarta adalah episentrum corona.
Uta kalut dan bimbang. Ia ketakutan dan akhirnya memutuskan untuk pulang kampung.
Namun, perjalanan mudik ternyata cukup menegangkan. Kepada kumparan, Uta berbagi kisah:
Saya akan memulai cerita saya dari waktu berangkat ke bandara. Kebetulan saya naik pesawat via Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam perjalanan ke bandara dengan menumpang taksi online, sopir saya terkaget-kaget karena hari itu (Rabu, 22 April) dia tiba-tiba mendapat banyak orderan ke bandara.
ADVERTISEMENT
Saya memberitahunya, mudik bakal dilarang dua hari lagi. Ia lalu ber-“Ooh…” sambil mengangguk mafhum.
Setiba di terminal keberangkatan Bandara Halim jelang sore, saya melihat antrean masuk yang panjang, lebih dari 100 meter. Kebanyakan penumpang membawa banyak barang, juga koper-koper. Mereka akan terbang ke Semarang, Solo, Surabaya, juga Padang dan Bengkulu.
Seorang petugas tampak sibuk mengukur suhu tubuh calon penumpang dan menyebutkan hasilnya keras-keras. Suhu tubuh saya 36,3 derajat. Normal.
Masuk ke ruang tunggu penumpang, sejumlah kursi diberi tanda silang tanda tak boleh diduduki agar para penumpang berjarak satu sama lain, sesuai anjuran physical distancing pemerintah.
Tegangnya Mudik di Tengah Wabah Corona: Ada Penumpang Batuk-batuk di Pesawat (9788)
searchPerbesar
Suasana di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa (21/4), dua hari sebelum larangan mudik. Foto: Dok. Istimewa
Saya memilih deretan kursi yang masih kosong sama sekali, sebab saya merasa takut meski saya dan semua orang di situ menggunakan masker.
ADVERTISEMENT
Mendadak, saya melihat satu petugas di bagian screening barang tidak mengenakan maskernya dengan benar. Dia memakai masker di dagu, bukannya menutupi hidung dan mulut sesuai anjuran WHO.
Saya jadi kesal dan sempat ingin menegurnya, tapi saya urungkan niat itu karena saya khawatir terlibat interaksi dengan siapa pun. Sebab, interaksi sekecil apa pun dapat menimbulkan transmisi virus bila seseorang diam-diam terjangkit corona meski tanpa gejala.
Tegangnya Mudik di Tengah Wabah Corona: Ada Penumpang Batuk-batuk di Pesawat (9789)
searchPerbesar
Suasana di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa (21/4), dua hari sebelum larangan mudik. Foto: Dok. Istimewa
Di ruang tunggu itu, petugas memberi saya—dan calon penumpang lain—selembar kertas kuning dari Kementerian Kesehatan RI yang harus diisi. Kertas itu memuat pertanyaan tentang riwayat sakit dan perjalanan. Terdapat pula lembar yang harus diisi oleh petugas di bandara tujuan tentang kondisi tubuh penumpang setibanya di sama.
ADVERTISEMENT
Tak lama berselang, panggilan untuk menaiki pesawat terdengar. Saya mendapat kursi di dekat jendela (window seat). Semula, saya pikir pesawat tak bakal terisi penuh. Ternyata tidak juga. Memang, semua kursi tengah—dari tiga jejer kursi—dikosongkan, tapi dari depan sampai belakang, kursi-kursi lain terlihat penuh.
Penumpang terdiri dari ragam usia. Ada lansia, dewasa, remaja, anak-anak, hingga balita. Sebelum lepas landas, petugas meminta agar para penumpang yang menunjukkan gejala corona segera melapor.
Tak ada yang melapor. Semua tampak sehat. Dalam hati, saya berdoa agar seluruh penumpang dalam kondisi sehat, bebas COVID-19, dan selamat sampai tempat tujuan.
Saya bagai diuji ketika kemudian seorang pria paruh baya yang duduk sederet dengan saya batuk-batuk. Saya jadi berpikiran buruk, dan berupaya mengenyahkan kecemasan dengan menggunakan hand sanitizer sesering mungkin.
ADVERTISEMENT
Pria tersebut lalu terdengar seperti pilek. Saya kembali waswas dan kembali berdoa. Semoga dia hanya flu biasa dan bukan mengalami gejala corona.
Ketika saya mulai agak tenang, dari kursi belakang terdengar seseorang terbatuk-batuk. Saya kembali khawatir. Mendengar suara orang batuk di tengah pandemi benar-benar bikin risau.
Saat pesawat mendarat di Bandara Juanda, saya memilih keluar paling akhir supaya tidak perlu berdesak-desakan di antrean keluar.
Tegangnya Mudik di Tengah Wabah Corona: Ada Penumpang Batuk-batuk di Pesawat (9790)
searchPerbesar
Seorang penumpang membersihkan tangan dengan hand sanitizer buatan sendiri di bandara, Kamis (23/4). Foto: Dok Istimewa
Di bandara, saya langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Di sana, beberapa petugas menghampiri untuk mengambil formulir kuning dari Kemenkes yang telah diisi para penumpang.
Namun, mereka hanya mengambil kertas itu tanpa melakukan pemeriksaan sebagaimana tertera dalam formulir. Di Juanda juga suhu tubuh saya tidak diperiksa.
Dan bandara itu ramai seperti biasa. Para penyedia jasa travel pun tak kalah ramai menawarkan jasa antar. Mereka tetap agresif mendekati penumpang yang baru datang.
ADVERTISEMENT
Walau saya bilang akan dijemput keluarga, mereka tetap membuntuti. Boro-boro social distancing… Sampai empat orang penyedia jasa travel terus-menerus mendekati saya meski saya sudah menggelengkan kepala.
Huh, memang sih salah saya sendiri kenapa nekat mudik...
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk, bantu donasi untuk atasi dampak corona.