Tekad Nenek Sebatang Kara Asal Tulungagung untuk Haji

Kakinya sudah tak mampu berjalan, lantaran sakit linu dan sering kesemutan. Hanya tangan kirinya yang bisa digunakan untuk beraktivitas. Namun, semangatnya terlihat masih membara.
Rasa bahagia tak terbendung juga nampak dari wajah nenek Sarmi Rukamim (78). Ia merupakan calon jemaah haji kelompok terbang (kloter) 34 dari Embarkasi Surabaya asal Kabupaten Tulungagung.
Sarmi datang ke asrama haji di Surabaya seorang diri, tak ada anak maupun cucu yang menemaninya. Ia masuk dalam calon haji prioritas sejak tahun 2013.
“Ibu saya melahirkan saya dengan keadaan seperti ini (disabilitas),” terang Sarmi di kamarnya di asrama haji, Sukolilo, Kota Surabaya, Rabu (17/7).
“Saya enggak minder dinilai orang seperti apapun nanti. Enggak mikirin omongan orang dengan kondisi seperti ini,” tambahnya.
Sarmi tinggal seorang diri di rumah sederhana, sebatang kara. Kesehariannya merawat peliharaan ayam dan bebek. Selain itu, ia juga bertani seperti pagi dan umbi-umbian untuk kebutuhan sehari-hari.
Demi mewujudkan impiannya memenuhi panggilan ke Tanah Suci, ia telah menjual sawahnya. Sarmi mengatakan sudah tak sanggup lagi membendung panggilan-Nya, terlebih umur semakin menua.
Ia sangat ini menyempurnakan rukun Islam, yakni haji. “Adanya (punya apa pun dijual) saja buat daftar, setelah haji, ya cari (nafkah) lagi,” ujar Sarmi.
Sarmi menuturkan tak menyangka akan segera menunaikan haji. Sebab, sudah berkali-kali ia disarankan untuk menjalankan ibadah umrah daripada berhaji. Alasannya, kondisi kesehatan kurang baik. Namun, Sarmi menolak dan bertekat untuk menunaikan ibadah haji.
“Waktu sakit, saya doa ‘nanti aku gimana ya Allah’. Alhamdulillah gusti Allah memberi sehat. Karena Allah saya diberi sehat sampai sekarang,” lantang Sarmi.
“Yang ngatur rezeki Allah. Bolak-balik tanya ke KBIH, 'kapan aku berangkat-kapan aku berangkat',” imbuhnya.
Di Tanah Suci nanti, ia tak memiliki doa khusus. Ia berharap bisa menjadi haji mabrur agar dapat menjadi bekalnya ketika wafat.
“Pengennya cuma menggenapkan rukun Islam yang kelima. Jadi haji mabrur, jadi bekal buat di akhirat kelak. Yang penting niatnya kuat dan yakin sama Allah bisa berhaji,” tuturnya.
