Tekan Penyebaran Corona, Satgas COVID-19 Kampanyekan Program 3 M hingga Desember

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menggunakan masker beraktivitas di Kawasan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (13/3).  Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga menggunakan masker beraktivitas di Kawasan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (13/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Pemerintah melalui Satgas COVID-19 terus melakukan sejumlah upaya agar kasus penularan virus corona dapat ditekan. Sebab, hingga saat ini, tercatat penambahan kasus harian masih cukup tinggi dan jumlah kasus kumulatif telah menyentuh angka 125.396 orang.

Anggota Tim Komunikasi Satgas COVID-19, Tommy Suryopratomo, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan selama lima bulan terakhir, masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan 3 M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

"Selama lima bulan berbagai macam cara sudah diupayakan, kita sampaikan informasi oleh relawan di media center, media sosial, SMS blast, kita lihat di masyarakat yang terjadi mereka paham 3 M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," kata Suryopratomo dalam diskusi bersama Satgas COVID-19, Minggu (9/9).

"Tapi ada mereka yang tahu tapi tidak dilakukan, ada yang paham tapi tidak mau menerapkan (3 M), ada yang paham tapi tidak disiplin, ada yang paham tapi justru abai dan mendatangi kerumunan," tambahnya.

Contoh iklan agar masyarakat patuh menggunakan masker. Foto: Dok. Satgas COVID-19

Maka dari itu, Suryopratomo menjelaskan diperlukan komunikasi publik yang baik agar mampu mengubah perilaku di samping pemberian edukasi dan sosialisasi secara masif kepada masyarakat. Sebab, jika masyarakat menerapkan 3 M dengan baik, penularan virus corona dapat ditekan dan diminimalisir.

"Harus dilakukan bersama secara serentak di semua level baik pusat sampai daerah sampai RT/RW jadi gerakan kita harus edukasi bersama karena sudah harus ada penindakan dengan terbitnya Inpres aparat mempunyai kewenangan," ucap dia.

"Kita juga membuat protokol agar orang sadar pergi ke pasar, kantor, mal, pakai kendaraan umum apa yang boleh dan tidak ini ujungnya yang kita perlukan, tidak bisa oleh hanya kelompok kita," lanjutnya.

Contoh iklan agar masyarakat patuh menggunakan masker. Foto: Dok. Satgas COVID-19

Demi menyukseskan gerakan 3 M, Suryopratomo memaparkan pihaknya sudah membuat rancangan selama lima bulan ke depan. Di mana masing-masing gerakan akan dikampanyekan secara masif tiap bulannya.

"Kami harap dalam 5 bulan ke depan Agustus sampai Desember ada gerakan bersama dengan komunikasi publik menggunakan semua perangkat dari pusat, daerah, sampai presiden memberikan gerakan luar biasa. Harapan kita perubahan perilaku menjadi pedoman dan jadi lifestyle," jelas dia.

Suryopratomo menuturkan pada Agustus ini, Satgas COVID-19 akan fokus menggencarkan gerakan memakai masker secara masif kepada masyrakat. Kemudian pada September pihaknya akan menggencarkan kampanye mencuci tangan menggunakan sabun.

Contoh iklan agar masyarakat patuh menggunakan masker. Foto: Dok. Satgas COVID-19

Setelah itu, pada bulan Oktober pihaknya akan menggencarkan kampanye menjaga jarak aman. Lalu pada November dan Desember Satgas akan memanfaatkan hari nasional mulai dari hari pahlawan hingga hari ibu untuk mengkampanyekan agar gerakan 3 M diterapkan di masyarakat.

"Gerakan 3 M ini perlu kita lakukan, Pak Doni Monardo sudah sampaikan di pusat daerah juga di BUMN kita harapkan bisa ikut membantu di billboard untuk salah satu kampanye berkaitan 3 M. Billboard yang ada bisa dipenuhi kampanye bukan hanya menarik tapi tematik sesuai keunikan, dan menggunakan bahas yang orang kena," tutur Suryopratomo.

kumparan post embed

Lebih lanjut, Suryopratomo mengatakan gerakan 3 M mau tidak mau harus diterapkan di tengah masyarakat sebagai salah satu langkah antisipasi. Terutama jika terjadi hal yang tidak diinginkan terkait uji klinis yang dilakukan terhadap vaksin corona.

"Kita tidak bisa lakukan pendekatan tunggal hanya bicara vaksin, kita harus kampanye mengubah perihal. Kalau ada sesuatu di vaksin ada delay, kita tetap bisa kendalikan penularan dan itu bisa dicegah dengan perubahan perilaku," tutup dia.