Tembok SDN Tebet Barat 08 Jaksel Roboh, Siswa Belajar Daring Sementara
·waktu baca 2 menit

Tembok SDN Tebet Barat 08, Jakarta Selatan, roboh pada Senin (4/5) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Insiden tersebut terjadi saat kondisi sekolah sepi, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala SDN Tebet Barat 08 Jakarta Selatan, Daryono, mengatakan tembok yang roboh memiliki panjang sekitar 42 meter dan berada di area dekat kantin sekolah.
“Menurut laporan penjaga sekolah yang tinggal di sini, kejadiannya jam 10 malam. Jadi sepi orang, hanya tembok saja yang roboh dekat area kantin,” ujar Daryono saat ditemui di lokasi, Selasa (5/5).
Ia menjelaskan, robohnya tembok diduga dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Kondisi itu menyebabkan turap di bagian bawah mengalami longsor, sehingga tembok di atasnya ikut ambruk.
“Ya ada kemungkinan karena hujan yang cukup tinggi, jadi turap bagian bawah yang pengairan itu longsor, sehingga tembok di atasnya ikut longsor,” jelasnya.
Siswa PJJ Sementara
Akibat kejadian tersebut, pihak sekolah memutuskan kegiatan belajar mengajar pada Selasa (5/5) dilakukan secara Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Keputusan ini diambil demi keselamatan siswa, mengingat masih ada bagian atap yang menggantung dan berpotensi membahayakan.
“Untuk hari ini kami putuskan PJJ, karena saya lihat kondisinya atapnya ada yang masih menggantung, itu cukup berbahaya,” kata Daryono.
Ia menyebut, metode pembelajaran dilakukan secara daring, baik melalui Zoom Meeting maupun penugasan, menyesuaikan dengan materi masing-masing kelas.
Target Pembersihan Selesai Hari Ini
Saat ini, proses pembersihan material robohan masih berlangsung dengan melibatkan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) serta Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, termasuk penggunaan alat berat.
Daryono berharap proses perapian, terutama pada bagian atap yang menggantung, dapat selesai pada hari ini sehingga kegiatan belajar tatap muka bisa kembali normal mulai Rabu (6/5).
“Kalau pekerjaan hari ini kelar dan sudah diratakan, berarti aman, besok semua bisa masuk,” ujarnya.
Namun, jika proses pembersihan belum selesai hingga sore, pihak sekolah mempertimbangkan skema pembelajaran campuran, di mana siswa kelas 4 hingga 6 masuk sekolah, sementara kelas 1 hingga 3 tetap belajar daring.
Terkait perbaikan, Daryono mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah memiliki anggaran pembangunan tembok, namun baru tersedia pada Triwulan III.
Meski begitu, karena kondisi darurat, pembangunan akan segera dilakukan dengan skema dana talangan agar keamanan lingkungan sekolah dapat segera dipulihkan.
“Anggaran sebenarnya ada di Triwulan III, tapi karena ini darurat akan kami segerakan dikerjakan dengan dana talangan, demi keamanan anak-anak,” tuturnya.
