Tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala dan Semboyan Wira Ananta Rudira

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 KRI Nanggala-402.  Foto: Dok. TNI AL
zoom-in-whitePerbesar
KRI Nanggala-402. Foto: Dok. TNI AL

Korps Hiu Kencana tengah berduka. Kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak di laut utara Bali sejak Rabu (21/4) tak kunjung ditemukan. Terkini, KSAL Laksamana TNI Yudo Margono memastikan KRI Nanggala dalam kondisi subsunk alias tenggelam di kedalaman 850 meter.

Kepastian itu didapat dari temuan berbagai serpihan dari kapal yang mengangkut 53 awak itu. Seperti pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, botol oranye pelumas periskop kapal selam, dan alas untuk salat.

"Dengan adanya bukti otentik tersebut, maka pada saat ini kita isyaratkan dari submiss (hilang kontak) menjadi subsunk (tenggelam)," ujar Yudo saat konferensi pers di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada Sabtu (24/4).

Meski KRI Nanggala sudah dipastikan tenggelam, Yudo menyatakan operasi pencarian masih tetap dilakukan. Operasi SAR yang telah berjalan 4 hari itu melibatkan Kepolisian, Basarnas, KNKT, serta beberapa negara sahabat.

Infografik dugaan lokasi terakhir lokasi KRI Nanggala-402. Foto: kumparan

Diharapkan masih ada awak kapal yang selamat meski live support berupa ketersediaan oksigen sudah mencapai batas akhir pada Sabtu (24/4) pukul 03.00 WIB.

Di tengah pencarian KRI Nanggala yang masih berlangsung, media sosial, khususnya Twitter, diramaikan dengan semboyan Wira Ananta Rudira. Bahkan semboyan tersebut masuk dalam jajaran trending di Indonesia.

Wira Ananta Rudira yang berarti Tabah Sampai Akhir merupakan moto Satuan Kapal Selam atau Korps Hiu Kencana yang dibentuk pada 12 September 1959.

Semboyan tersebut dicetuskan almarhum Laksma TNI (Purn) R. P. Poernomo pada 1961. Poernomo merupakan Komandan Divisi Kapal Selam pertama merangkap Komandan RI Tjakra-S01.

KRI Tjakra-S01 bersama KRI Nanggala S-02 ketika itu merupakan 2 kapal selam perdana yang dimiliki Indonesia. Keduanya dibeli dari Uni Soviet pada 1959.

KAL Rejegwesi berlayar di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (24/4/2021). Foto: Zabur Karuru/ANTARA FOTO

Kisah semboyan Wira Ananta Rudira bermula ketika Korps Kapal Selam menggelar lomba design brevet, motto, dan lagu korps. Poernomo kemudian mengikuti lomba membuat moto dengan menggambarkan sifat yang diperlukan awak kapal selam untuk bisa menjalankan yang begitu berat.

Poernomo ketika itu menilai sikap berani, ulet, sabar, tekun, dan tenang tidak cukup. Sehingga Poernomo menilai ada satu kata yang dapat mewakili semua sifat tersebut, tabah.

Sebab menurutnya:

Orang yang tabah tidak akan takut, karena ia berani

Orang yang tabah tidak akan menyerah, karena ia ulet

Orang yang tabah tidak terburu-buru, karena ia sabar

Orang yang tabah tidak akan kehilangan akal, karena ia tenang

Orang yang tabah tidak akan mundur, karena ia teguh

Kapal Angkatan Laut Indonesia tiba untuk bergabung dalam operasi pencarian KRI Nanggala 402 di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/4). Foto: AFP

Namun tabah saja dinilai tidak cukup jika hanya pada permulaan, pertengahan, atau sebelum tugas selesai.

Sehingga menurut Poernomo, tabah harus sampai akhir. Sehingga terciptalah moto Tabah Sampai Akhir. Semboyan tersebut rupanya dipilih panitia lomba sebagai moto Korps Hiu Kencana sejak 16 Maret 1961.

Semboyan itu diabadikan pada prasasti di depan Monumen Kapal Selam, Surabaya, dan kini menjadi pengiring pencarian KRI Nanggala.

***

Saksikan video menarik di bawah ini: