The Club 27: Mereka yang Meninggal di Usia 27 Tahun

Depresi tak pernah pandang bulu. Ia bisa ‘menyerang’ siapapun, entah politisi, bisa juga musisi. Dalam sebuah lansiran Health.com, terdapat 10 profesi yang masuk dalam daftar ‘pekerjaan yang rentan dengan rasa depresi’. Di dalamnya, pekerja kreatif--termasuk musisi-- berada di peringkat nomor lima.
Kepergian vokalis band idola Linkin Park, Chester Bennington yang begitu mendadak dan tragis tentu menjadi tamparan keras bagi para penggemarnya. Siapa sangka? Chester akhirnya memilih untuk gantung diri di rumahnya di California, Amerika Serikat, Kamis (20/7).
Dalam sebuah video yang diunggah laman Facebook Goalcast, Chester menceritakan pengalamannya dalam menghadapi rasa depresi yang acap kali dipicu oleh pikirannya sendiri. Ia berkisah, dirinya merasa begitu gagal dan berantakan.
“Nothing makes me happy. I don’t like anyone, and I even told one of my therapists at one point, I said ‘I just don’t wanna feel anything’, ” kisah Chester dalam video tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bennington memang kesulitan untuk mengelola rasa frustrasinya. Sang vokalis disebut mengalami kecanduan narkotika dan alkohol yang telah dialaminya selama beberapa tahun.
Ia juga mengungkapkan, pemikiran bunuh diri itu kerap muncul sejak ia kecil setelah mengalami pelecehan dan kekerasan.
Rasa frustrasi itu diperkeruh pula dengan kritik pedas yang dilemparkan oleh penggemarnya terkait album ketujuhnya yang berjudul ‘One More Light’ karena dianggap tidak terdengar seperti ‘Linkin Park’.

Menjadi musisi memang butuh perjuangan besar, terutama jika ia menjadi satu-satunya pekerjaan yang diandalkan. Tekanan tersebut pun berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Banyak artis dan musisi andalan yang terjerat dalam kubang depresi, lalu berakhir mati.
Mungkin anda pernah dengar sebutan The 27 Club. Nama ini merujuk pada deretan nama musisi berpengaruh yang meninggal di umur 27 tahun. Ada beberapa nama musisi di dalam daftar The 27 Club, seperti Jimi Hendrix, Jim Morrison, Kurt Cobain, serta Amy Winehouse pun turut masuk ke dalam daftar tersebut.
Penyebab kematian para ‘anggota’ The 27 Club begitu beragam--bunuh diri, overdosis pil tidur, muntah-muntah, hingga akhirnya mati terkapar.
Jimi Hendrix, misalnya. Ia ditemukan mati di sebuah apartemen di London pada 18 September 1970. Kematiannya disebabkan oleh overdosis sembilan resep obat tidur. Disinyalir, Jimi overdosis dan muntah-muntah tak keruan, hingga akhirnya tak sadarkan diri dan tewas.

Kisah lain anggota The 27 Club yang keranjingan obat dan alkohol adalah Janis Joplin. Pelantun lagu Piece of My Heart itu akhirnya tewas lantaran overdosis heroin pada 4 Oktober 1970. Akibat overdosis, ditambah lagi dengan pengaruh alkohol, akhirnya menumbangkan dan mencabut nyawa Joplin di rumahnya sendiri.
The Guardian melansir, tak bisa dipungkiri jika obat dan alkohol telah menjadi sahabat akrab musisi. Efek samping yang menenangkan dan membuat santai menjadi salah satu ‘kebutuhan’ kala si musisi merasa gugup sebelum naik panggung. Ada pula beberapa musisi yang menggunakan kekuatan ‘obat’ untuk menurunkan ‘euforia’ selepas naik panggung.
Nick Drake, misalnya. Ia wafat di usia yang masih begitu muda: 26 tahun. Kematiannya di tahun 1974 itu diakibatkan oleh overdosis anti-depresan. Sementara di tahun 2003, Ellion Smith pun ditemukan wafat setelah menusuk dadanya sendiri karena dipicu rasa depresi dan kecanduan obat.
Tak hanya untuk naik ke atas panggung, para musisi pun kerap menggunakan pengaruh obat dan alkohol untuk menciptakan sebuah karya agung nan melegenda. Kebiasaan ini bahkan menjadi salah satu perhatian besar dalam industri musik. Berbagai lagu dibuat guna menceritakan tentang ‘budaya ngobat’ yang marak di kalangan musisi.
They tried to make me go to rehab I said, no, no, no Yes, I been black But when I come back, you'll know, know, know I ain't got the time And if my daddy thinks I'm fine He's tried to make me go to rehab I won't go, go, go
Penggalan lirik lagu ‘Rehab’ yang dilantunkan Amy Winehouse di atas, misalnya. Lagu itu berkisah tentang seseorang yang depresi dan kecanduan berat akan obat-obatan. Dalam kesehariannya, Amy memang dikenal sebagai salah satu penyanyi sekaligus pecandu berat obat dan alkohol--hingga akhirnya tewas karena kadar alkohol di tubuhnya mencapai 416, jauh dari batas legal.

Mereka yang pada akhirnya berkarier sebagai seorang artis dan musisi memiliki tuntutan untuk memenuhi keinginan dan kesenangan penonton agar karyanya diterima dengan baik dan tentunya tetap dicintai dan diterima oleh para penggemarnya. Namun, menyenangkan hati ribuan bahkan jutaan penggemar rasanya adalah sebuah upaya yang terlalu berat. Upaya itu begitu rentan dengan penolakan, ketidakpuasan, hingga kekecewaan penggemarnya sendiri.
Hingga akhirnya, keinginan untuk terus dicintai dan diterima oleh penggemar menjadi ‘obsesi’ para musisi guna tetap bertahan hidup. Mereka paham, jika karyanya tak melejit, maka pundi uang tak akan pernah terisi untuk kembali mengisi perut dirinya dan keluarga. Sehingga, segala upaya pun akan dilakukan untuk membuat karya terbaik--walau itu berarti menegak alkohol dan mengirup heroin.
Tekanan dari perasaan ingin diterima dan dicintai penggemar itu pun akhirnya berbuah perasaan frustrasi dan depresi. Obat dan alkohol menjadi ‘kawan’ yang diklaim mampu menjadi pelipur lara, meningkatkan kreativitas, lalu memicu penggunanya untuk menggarap mahakarya. Walau akhirnya, kedua obat dan alkohol menjadi salah satu bentuk manifestasi rasa depresi dan frustrasi yang merundung para musisi sepanjang hidupnya.
